GLSI Membangun Generasi Laudato Si’ Melalui Edukasi Gerakan Ekologi Partisipatif

beritabernas.com – Gerakan Laudato Si Indonesia (GLSI) membangun generasi Laudato ‘Si melalui edukasi dan gerakan ekologi partisipatif. Pelatihan Laudato Si’ Generation (LSG) Batch 2 di Desa Umbulmartani, Kecamatan Ngemplak, Kabupaten Sleman, pada 13-15 Maret 2026, diikuti 30 peserta dan panitia.

Kegiatan ini diselenggarakan oleh Gerakan Laudato Si’ Indonesia (GLSI) bekerja sama demgan Universitas Atmajaya Yogyakarta (UAJY) untuk orang muda Katolik Indonesia.

Cyprianus Lilik, Koordinator Nasional GLSI, dalam rilis yang dikirim kepada beritabernas.com, Senin 16 Maret 2026, mengatakan, kegiatan yang berlangsung 3 hari ini merupakan bagian penting dari upaya membangun gerakan ekologis di tengah-tengah orang muda Katolik. Peserta berasal dari berbagai kota seperti Surabaya, Jakarta, Cilacap, Surakarta, Semarang, Malang dan Yogyakarta, dengan latar belakang guru, pekerja muda dan pelajar Katolik.

Menurut Cyprianus Lilik, pelatihan ini dimaksudkan untuk mengajak orang muda bukan hanya memahami pokok-pokok ajaran iman yang ada dalam ensiklik Laudato Si tetapi juga untuk membangun kepekaan ekologis Katolik muda baik melalui Analisis Sosial Ekologis maupun membaca tanda-tanda alam (melalui indikator alamiah) tetapi bahkan lebih jauh lagi, bagaimana menerapkannya secara praktis di tengah hidup sehari-hari dan masyarakat lewat aksi ekologis pribadi, membangun aksi transformatif dan terlibat dalam gerakan kewargaan yang ada.

Para Pelatihan Laudato Si’ Generation (LSG) Batch 2 menyimak materi yang disampaikan narasumber di Desa Umbulmartani, Kecamatan Ngemplak, Kabupaten Sleman. Foto: Istimewa

“Melihat bahwa semua kerusakan alam lahir dari perilaku manusia dan semua apa yang dilakukan manusia untuk bisa hidup berakibat pada kerusakan alam, apakah kita perlu meninjau kembali asumsi dan cara pandang kita atas arti kerusakan alam?”

Begitulah kira-kira ungkapan Lala, siswi kelas 10 SMA Regina Pacis Solo, ketika para peserta diajak merefleksikan seluruh sesi pada Sabtu 14 Maret 2026 malam.

Kurikulum pemateri dan proses kegiatan

Matilda Tjundawan, selaku ketua panitia membuka dinamika kegiatan dengan mengajak peserta mendiskusikan problem-problem riil lingkungan hidup yang ada di sekitar ruang hidup peserta yang berasal dari berbagai daerah. Kesadaran ini kemudian diolah lebih lanjut dalam sesi selanjutnya.

Kepekaan ekologis dan daya kritis peserta dibangun melalui Analisis Sosial dan Problem Solving yang dibawakan oleh Cyprianus Lilik KP, Koordinator Nasional GLSI. Pemahaman kritis tentang Spiritualitas Laudato Si’ disampaikan oleh Kristien Yuliarti, Anggota Tim kerja Nasional GLSI sekaligus pendiri Omah Hijau, Malang.

Peserta selanjutnya diajak untuk mendalami realitas krisis ekologis bersama Prof Dr Pramana Yuda, guru besar Fak Teknobiologi UAJY sekaligus ketua tim Laudato Si UAJY. Pramana Yuda mengajak peserta mempelajari kompleksitas krisis ekologi di udara dan mengenalinya melalui bioindikator terbaiknya, yakni pengamatan burung-burung. Kehadiran burung-burung menandai kualitas udara dan habitat.

Peserta juga diajak mengakrabi soundscape dan mengenali bahwa keanekaragaman suara alamiah juga menandakan lingkungan hidup yang sehat. Sementara Ester, pelaku pertanian urban dan gaya hidup ugahari di Kebun Candi, mengajak peserta lebih mendekatkan diri pada alam dengan mengenali berbagai jenis tanaman pangan dan bagaimana upaya memuliakan tanah dengan mengembalikan kembali brbagai bentuk kehidupan mikro di dalamnya.  

Kekayaan ragam pangan nusantara dan pola pangan berkualitas diperkenalkan oleh Bhuki Prima Sari dari Bhumi Bhavana. Melalui paparan yang kongkrit, kaya, dan dan inspiratif peserta diajak untuk berkelana menjelajahi cakrawala pangan nusantara.

Dimensi struktural dari tantangan ekologis yang kita hadapi bersama dengan sangat kuat dan mendalam disampaikan oleh Romo Martin Jenarut SH MH, Sekretaris Eksekutif Komisi Keadilan Perdamaian-pastoral Migran dan Perantau Konferensi Waligereja Indonesia.

Romo yang berasal dari Ruteng, Manggarai, Flores, NTT dan sangat aktif melakukan upaya-upaya perjuangan keadilan dan perdamaian ini memaparkan posisi dan alasan Gereja Katolik menolak penawaran Wilayah Izin Usaha Pertambangan Khusus (WIUPK) yang diajukan pemerintah melalui  PP Nomor 25 tahun 2024.

Romo Martin juga memaparkan kerangka pertimbangan teologis-moral Gereja dalam mengambil keputusan-keputusan sulit semacam ini. Romo yang juga menjadi inisiator pelatihan Laudato Si’ Generation ini juga menekankan perlunya orang muda katolik masuk dalam ranah advokasi ekologis yang semakin menantang ke depan.

Kesadaran komprehensif peserta dibangun dengan bersama-sama melakukan kajian membangun praksis hidup Laudato Si’ pada tingkat pribadi, keluarga, dan masyarakat dengan dipandu oleh Cyprianus Lilik. Pertobatan ekologis berpuncak dengan pengakuan dosa ekologis pribadi.

Baca juga:

Seluruh rangkaian kegiatan ditutup dengan perayaan ekaristi yang dipersembahkan oleh Romo Martin Jenarut yang dengan lantang menegaskan perutusan peserta pasca kegiatan. Sebagai perutusan peserta diajak memperdalam pemahamannya melalui tantangan Laudato Si’ 21 hari pasca kegiatan yang disusun secara partisipatif seluruh peserta.

Tumbuh, terlibat dan bertindak

“Momentum pertemuan ini menjadi rumah untuk berbagi perspektif, pengalaman, dan ide-ide luar biasa yang dapat dituangkan dalam praktik baik bersama,” kata Matilda Tjundawan, ketua panitia, yang selain pekerja muda juga sekaligus aktivis pendampingan buruh migran.

“Kami melihat bagaimana setiap pribadi menunjukkan progres harian yang sangat baik, bahkan di luar ekspektasi. Dari pribadi- pribadi hebat ini, kami yakin benih-benih kebaikan akan ditebar di berbagai pelosok, hingga semaian yang baik itu terus tumbuh,” tambah Matilda.

Undangan membangun aksi ditegaskan melalui follow up berupa tantangan aksi 21 hari bersama Laudato Si’. Tantangan awal ini menguatkan komitmen pribadi peserta pada pertobatan ekologis. Kehadiran berbagai pelaku langsung pegiat gerakan ekologi alternatif mengundang peserta agar menemukan ruang perutusan pribadi sebagai kader-kader muda pejuang kelestarian lingkungan. Gerakan citizen science yang sangat kaya dan dekat dengan dunia orang muda melalui berbagai platform digital. 

Pelatihan Laudato Si’ Generation (LSG) Batch 2 di Desa Umbulmartani, Kecamatan Ngemplak, Kabupaten Sleman, pada 13-15 Maret 2026. Foto: Istimewa

Prof Dr Pramana Yuda dalam diskusi penutup menegaskan pesan agar semua peserta tidak hanya berfokus melakukan aksi ekologis yang antroposentris semata (aksi ekologis yang menjadikan manusia sebagai pusat kepentingan, cara pandang, dan aktivitas), melainkan juga aksi ekologis yang didasarkan pada rasa hormat, pemahaman, dan pembelaan kepada segenap ciptaan yang lain.

Pelatihan Laudato Si’ Generation ini adalah bagian dari upaya Gerakan Laudato Si’ Indonesia menjangkau orangmuda, sejalan dengan prioritas gerakan ekologis ini yang bersama ditetapkan dalam Pernas 10 tahun Ensiklik Laudato Si’ pada September 2025 di Sentul City lalu. GLSI juga baru saja menyelesaikan pelatihan Animator of Animators batch V secara online yang berlangsung sepanjang Februari dan Maret 2026, dan sedang menyiapkan pelatihan Animator Laudato Si’ batch VI pada bulan April-Juni 2026 mendatang.

Melihat bahwa semua kerusakan alam lahir dari perilaku manusia, dan semua apa yang dilakukan manusia untuk bisa hidup berakibat pada kerusakan alam, apakah kita perlu meninjau kembali asumsi dan cara pandang kita atas arti kerusakan alam?

Pertanyaan reflektif mendalam dari seorang pelajar perempuan Solo menjadi puncak dari dinamika pelatihan sebagai aksi penyadaran kritis ini. Tanpa menjadikan setiap pribadi di muka bumi sebagai agen kesadaran ekologis kritis, kita semua akan jatuh pada tragedy of the commons, ketika penghormatan, pembelaan, dan perlindungan kepada harta kolektif kehidupan lenyap tergilas oleh individuasi impulsif peradaban kapitalis. (*/phj)


There is no ads to display, Please add some

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *