Humanoid Kian Canggih, Dr Raden Stevanus: Indonesia Tak Boleh Hanya jadi Penonton Revolusi AI

beritabernas.com – Dunia teknologi dibuat takjub oleh aksi robot humanoid yang dipamerkan di China dan Amerika. Di panggung teknologi China, humanoid dari Unitree Robotics mampu melakukan gerakan akrobatik, menjaga keseimbangan seperti atlet profesional, bahkan merespons perintah dengan cepat dan presisi.

Sementara di Amerika, robot dari Tesla dan Boston Dynamics memperlihatkan kemampuan bekerja di gudang dan pabrik, membawa beban berat serta bergerak lincah hampir menyerupai manusia.

Perkembangan tersebut, menurut Dr Raden Stevanus Christian Handoko S.Kom MM, Anggota DPRD DIY dari Partai Solidaritas Indonesia (PSI) merupakan bukti bahwa transformasi digital telah memasuki babak baru.

“Kemampuan robot humanoid sekarang sudah jauh melampaui bayangan kita satu dekade lalu. Mereka bisa berjalan stabil, mengenali wajah, membaca lingkungan, bahkan berinteraksi menggunakan kecerdasan buatan. Namun, kemajuan ini tidak boleh membuat Indonesia lengah,” kata Dr Raden Stevanus mengingatkan.

Menurut Dr Raden Stevanus, jika humanoid mulai diadopsi luas di sektor industri dan logistik, maka pekerjaan repetitif berpotensi tergantikan. “Kita sedang berada di era bonus demografi. Jika adopsi teknologi tidak dibarengi proteksi dan pelatihan ulang, maka dampaknya bisa memperlebar ketimpangan ekonomi,” katanya.

Baca juga:

Ia menilai perusahaan besar akan lebih cepat mengadopsi robot, sementara industri kecil bisa tertinggal. Dr Raden Stevanus mendukung percepatan Smart Province 2.0, tetapi menekankan pendekatan human-centered.

“Teknologi harus memperkuat manusia, bukan menyingkirkan manusia. Pemerintah daerah harus memastikan ada kebijakan transisi bagi tenaga kerja,” tegas Dr Raden Stevanus seraya enyoroti urgensi peningkatan kapasitas SDM.

“Anak-anak muda DIY harus disiapkan menjadi pengembang AI dan robotik, bukan hanya pengguna. Pendidikan harus diselaraskan dengan kebutuhan industri masa depan,” ujar Dr Raden Stevanus.

Menurut Dr Raden Stevanus, Indonesia belum memiliki regulasi komprehensif mengenai AI dan humanoid. “Siapa yang bertanggung jawab jika terjadi kecelakaan? Bagaimana perlindungan data yang dikumpulkan robot? Ini harus diatur,” katanya.

Dr Raden Stevanus mendorong agar roadmap robotika dan AI dimasukkan dalam RPJMN dan RPJMD, sehingga transformasi teknologi memiliki arah dan kontrol kebijakan yang jelas. “Kita tidak boleh sekadar kagum pada pertunjukan teknologi di luar negeri. Kita harus memastikan Indonesia siap secara regulasi, ekonomi, dan SDM,” kata Dr Raden Stevanus. (phj)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *