beritabernas.com – Pembahasan RUU Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas) bukan sekadar revisi teknis undang-undang, melainkan ujian ideologis negara dalam menegakkan Empat Pilar MPR RI di sektor pendidikan tinggi.
Bahkan UU Sisdiknas menjadi ujian bagi negara dalam membangun pendidikan yang berkeadilan. “Kalau pendidikan kita masih timpang, mahal dan tidak adil, maka Empat Pilar hanya berhenti sebagai slogan. Karena itu, RUU Sisdiknas harus menjadi alat koreksi sejarah,” tegas MY Esti Wijayati, Wakil Ketua Komisi X DPR RI, di hadapan ratusan umat Paroki Babadan, Minomartani dan Banteng, Kabupaten Sleman, DIY, Jumat 19 Desember 2025.
Baca juga:
- Anggota DPR RI MY Esti Wijayati: Sekolah Rakyat Lebih Tepat Berada di Daerah 3T
- Wakil Ketua Komisi X DPR RI MY Esti Wijayati: Empat Pilar MPR RI jadi Fondasi Pencegahan Kekerasan di Perguruan Tinggi
Menurut MY Esti Wijayati, Politisi PDI Perjuangan dari Daerah Pemilih (Dapil) DIY ini, Pancasila menuntut sistem pendidikan yang berkeadilan sosial, sementara UUD NRI 1945 secara eksplisit mewajibkan negara menjamin hak setiap warga untuk memperoleh pendidikan bermutu. Namun realitas pendidikan tinggi masih dihadapkan pada persoalan akses, tata kelola, dan fragmentasi regulasi.
“Negara tidak boleh cuci tangan. Pendidikan tinggi tidak boleh diserahkan sepenuhnya pada logika pasar,” ujar MY Esti Wijayati.

Menurut MY Esti Wijayati, RUU Sisdiknas dirancang melalui metode kodifikasi untuk menyatukan berbagai aturan pendidikan yang selama ini tumpang tindih, sekaligus memperkuat tata kelola pendidikan tinggi agar lebih transparan, inklusif, dan akuntabel.
Semangat Bhinneka Tunggal Ika harus tercermin dalam kebijakan yang menjamin kesetaraan akses lintas wilayah dan latar belakang sosial. “NKRI hanya akan kokoh jika kampus menjadi ruang mobilitas sosial, bukan mesin reproduksi ketimpangan,” kata Esti.
Ia memastikan Komisi X DPR RI akan terus menyerap aspirasi publik agar RUU SISDIKNAS benar-benar menjadi instrumen transformasi pendidikan nasional. “RUU ini harus berpihak pada mahasiswa, dosen, dan masa depan bangsa, bukan pada kepentingan sempit,” kata MY Esti Wijayati. (phj)
There is no ads to display, Please add some