beritabernas.com – Matahari pagi bersinar lembut ketika bunyi alat-alat berat ekskavator mulai melakukan aktivitasnya. Suara lengan-lengannya yang bergerak seperti tiktak jam raksasa, menunjukkan presisi dan ketepatan dalam mengangkat dan memindahkan batu-batu candi.
Memasuki Desa Wisata Bugisan yang terletak di Desa Bugisan, Prambanan, Klaten serasa seperti melakukan ekspedisi. Ekspedisi ini memang bukan perjalanan biasa. Ini adalah ikhtiar menghidupkan kembali ingatan panjang tentang Desa Bugisan. Desa yang memiliki warisan sejarah berupa peninggalan Candi Plaosan yang mulai ramai didatangi wisatawan lokal dan mancanegara.
Baca juga:
- Geliat UMKM dan Slogan Wisata Kampung Edukasi di Pedukuhan Sulang Kidul
- Sentra Industri Kerajinan Anyaman Bambu Brajan, Surga Kreativitas dan Ekonomi Lokal
Desa Bugisan merupakan desa yang kaya akan warisan budaya dan nilai-nilai kearifan lokal. Letaknya yang berdekatan dengan Candi Plaosan yang merupakan simbol toleransi dan harmoni antara masyarakat, budaya, agama serta alam menjadi identitas kuat dalam pengembangan wisata berbasis edukasi.
Kegiatan seni budaya, sejarah, kuliner dan upaya menjaga kelestarian lingkungan menjadi fokus utama Desa Wisata Bugisan dalam membangun pariwisata berkelanjutan. Tak salah jika desa ini menjadi salah satu desa binaan astra lewat Kampung Berseri Astra. Kampung Berseri Astra adalah program pengembangan masyarakat berbasis komunitas yang mengintegrasikan 4 pilar program kontribusi sosial berkelanjutan, yaitu kesehatan, pendidikan, dan kewirausahaan.

Terkait Desa Wisata, Kepala Dusun Desa Bugisan Rudi Riono yang diwawancarai beritabernas.com pada 5 November 2025 mengatakan, setelah pemulihan pandemi Covid-19 tahun 2022 ada lomba anugerah desa wisata. Pihaknya ikut lomba itu, karena tahun sebelumnya mereka juara tiga tingkat provinsi, kemudian menjadi perwakilan tingkat nasional.
Tahun 2022, Desa Bugisan lolos 50 besar di tingkat nasional sebagai desa wisata terbaik. Di 50 desa terbaik itu, Sandiaga Uno, Menteri Pariwisata waktu itu, punya program bahwa lomba itu bukan cari nama atau pengakuan, tapi juga pembinaan yang berkelanjutan.
“Link Sandiaga Uno itu banyak, termasuk salah satunya KBA (Kampung Berseri Astra). KBA minta Desa Bugisan. Tahun 2022 nominasi diumumkan, kami dapat pembekalan dari Astra via zoom. Secara administratif, desa Bugisan sudah termasuk KBA. Dari 4 pilar Astra, kami menitikberatkan pada kewirausahaan. Pengemasan, pengembangan sosial media, promosi semua dibantu oleh Astra. Dua tahun ini kami fokusnya di branding Desa Bugisan. Titik berat promosi kami adalah budaya dan arkeologi (candi),” kata Rudi Riono.
Candi Plaosan sekarang ini menjadi bahan prioritas untuk pengembangan. Karena dari latar belakang sejarah, dari sisi edukasi ada nilai-nilai positif yang bisa diambil dari situ. Kehebatan Candi Plaosan ini dibranding ke dunia. Karena hanya Candi Plaosan yang mengajarkan toleransi, keharmonisan, kemajemukan di era peradaban masa lalu. Candi ini peninggalan 2 agama Buddha dan Hindu. Hal ini harus diangkat, agar masyarakat Indonesia bisa mengadopsi nilai-nilai yang sudah ditanamkan oleh nenek moyang kita.
“Garis besarnya, Desa Wisata Bugisan ini menguatkan 3 utama. Dari situ tercipta paket wisata, salah satunya paket wisata edukasi, outing, jelajah candi. Di sekitar candi juga banyak kesenian, seperti gejog lesung dan karawitan. Candi Plaosan ini yang mengelola adalah Badan Usaha Milik Desa (Bumdes) bekerjasama dengan museum cagar budaya dan dinas pariwisata. Kami saling menjaga dan berkontribusi di situ,” ujar Rudi yang juga Penggerak Desa Wisata Bugisan.
Ia menambahkan, saat ini Candi Plaosan baru penataan lanskap di pintu masuk. Makanya ada alat-alat berat. Beberapa waktu lalu, Menteri Kebudayaan RI Fadli Zon meresmikan sekaligus meletakkan batu pertama untuk penataan lanskap. Pembangunannya mulai bulan November 2025 ini sudah berjalan.

Hal yang menarik tentang Desa Wisata Bugisan yang memiliki 8 RW, yang tiap RW membawahi 3 – 4 RT, jadi sekitar ada 34 RT dengan jumlah Kepala Keluarga sekitar 1.185 diungkap oleh Rini Karyaningsih. Rini Karyaningsih adalah pengelola Desa Wisata Bugisan dari segi bisnis. Ia mengatakan, masuk area candi kalau memakai baju lurik atau baju adat dan untuk misalnya foto prewedding, izinnya harus ke Badan Pelestarian Kebudayaan (BPK).
“Ke depan, kami mau kerja sama bagaimana nanti perizinan dengan BPK itu bisa dimediasi agar kita lebih mudah mengaksesnya,” ujar Rini yang lulusan Magister Manajemen Bisnis UGM.
Desa Wisata Bugisan seperti permata tersembunyi di jantung Jawa Tengah, yang memancarkan keindahan dan kearifan lokal. Desa ini seperti lukisan hidup dengan ikon Candi Plaosan. Sebuah destinasi untuk wisatawan yang ingin menikmati keagungan candi sebagai warisan sejarah yang memukau serta mengalami kehidupan sehari-hari warga desa dengan keramahannya yang sederhana dan autentik. (Clementine Roesiani)

