Anak Muda Melek Isu Kebangsaan, Tapi Perlu Nyali untuk Aksi Nyata

beritabernas.com – Anak muda di Indonesia dinilai aktif mengikuti perkembangan isu kebangsaan, terutama melalui media sosial. Namun, tingginya keterlibatan di ruang digital belum sepenuhnya diimbangi dengan nyali dan aksi nyata dalam memperjuangkan keadilan sosial.

Data yang disampaikan FX M Christian Putra, Diakon Keuskupan Agung Semarang, menunjukkan sekitar 91 persen anak muda memantau isu politik, mengikuti akun-akun relevan dan terlibat dalam diskusi mengenai berbagai persoalan, mulai dari bencana alam di Sumatera hingga isu pembalakan hutan di Papua.

Fenomena ini menjadi sorotan dalam diskusi bertajuk Scroll, Like, Share tapi Peduli Negeri? yang disiarkan melalui kanal Katolikana TV, Senin 16 Maret 2026 malam. Diskusi menghadirkan Diakon Christian, Putri Artama, mahasiswi Unika Santo Thomas Medan dan Stefanus Mega Panda, Ketua Pemuda Katolik Komcab Merauke.

Diakon Tian-sapaan akrab FX M Christian Putra-mengatakan, media sosial seharusnya tidak hanya menjadi ruang konsumsi informasi, tetapi juga sarana untuk menyuarakan kebenaran. Ia menekankan pentingnya keterlibatan di ruang publik untuk mengawal kebijakan pemerintah dan memperjuangkan hak-hak warga.

Baca juga:

Ia juga mengingatkan bahaya disinformasi yang marak di media sosial. Menurutnya, anak muda perlu bersikap kritis dan tidak sekadar mengikuti arus serta memastikan informasi yang diterima berasal dari sumber yang kredibel.

Selain itu, ia menyoroti stigma terhadap aksi demonstrasi anak muda yang kerap dituduh sebagai aksi bayaran. Narasi tersebut dinilai dapat membingungkan publik sekaligus melemahkan gerakan kritis generasi muda.

Kekhawatiran juga muncul terkait risiko yang dihadapi individu yang berani menyuarakan kritik. Ia menyinggung kasus kekerasan terhadap aktivis, termasuk serangan terhadap Andrie Yunus dari KontraS, sebagai contoh ancaman terhadap kebebasan berekspresi.

Literasi digital dan aksi nyata

Sementara itu, Putri Artama menekankan bahwa keterlibatan anak muda tidak berhenti di dunia maya. Ia mencontohkan aksi nyata orang muda Katolik yang menggalang dana dan menyalurkan bantuan saat terjadi bencana ekologis di Sumatera.

Putri juga mengkritisi berbagai persoalan struktural, seperti lemahnya penegakan hukum, tertundanya pengesahan RUU Perampasan Aset, maraknya korupsi dan kesenjangan akses pendidikan di daerah terpencil.

Ia turut menyoroti fenomena no viral, no justice, di mana penanganan kasus hukum sering kali bergantung pada perhatian publik di media sosial, yang dinilai mencederai prinsip keadilan.

Diakon FX M Christian Putra (kiri), Evifania Buulolo, host (atas) dan Putri Artama, mahasiswi Unika Santo Thomas Medan (bawah). Foto: Screenshot KatolikananTV

Di sisi lain, Diakon Christian melihat sejumlah program pemerintah memiliki potensi positif, seperti Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Merah Putih. Namun, ia menilai pelaksanaan di lapangan perlu pengawasan agar berjalan sesuai tujuan dan tidak merugikan masyarakat.

Ia mencontohkan temuan di sebuah sekolah dasar di Sedayu, Bantul, di mana menu program MBG diberikan dalam kondisi tidak layak konsumsi berupa jagung dan bandeng mentah. Hal ini menunjukkan pentingnya transparansi dan kontrol dalam implementasi kebijakan.

Dalam konteks Gereja, Diakon Tian menyebut dua tantangan utama yang dihadapi Keuskupan Agung Semarang, yaitu upaya menghidupkan kembali sekolah-sekolah Katolik yang dananya lebih sedikit dibanding progam lain, serta meningkatnya fenomena judi online di kalangan anak muda. Ia mendorong kolaborasi antara Gereja, orangtua dan komunitas untuk membuka ruang partisipasi yang lebih luas.

Sementara Stefanus Mega Panda tidak dapat memberikan pendapat akibat  jaringan internet yang lemah di Merauke. Persoalan klasik yang tak kunjung diatasi secara serius oleh pemerintah.

Diskusi ini menegaskan bahwa meskipun anak muda Indonesia semakin sadar terhadap isu-isu bangsa, tantangan utamanya adalah keberanian untuk melangkah dari kepedulian di ruang digital menuju aksi nyata di kehidupan sehari-hari. (*/phj)


There is no ads to display, Please add some

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *