beritabernas.com – PT Indo Asia Sinergi Sejahtera bersama TUV Rheinland mengadakan Training of Trainer (ToT) SAR gunung dan lainnya bagi peserta dari Federasi Mountaineering Indonesia (FMI). Kegiatan ini diikuti 40 peserta yang merupakan perwakilan anggota FMI dengan latar belakang pengalaman kepelatihan dan kegiatan mountaineering ini berlangsung pada 2-3 Maret 2026.
Menurut Sapto Hariyono, CEO PT Indo Asia Sinergi Sejahtera, pelatihan ini merupakan langkah strategis dalam membangun sistem pelatihan SAR gunung yang lebih profesional dan berkelanjutan.
Baca juga:
- Departemen Bahasa, Seni dan Manajemen Budaya Sekolah Vokasi UGM Ditetapkan sebagai CTC TUV Rheinland Regional DIY
- Pengembangan Kapasitas SDM sebagai Langkah Strategis untuk Memperkuat Tata Kelola Institusi
- PT Indoasia Sinergi Sejahtera Resmi Membuka Kantor Pusat di Yogyakarta
“Kami percaya bahwa kualitas sebuah organisasi mountaineering ditentukan oleh kualitas trainer-nya. Melalui Training of Trainer ini, Indo Asia ingin memastikan bahwa proses transfer ilmu dan keterampilan SAR gunung dilakukan dengan pendekatan yang terstandar, terukur dan selaras dengan praktik internasional,” ujar Sapto Hariyono, kemarim.
Ia mengatakan, melalui pelatihan ini, Indo Asia dan TUV Rheinland berkomitmen untuk mendukung peningkatan kapasitas trainer di lingkungan FMI agar mampu menghadirkan sistem pelatihan SAR gunung yang lebih profesional, terstandar dan berorientasi pada keselamatan.
Kegiatan ini diharapkan menjadi langkah strategis dalam memperkuat kualitas sumber daya manusia di bidang mountaineering dan pencarian serta pertolongan di medan gunung, sehingga mampu menjawab tantangan keselamatan kegiatan alam bebas di Indonesia.
Pada hari pertama pelatihan dilaksanakan di Yogyakarta pada 2 Maret 2026 dengan fokus pada penguatan pemahaman konseptual, standar kompetensi dan metodologi pelatihan berbasis internasional. Materi disampaikan oleh Dian Suprapto dari TUV Rheinland yang membahas standar kompetensi, sistem asesmen, serta pendekatan pelatihan yang terstruktur dan terukur.

Sementara sesi berikutnya disampaikan oleh Sapto Hariyono dari Indo Asia yang menekankan pentingnya peran trainer dalam membangun budaya keselamatan, kepemimpinan, serta transfer pengetahuan yang efektif dalam kegiatan SAR gunung dan aktivitas mountaineering lainnya.
Kemudian, pada hari kedua pelatihan dilaksanakan di Gunung Sumbing pada 3 Maret 2026 dengan pendekatan praktik dan aplikatif. Peserta mengikuti proses plotting kompetensi dan minat guna memetakan kekuatan serta spesialisasi masing-masing individu.
Kegiatan dilanjutkan dengan microteaching, di mana setiap peserta mempraktikkan kemampuan mengajar sesuai dengan kompetensi yang dimiliki. Sesi ini dirancang untuk menguji kesiapan peserta sebagai trainer, baik dari aspek penguasaan materi, teknik komunikasi, maupun manajemen kelas dalam konteks pelatihan SAR gunung. (*/phj)
There is no ads to display, Please add some