beritabernas.com – Arus Bawah PDI Perjuangan Kota Yogyakarta menyatakan siap bersinergi dan bergerak konkret bersama Ganjar Pranowo dari DPP Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan untuk berpartisipasi menangani dan mengatasi masalah sampah.
Para anggota Arus Bawah PDI Perjuangan Kota Yogyakata memandang bahwa kader dan simpatisan partai tidak boleh hanya hadir dalam momentum elektoral, tetapi juga berperan aktif dalam penyelesaian persoalan riil masyarakat, termasuk masalah sampah.
Komitmen itu disampaikan dalam diskusi dan dialog dengan Ganjar Pranowo di Yogyakarta, Minggu 1 Maret 2026. Menurut M Andre Rinanto dari Arus Bawah PDI Perjuangan Kota Yogyakarta , dalam diskusi itu beberapa komitmen yang siap didorong adalah penguatan edukasi pemilahan sampah dari rumah tangga di tingkat RT/RW.
Selain itu, aktivasi bank sampah dan model ekonomi sirkular berbasis komunitas, kolaborasi dengan komunitas lingkungan dan pelaku UMKM daur ulang serta mendorong inovasi pengolahan sampah organik menjadi kompos dan maggot.
“Bagi kami, ini bukan sekadar agenda teknokratis, melainkan bentuk nyata politik kerakyatan: hadir menyelesaikan persoalan warga secara gotong royong,” kata M Andre Rinanto dalam rilis yang diterima beritabernas.com, Minggu 1 Maret 2026.
Baca juga:
- Dukung Kebijakan Pedestrian Malioboro, Arus Bawah PDI Perjuangan Usulkan Solusi Parkir Berbasis Kampung
- Seruan Pastoral Vikep Jogja Timur dan Barat Terkait Situasi Krisis Sampah Yogyakarta
Dikatakan, sebagai kota pendidikan dan pariwisata, Kota Yogyakarta menghadapi tantangan serius dalam pengelolaan sampah. Berdasarkan berbagai data pemerintah daerah dan laporan publik beberapa tahun terakhir, produksi sampah Kota Yogyakarta berkisar antara 250–300 ton per hari, dengan dominasi sampah rumah tangga. Lebih dari 60% komposisi sampah adalah organik, yang sebenarnya berpotensi diolah menjadi kompos. Ketergantungan pada sistem pembuangan akhir masih tinggi, sementara kapasitas pengolahan di tingkat hulu (TPS3R, bank sampah, dan pengolahan mandiri) belum optimal.
Dampak penutupan dan pembatasan operasional TPA regional beberapa waktu lalu menyebabkan penumpukan sampah di sejumlah depo dan TPS dalam kota. Persoalan ini berdampak langsung pada kualitas lingkungan, kesehatan masyarakat, citra pariwisata, serta beban fiskal pemerintah daerah.
Dalam diskusi itu, Ganjar Pranowo menekankan pentingnya membangun politik solusi. Persoalan sampah, jika ditangani dengan pendekatan partisipatif dan berbasis data, justru dapat menjadi pintu masuk membangun ekonomi rakyat melalui industri pengolahan dan daur ulang.
Arus Bawah PDI Perjuangan Kota Yogyakarta pun menyambut ajakan tersebut dengan penuh tanggung jawab. “Kami siap menjadi bagian dari gerakan bersama untuk menjadikan Yogyakarta lebih bersih, sehat, dan berkelanjutan,” kata M Andre Rinanto dalam diskusi yang diikuti sekitar 40 orang anggota Arus Bawah PDI Perjuangan Kota Yogyakarta itu. (*/phj)
There is no ads to display, Please add some