Meski Sepatah Dua Patah Kata, Badan Bahasa Berharap Paus Leo XIV Bicara dalam Bahasa Indonesia

beritabernas.com – Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Indonesia, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Badan Bahasa) berharapa Paus Leo XIV berbicara dalam bahasa Indonesia meski hanya sepatah dua patah kata. Hal ini untuk membantu memperkenalkan bahasa Indonesia ke seluruh dunia.

Di sisi lain, Badan Bahasa juga mengapresiasi upaya Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) membuat Bahasa Indonesia digunakan secara resmi oleh Vatikan melalui kantor berita Vatican News. “Siapa tahu suatu saat Paus bicara sepatah dua patah kata Bahasa Indonesia. Misalnya, apa kabar, selamat pagi, terima kasih,” ujar Hafidz Muksin, Kepala Badan Bahasa, di kantornya di Rawamangun, Jakarta, Kamis 7 Mei 2026.

Hal itu diungkapkan Hafidz Muksin dalam pertemuan dengan Komisi Komunikasi Sosial (Komsos) Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) yang didampingi pengurus Paguyuban Wartawan Katolik Indonesia (PWKI). Kehadiran KWI tersebut untuk memenuhi undangan Badan Bahasa menyusul penandatanganan MoU antara Komisi Komsos KWI dan Dikasteri (Kementerian) Komunikasi Vatikan di Vatikan, pada 25 Maret 2026.

Baca juga:

Dalam pertemuan itu, Hafidz Muksin didampingi Ganjar Harimansyah (Sekretaris Badan) dan Iwa Lukmana (Kepala Pusat Pemberdayaan Bahasa dan Sastra). Sementara Komisi Komsos KWI diwakili oleh Romo Petrus Noegroho Agoeng (Sekretaris Eksekutif) didampingi Abdi Susanto (Anggota Badan Pengurus) dan Stefani Irawati (Staf). Sementara dari PWKI hadir AM Putut Prabantoro (Founder), Asni Ovier Dengen Paluin (Ketua), Yophiandi Kurniawan dan Algooth Putranto (Hubungan Luar Negeri) serta Stanislaus Jumar Sudiyana (Sekretaris).

Hafidz mengatakan, penggunaan bahasa Indonesia di Vatican News tidak sama dengan menerjemahkan isi Vatican News ke dalam bahasa Indonesia semata. “Ini bukan pakai AI, maka isinya dalam bahasa Indonesia bisa kita baca,” kata Hafidz.

Hafidz berharap dengan kondisi saat ini di tengah masyarakat, segala hal sudah berbasis digital, maka penerjemahan yang tepat maupun isi tentang Indonesia kepada dunia luar sangat penting. “Bukan sekedar menerjemahkan menggunakan AI,” kata Hafidz.

Hafidz melihat, yang berkembang saat ini adalah Bahasa Indonesia dibawa para misionaris sebagai duta atau pengajar bahasa Indonesia di tempat misi mereka. “Karena selain misi keagamaan juga membawa misi budaya, yang sesuai dengan Indonesia,” kata Hafidz.

Prihatin

Hafidz mengaku prihatin karena di saat Bahasa Indonesia diupayakan bisa berkibar di luar negeri, justru di dalam negeri ada kecenderungan masyarakat abai terhadap bahasa. “Tidak seperti lambang negara, misalnya bendera diinjak, kita marahnya luar biasa. Batas negara dilanggar, kita juga marah. Tapi bahasa kok kita diam saja? Padahal ini kedaulatan kita,” ujar Hafidz.

Ia mengatakan, fenomena ini terjadi karena gengsi dan nilai, seperti kalau memakai bahasa asing, maka harga barang yang dijual lebih mahal. “Kopi hitam, jadi black coffee atau americano, jadi lebih mahal. Akhirnya kita lebih menghargai hal-hal berbau asing,” kata Hafidz prihatin.

Iwa Lukmana, Kepala Pusat Pemberdayaan Bahasa dan Sastra menjelaskan posisi Indonesia di mata dunia. “Indonesia ini dikenal sebagai the biggest invisible country. Negara terbesar yang tidak kelihatan. Ini dalam konteks bahasa,” kata Iwa.

Selama ini, menurut Iwa, orang asing beranggapan bahwa bahasa Indonesia dan Melayu, sama. “Kita punya tugas memberi pemahaman pada publik dunia, bahasa Indonesia bukan bahasa Melayu,” kata Iwa.

Para peserta pertemuan antara Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Badan Bahasa Kemendikdasmen), Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) dan Paguyuban Wartawan Katolik Indonesia foto bersama di Kantor Badan Bahasa, Rawamangun, Jakarta, Kamis (07/05/2026). Foto: Dok PWKI

Saat ini, Badan Bahasa tetap menjalankan soft diplomacy melalui sosialisasi bahasa Indonesia di berbagai negara. “Di Mesir, sudah ada prodi (program studi) Bahasa Indonesia di Universitas Al Azhar,” ujar Iwa.

Al Azhar dipilih karena menjadi tolok ukur dunia Islam. “Kami masuk dulu ke Al Azhar, supaya dunia Islam lainnya juga melihat,” katanya.

Langkah ini merupakan Grand Strategy agar Indonesia diperhitungkan dalam panggung politik dunia. “Salah satu elemen Soft Diplomacy, penyebaran Bahasa Indonesia,” katanya.

Iwa menjelaskan, dalam dunia, bahasa adalah isu yang menentukan. Dia mencontohkan persoalan di Papua dengan gerakan separatis yang jadi tantangan pemerintah Indonesia hingga kini. “Gerakan separatis tidak pernah berbasis bahasa. Bahkan masyarakat Papua kenyataannya mengapresiasi Bahasa Indonesia,” kata Iwa.

Sementara dalam upaya melestarikan khasanah istilah Katolik di Indonesia, Sekretaris Badan Bahasa Ganjar Harimansyah mengajak KWI dan wartawan Katolik menyumbang ke dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, untuk kosa kata Katolisitas.

“Misalnya kata Diosesan, itu sudah umum di Katolik, bisa diungkapkan dan dipahami juga oleh masyarakat lain,” kata Ganjar seraya menyebutkan bahwa saat ini ada lebih dari 200 ribu kata dalam KBBI, namun hanya 268 yang bernuansa Katolik. (phj)


There is no ads to display, Please add some

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *