beritabernas.com – Pada piodalan (ulang tahun, red) ke-7, Ashram Windunada atau Griya Windunada mengadakan berbagai kegiatan sosial. Selain itu, menghaturkan sesaji berupa Byakala, Dhurmenggala, Prayascita, Pengulapan dan sesaji lainnya. Sesaji Byakala bermakna sebagai pembersihan untuk tempat suci bagian bawah (pondasi) atau bagian kaki.
Kemudian, sesaji Dhurmenggala bermakna sebagai pembersihan untuk tempat suci bagian tengah bangunan atau dapat disebutkan dengan pembersihan badan bangunan. Sedangkan sesaji Prayascita bermakna sebagai pembersihan bagian atas bangunan atau bagian atap dari bangunan.
“Bangunan-bangunan suci yang dibersihkan itu merupakan simbol dari pembersihan makrokosmos atau dalam istilah Hindu disebut Buana Agung dan dalam khasanah Jawa disebut Jagat Gede. Setelah bangunan suci dan bangunan pendukung tempat suci dibersihkan baru kemudian dihaturkan sesaji Pangulapan yang bermakna angulapi para dewa untuk hadir di tempat upacara,” kata Shri Bhagavan Visvakarma, pemilik Griya Windunada, pada acara piodalan ke-7 Ashram Windunada, 2 Pebruari 2026.

Menurut Shri Bhagavan Visvakarma, Griya Windunada pada awal peresmiannya memiliki motto tempat untuk melyani umat berdasarkan ajaran Tri Hita Karana. Tri Hita Karana adalah filosofi hidup Umat Hindu yang berarti tiga peyebab kebahagian atau kesejahteraan. Konsep ini menekankan pada terciptanya keharmonisan hidup melalui tiga hubungan seimbang: keseimbangan hubungan manusia dengan Tuhan (Ida Sang Hyang Widi Wasa) melalui sujud bakti, ibadah dan menjaga kesucian tempat suci yang disebutkan dengan Parahyangan, keseimbangan hubungan manusia dengan alam yang disebut dengan Palemahan dan keseimbangan hubungan manusia dengan manusia yang disebutkan dengan Pawongan.
Ashram Windunada atau Griya Windunada diresmikan atau diberkati (dalam tradisi Hindu dinamakan ngenteg linggih) pada 20 Januari 2019 bertepatan dengan Purnama Kawolu (delapan) yang juga bertepatan dengan Kajeng Kliwon. Acara persemian ini menjadi ketetapan dalam piodalan/pujawali yakni setiap Purnama Kawolu.
Baca juga:
- Krisis Sampah Yogyakarta, Kevikepan Jogja Ajak Umat Katolik Mengolah Sampah secara Bertanggung Jawab
- Membumikan Laudato Si’: Dari Seruan Pastoral Menuju Gerakan Nyata Merawat Bumi
Pada upacara ngenteg linggih tersebut, Windunada Ashram atau Griya Windunada diberkati oleh 11 Sulinggih (Pandita) dan diresmikan oleh Camat Ngemplak disaksikan oleh Polsek Ngemplak dan Koramil Ngemplak.
Menurut Shri Bhagavan Visvakarma, Palemahan adalah hubungan harmonis antara manusia dengan alam lingkungan, termasuk merawat tanaman, binatang dan mejaga kebersihan lingkungan agar tetap lestari. Pada piodalan ke 7 ini dilaksanakan pemberkatan tanaman berupa 6 pohon Kalpataru, 3 pohon Bodhi, 18 ekor burung perkutut dan 9 ekor ikan endemic ke Sungai Boyong. Pohon tersebut ditanam, sementara burung dan ikan dilepas di sekitar Sungai Boyong

Sementara Pawongan adalah hubungan harmonis antara manusia dengan sesama manusia dengan menekan pada etika, toleransi, kasih sayang dan kerja sama (seperti dalam persahabatan atau pekerjaan).
Pada kesempatan itu, Shri Bhagavan Visvakarma memberikan anugerah (panugrahan) kepada 11 orang pemedek yakni teman, sahabat, saudara yang hadir mengikuti upacara piodalan ini berupa membersihkan 7 cakra dan melaksanakan Panglukatan dengan tirta panglukatan kepada 11 orang pemedek yang hadir. Mereka dilukat agar papa, petaka, mala, wighna dan pekaryan hala seletuh-letuh pada diri pemedek menjadi bersih, dan diharapkan hidup mereka tercerahkan.
Selanjutnya pada 4 Februari 2026 Shri Bhagavan Visvakarma sebagai pemilik Griya Windunada berbagi suka cita dengan mendonasikan pohon kalpataru kepada GKJ Rewulu, pronojiwo ke GKJ Demak Ijo dan GKJ Gamping, sedangkan tabebuya diserahkan kepada Gereja Katolik Maria Assumta Gamping. (*/phj)
There is no ads to display, Please add some