GWSC Partners Learning Forum Bangkok, Delegasi Indonesia Soroti Lompatan Digital, Standar Mutu dan CWIS untuk Sanitasi Inklusif

beritabernas.com – Delegasi Indonesia menyoroti lompatan digital, standar mutu dan CWIS (Citywide Inclusive Sanitation) untuk sanitasi ingklusif dalam GWSC Partners Learning Forum Bangkok, Thailand, Minggu 7 Desember 2025.

Dalam GWSC Partners Learning Forum di Asian Institute of Technology (AIT) Conference Center itu, delegasi Indonesia mengangkat 3 benang merah besar untuk percepatan sanitasi perkotaan yakni pendekatan Citywide Inclusive Sanitation (CWIS), penerapan standar mutu sanitasi dan transformasi digital untuk layanan yang lebih inklusif, terukur dan berkelanjutan.

Kegiatan delegasi Indonesia tersebut menjadi bagian dari rangkaian event IWA Water Conference & Exhibiton. Delegasi Indonesia yang mewakili Kadin DIY Rahadi Saptata Abra dan Fajaruddin Ahmad Muharom. Selain itu, Ni Nyoman Nepi Marleni dari Teknik Sipil dan Lingkungan UGM, KGPAA Mangkunegara X (Keraton Mangkunegaran), Dian Rineta dan Sihono (Bappeda Surakarta), Rohmat Haryanto (Dinas Pendidikan Surakarta), Cynthia Krisanti, Janaka, Brian Matthew Murod Tobing (PIJAR Foundation), Mr Alwis Rustam (APEKSI), Yuli Imawati dan Muhammad Firdaus dari Kementerian PU:

Forum GWS yang berlangsung di Asian Intitute of Technology (AIT) ini dibuka oleh beberapa tokoh di antaranya Prof Sangam Shresta selaku Co.Director GWSC, Prof Thammarat Kottatep selaku Co director GWSC, Prof siddarth K Jabade selaku VP AIT, Dr Roshan Raj Shrestha selaku Deputy Director Gates Foundation, juga Agus Nugroho selaku COO GWSC dan Hendra Gupta selaku Deputy COO GWSC.

Kadin DIY dorong transformasi digital

Kadin DIY turut ambil bagian dalam GWSC Partners Learning Forum di Asian Institute of Technology Conference Center pada 7 Desember 2025 yang mengusung tema The Digital Leap for Inclusive Sanitation. Forum itu menghadirkan berbagai pemangku kepentingan global, termasuk pemerintah daerah, sektor swasta dan lembaga riset.

Baca juga:

“Partisipasi Kadin DIY menegaskan komitmen dunia usaha untuk mendukung inovasi digital dalam pengelolaan sanitasi perkotaan,” kata Rahadi Saptata Abra, Wakil Ketua Umum Bidang Lingkungan Hidup Kadin DIY.

Dalam sesi diskusi, para narasumber menekankan pentingnya sistem digital terintegrasi seperti Integrated Municipal Information System (IMIS) dan e-Building Permit System (e-BPS) untuk meningkatkan layanan sanitasi.

Kadin DIY melihat peluang besar bagi pelaku usaha lokal untuk terlibat dalam pengembangan teknologi, kemitraan publik-swasta dan penguatan kapasitas. “Kami percaya transformasi digital di sektor sanitasi bukan hanya meningkatkan kualitas hidup masyarakat, tetapi juga membuka ruang bagi inovasi bisnis lokal,” ujar Rahadi Saptata Abra menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor.

Ke depan, Kadin akan memfasilitasi dialog lanjutan antara pemerintah daerah, pelaku usaha dan komunitas akademik untuk mempercepat adopsi teknologi sanitasi. Langkah konkret yang diusulkan mencakup pembentukan working group untuk integrasi data sanitasi, pelatihan teknis bagi UMKM teknologi, serta penjajakan investasi pada platform digital yang mendukung pengelolaan limbah domestik.

“Kami siap menjadi jembatan antara dunia usaha dan pemerintah agar solusi digital ini benar-benar terimplementasi,” kata Rahadi.

Sementara dalam sesi ketiga forum ini yang mengangkat tema Implementation of Sanitation Standards for Better Quality Assurance, Kadin DIY menyoroti pentingnya penerapan standar nasional dan internasional untuk menjamin kualitas layanan sanitasi. Partisipasi Kadin DIY menunjukkan komitmen dunia usaha dalam mendukung transformasi sanitasi yang aman, terstandar dan berkelanjutan.

Diskusi menekankan bahwa keberhasilan penerapan standar sanitasi bergantung pada sistem yang terhubung seperti regulasi yang jelas, sertifikasi kredibel, laboratorium terakreditasi dan alat praktis di tingkat kota. Pengalaman dari Indonesia, Thailand dan India menunjukkan bahwa standar global seperti ISO 30500 harus diadaptasi agar tetap affordable, adaptable, acceptable (3A).

Kadin DIY melihat peluang besar bagi pelaku usaha lokal untuk memproduksi teknologi sanitasi yang sesuai standa, sekaligus mendukung pemerintah daerah dalam pengadaan produk berkualitas. “Kami siap menjadi mitra strategis untuk memastikan produk lokal memenuhi standar dan mendukung kesehatan masyarakat,” ujar Rahadi Saptata Abra.

Suasana GWSC Partners Learning Forum di Asian Institute of Technology (AIT) Conference Center, Bangkok, Thailand, 7 Desember 2025. Foto: Dok Kadin DIY

Selain manfaat kesehatan dan lingkungan, penerapan standar sanitasi juga membuka peluang ekonomi yang signifikan. UMKM lokal dapat mengembangkan produk seperti tangki septik prefabrikasi dan unit pengolahan limbah yang memenuhi standar, sehingga meningkatkan daya saing di pasar nasional. Dengan dukungan pelatihan dan akses ke skema sertifikasi, industri lokal berpotensi menciptakan lapangan kerja baru dan memperluas rantai pasok berbasis kualitas.

“Transformasi ini bukan hanya soal sanitasi, tetapi juga tentang mendorong pertumbuhan ekonomi daerah,” tambah Rahadi Saptata Abra.

Sebelumnya, pada sesi pertama forum yang mengangkat tema CWIS in Practice: Making Project Stages Work Together through Collective Partner Efforts, Kadin DIY menyoroti pentingnya pendekatan Citywide Inclusive Sanitation (CWIS) untuk memastikan layanan sanitasi yang inklusif dan berkelanjutan.

Dalam sesi pertama ini, diskusi menekankan 4 pilar utama yakni penguatan tata kelola, peran organisasi masyarakat sipil (CSO), perencanaan berbasis data, dan pengembangan kapasitas. Kadin DIY melihat peluang besar bagi sektor swasta untuk mendukung pemerintah dalam pengadaan teknologi sanitasi, pengelolaan data, serta pelatihan tenaga kerja.

“Kami percaya bahwa keterlibatan dunia usaha akan mempercepat transformasi sanitasi inklusif, sekaligus menciptakan peluang ekonomi baru,” ujar Rahadi Saptata Abra.

Forum ini juga menyoroti pentingnya kolaborasi dengan CSO untuk memastikan kebutuhan kelompok rentan dan pekerja sanitasi terakomodasi dalam kebijakan.

Selain manfaat sosial, penerapan CWIS juga membawa dampak ekonomi yang signifikan. UMKM lokal dapat memanfaatkan peluang untuk memproduksi peralatan sanitasi, menyediakan jasa pengelolaan limbah, dan mengembangkan solusi berbasis teknologi. Dengan dukungan pelatihan dan akses ke pasar, industri lokal berpotensi menciptakan lapangan kerja baru, meningkatkan daya saing, dan memperkuat rantai pasok berbasis kualitas. Transformasi ini bukan hanya tentang sanitasi, tetapi juga tentang mendorong pertumbuhan ekonomi daerah melalui inovasi dan kolaborasi.

Sementara Fajarruddin Achmad Muharom, Ketua Komtap Kadin DIY, menambahkan bahwa peluang terbesar justru ada pada kerja teknis yang sering diabaikan yakni integrasi data sanitasi lintas instansi, working group implementasi, pelatihan teknis UMKM teknologi hingga penjajakan investasi platform digital.

Menurut Fajarruddin Achmad Muharom, kombinasi standar+digital+CWIS adalah paket lengkap agar program sanitasi tidak berhenti di laporan, tapi benar-benar jadi layanan yang dirasakan warga. (*/phj)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *