Rektor UII: Keluwesan Beradaptasi Sangat Penting di Tengah Perubahan yang Dinamis

beritabernas.com – Rektor UII Prof Fathul Wahid ST MSc PhD mengatakan, dunia kini bergerak cepat nyaris tanpa jeda. Teknologi berubah dalam hitungan bulan, sehingga pekerjaan yang hari ini ada, dalam 5 tahun mendatang bisa saja tinggal cerita.

Karena itu, keberhasilan sejati kini bukan semata tentang keahlian tunggal, melainkan tentang keluwesan beradaptasi di tengah perubahan yang dinamis. “Adapasi adalah keberanian menjelajah wilayah baru tanpa gentar dan keterbukaan untuk terus belajar, menyerap makna, memperbarui diri, seraya melangkah dengan rendah hati dan sekaligus percaya diri,” kata Rektor UII Prof Fathul Wahid dalam acara wisuda Doktor, Magister, Sarjana dan Diploma Periode II Tahun Akademik 2025/2026 UII di Auditorium KH Abdulkahar Mudzakkir Kampus Terpadu UII, Sabtu 27 Desember 2025.

Menurut Rektor UII, saat ini kita hidup di zaman yang sangat bising, bukan hanya oleh suara, tetapi oleh banjir informasi, opini dan tuntutan untuk selalu bereaksi cepat. Setiap hari kita digoda untuk segera merespons, menyimpulkan dan mengambil posisi, seolah kecepatan adalah tanda kecerdasan. Padahal, menurut Fathul Wahid seperti diingatkan Daniel Kahneman, manusia kerap keliru justru ketika merasa paling yakin. Kebijaksanaan tidak lahir dari reaksi spontan, melainkan dari kejernihan berpikir dan keberanian untuk melambat.

Baca juga:

Mengutup Kahneman (2011), peraih Nobel Ekonomi dalam bukunya Thinking, Fast and Slow, Rektor UII mengatakan bahwa pikiran manusia bekerja melalui dua sistem. Sistem pertama bekerja cepat, otomatis, dan emosional. Ia membantu kita bereaksi instan, tetapi juga rawan bias dan kesalahan.

Sistem kedua bekerja lebih lambat, penuh usaha dan analitis. Ia memang melelahkan, tetapi di sanalah penilaian yang lebih jernih terbentuk. Masalahnya, dunia hari ini hampir selalu memaksa kita hidup dalam sistem pertama yakni cepat membaca judul, cepat menyimpulkan isi, cepat membagikan tanpa sempat memeriksa.

“Bayangkan seseorang yang melihat tali di lantai dan seketika meloncat karena mengira itu ular. Reaksi cepat itu wajar dan bahkan berguna. Namun, bayangkan jika semua keputusan hidup diambil dengan logika yang sama: memilih pekerjaan hanya karena terlihat bergengsi, mengikuti arus opini karena takut tertinggal, atau mengambil keputusan besar hanya karena semua orang melakukannya. Di sinilah berpikir cepat menjadi jebakan,” kata Fathul Wahid.

Karena itu, menjaga akal sehat berarti memberi ruang bagi sistem kedua untuk bekerja. Artinya, berani berhenti sejenak sebelum bereaksi, berani bertanya sebelum percaya dan berani menimbang sebelum memutuskan.

Kahneman menyebut salah satu jebakan terbesar manusia sebagai overconfidence-bias, atau kesalahan sistematis, karena rasa percaya diri berlebihan pada penilaian sendiri. Di sini ada ilusi pemahaman. “Banyak kesalahan besar dalam hidup bukan lahir dari kurangnya informasi, tetapi dari keyakinan yang terlalu cepat dan tidak diuji,” kata Rektor UII.

Rektor UII Prof Fathul Wahid saat menyampaikan sambutan pada acara wisuda perioe II tahun akademik 2025/2026 UII di Auditorium KH Abdulkahar Mudzakkir Kampus Terpadu UII, Sabtu 27 Desember 2025. Foto: Philipus Jehamun/beritabernas.com

Rektor UII mengingatkan bahwa ilmu yang diperoleh di bangku kuliah telah melatih logika dan nalar. Namun, kehidupan akan menguji sesuatu yang lebih dalam: kemampuan untuk tetap jernih ketika dunia menjadi gaduh, tetap tenang ketika tekanan datang bertubi-tubi, dan tetap berpegang pada nilai ketika pilihan terasa mudah tetapi menyesatkan.

“Di tengah dunia yang bergerak semakin cepat dan semakin gaduh, kejernihan akal menjadi kompas yang menuntun langkah. Ilmu pengetahuan melatih nalar, tetapi kebijaksanaan tumbuh dari kemampuan memilah, menimbang, dan menentukan arah dengan tenang. Masa depan bukan hanya milik mereka yang paling cepat bereaksi, melainkan milik mereka yang mampu berpikir jernih, bertindak bijak, dan tetap waras di tengah hiruk-pikuk zaman,” kata Rektor UII.

Dalam wisuda kali ini, sebanyak 738 lulusan UII dari berbagai jenjang mengikuti prosesi wisuda yang terdiri dari 1 dari program ahli madya, 14 dari program sarjana terapan, 638 dari program sarjana, 73 dari program magister dan 12 dari program doktor.

Dengan demikian, menurut Rektor UII, sampai hari ini, UII n=telah melahirkan lebih dari 135.767 lulusan. Mereka menebar manfaat di berbagai penjuru negeri, bahkan hingga ke mancanegara. Setiap dari mereka membawa semangat UII: semangat untuk berilmu, berbuat baik,dan memberi makna bagi sesama. (phj)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *