beritabernas.com – Anggota DPRD DIY dari Partai Solidaritas Indonesia (PSI) Dr Raden Stevanus Christian Handoko S.Kom MM memberikan perhatian serius terkait laju perkembangan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence atau AI) yang melesat cepat.
Bahkan AI kini mulai merambah ke berbagai sektor kehidupan di DIY. Karena itu, Dr Raden Stevanus menekankan pemanfaatan teknologi digital harus berlandaskan pada etika, moral dan nilai luhur kemanusiaan. Ia menyebut etika berbasis pendidikan ke-Jjogja-an sangat penting menghadapi perkembangan teknologi AI.
“Perkembangan AI saat ini terjadi sangat masif dan tidak terelakkan lagi. Hampir seluruh sektor, mulai dari ekonomi kreatif hingga pelayanan publik di Yogyakarta, akan terpengaruh. Kita harus sadar bahwa teknologi ini membawa dampak positif sekaligus negatif yang harus kita antisipasi sejak dini,” kata Dr Raden Stevanus kepada beritabernas.com, Kamis 26 Pebruari 2026.
Ia mengatakan, meeski AI membawa kemudahan, namun fenomena ini menuntut kesiapan mental dan karakter agar nilai-nilai lokal tidak tergerus oleh arus globalisasi.
Baca juga:
- Jaga Integritas, Mahasiswa Wajib Mencantumkan Keterlibatan AI dalam Penulisan Karya Ilmiah
- Pemanfaatan AI Menjadi Salah Satu Pilar Utama Transformasi Dunia Akademik dan Profesional
- Dr Raden Stevanus: Transformasi Digital Bukan Lagi Pilihan, Tapi Kebutuhan
- Humanoid Kian Canggih, Dr Raden Stevanus: Indonesia Tak Boleh Hanya jadi Penonton Revolusi AI
“Di tengah gempuran globalisasi digital, Yogyakarta memiliki modal kuat berupa pendidikan khas ke-Jogja-an. Ini bisa menjadi salah satu strategi jitu untuk menjaga generasi muda agar tidak kehilangan jati diri. Pendidikan ini menjadi filter agar efek negatif teknologi digital tidak merusak tatanan sosial kita,” kata politisi muda DIY ini.
Dr Raden Stevanus mengatakan, pemanfaatan teknologi digital, khususnya AI, tidak boleh dilakukan tanpa kontrol. Perlu ada panduan etika yang jelas. Untuk itu, kita harus mendorong penerapan Ethical AI, di mana setiap inovasi yang lahir tetap menghormati hak-hak individu dan norma yang berlaku di masyarakat.
“Sejauh apa pun teknologi berkembang, ia tidak boleh menghilangkan nilai-nilai kemanusiaan. AI seharusnya hadir untuk memperkuat potensi manusia, bukan menggantikannya secara utuh. Empati, rasa, dan karsa tetaplah domain manusia yang tidak dimiliki oleh mesin,” kata Dr Raden Stevanus.
Ia menambahkan, nilai luhur budaya Jogja, seperti Hamemayu Hayuning Bawono, sangat relevan dalam membingkai kemajuan teknologi. Pemanfaatan AI di Yogyakarta harus selaras dengan semangat menjaga harmoni alam dan manusia. Jangan sampai demi efisiensi digital, kita mengorbankan akar budaya kita sendiri. (phj)
There is no ads to display, Please add some