Krisis Sampah Yogyakarta, Kevikepan Jogja Ajak Umat Katolik Mengolah Sampah secara Bertanggung Jawab

beritabernas.com – Vikaris Episkopal (Vikep) Kevikepan Yogyakarta Timur dan Barat mengajak umat Katolik untuk mengolah sampah secara bertanggung jawab, meminimalkan residu dan mengubah sisa
menjadi sumber kehidupan. Hal ini sebagai ungkapan konkret dari iman yang hidup dan berbuah
dalam tindakan sehari-hari.

“Merawat bumi bukan sekadar tugas pemerintah atau aktivis lingkungan, melainkan panggilan iman setiap orang beriman. Mengelola sampah dengan bijak adalah bagian dari ketaatan kita pada kehendak Allah dan wujud kasih kepada sesama, terutama mereka yang paling terdampak oleh krisis lingkungan,” kata Vikep Kevikepan Yogyakarta Timur dan Barat dalam Seruan Pastoral yang ditandatangani Romo Adrianus Maradiyo (Vikep Kevikepan Yogyakarta Timur) dan Romo AR Yudono Suwondo (Vikep Kevikepan Yogyakarta Barat), tertanggal 27 Januari 2026.

Dalam Seruan Pastoral tentang Panggilan Iman Gereja dalam Situasi Krisis Sampah Yogyakarta dengan tema Ubah Sisa Menjadi Sumber Hidup itu, Vikep Kevikapkan Yogyakarta Timur dan Barat, mengatakan, penanganan masalah sampah bukan hanya tanggung jawab pemerintah, tetapi juga tanggung jawab masyarakat termasuk umat Katolik. Karena itu, umat Katolik diajak untuk terlibat aktif dalam menangani masalah sampah dengan cara mengubah sisa menjadi sumber hidup.

Baca juga:

“Ini merupakan bentuk pertobatan ekologis seperti yang disampaikan Paus Fransikus dalam ensiklik Laudato ‘Si sejak 10 tahun lalu, yakni perubahan cara berpikir, bersikap dan bertindak dalam relasi dengan ciptaan. Pertobatan ekologis menuntut agar dampak perjumpaan kita dengan Yesus Kristus tampak dalam relasi kita dengan dunia di sekitar kita,” kata Vikep Kevikepan Yogyakarta Timur dan Barat.

Dikatakan, dalam ensiklik Laudato Si’, Paus Fransiskus mengingatkan bahwa krisis lingkungan tidak pernah berdiri sendiri, melainkan selalu berkaitan dengan krisis kemanusiaan dan spiritual. Tidak ada dua krisis yang terpisah, yang satu lingkungan dan yang lain sosial, melainkan satu krisis kompleks yang bersifat sosiolingkungan. Karena itu, cara kita memperlakukan sampah sesungguhnya mencerminkan cara kita memandang kehidupan, sesama, dan masa depan bersama.

Gerakan pastoral ekologis: ubah sisa menjadi sumber hidup

Menanggapi situasi krisis sampah di Yogyakarta, Kevikepan Yogyakarta Timur dan Barat mengajak seluruh umat terlibat dalam gerakan pastoral ekologis bertajuk Ubah Sisa Menjadi Sumber Hidup. Gerakan ini berangkat dari kesadaran bahwa apa yang sering kita anggap sebagai sisa atau sampah, sesungguhnya dapat diolah menjadi sumber kehidupan baru bila ditangani dengan tanggung jawab, kreativitas, dan solidaritas.

Romo Adrianus Maradiyo Pr (tengah), Vikep Kevikepan Yogyakarta Timur. Foto: Istimewa

Gerakan ini sejalan dengan berbagai inovasi lokal yang telah berkembang di masyarakat, seperti pengolahan sampah organik di tingkat rumah tangga, penguatan bank sampah untuk mengelola sampah organik, pemanfaatan sampah menjadi pupuk, bahan bakar alternatif, dan sampah sebagai sumber ekonomi.

Karena itu, melalui Seruan Pastoral ini, Vikep Kevikepan Yogyakarta Timur dan Barat mengajak para imam, biarawan-biarawati dan petugas pastoral untuk menanamkan spiritualitas ekologis dalam homili, katekese dan pendampingan umat.

Selain itu, mengajak paroki, wilayah dan lingkungan untuk membangun kebiasaan pemilahan sampah dan mengembangkan pengelolaan sampah organik secara bertahap dan berkelanjutan. Kemudian, OMK, WKRI, mahasiswa Katolik dan kelompok-kelompok kategorial Gereja untuk menjadi kader dan pelopor gerakan ekologis Gereja.

Sementara lembaga pendidikan, komunitas dan dunia usaha Katolik diminta untuk mendukung gerakan ini melalui pendampingan, inovasi dan kolaborasi konkret. Dan seluruh umat beriman diminta untuk memulai perubahan dari rumah masing-masing, dengan kesetiaan pada disiplin memilah dan mengolah sampah.

Gerakan ini diharapkan bukan sekadar program sesaat, melainkan proses pertobatan ekologis yang membutuhkan kesabaran, ketekunan dan kerja sama. “Kami berharap, di tengah masa transisi yang tidak mudah ini, Gereja Katolik di Yogyakarta sungguh hadir sebagai komunitas iman yang peka, solider dan memberi teladan sehingga harapan untuk menjadi Gereja yang bahagia, menginspirasi, menyejahterakan sungguh terwujud. Semoga melalui langkah-langkah kecil namun setia, kita ikut membangun masa depan Yogyakarta yang lebih bersih, sehat, dan bermartabat,” tulis Vikep Kevikepan Yogyakarta Timur dan Barat dalam seruan pastoral itu. (phj)


There is no ads to display, Please add some

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *