Rerasan, Menjaga Keberadaan Burung di Alam Bebas

beritabernas.com – Keberadaan burung yang terbang bebas di sekitar kita menjadi hal biasa. Bahkan cenderung tak diperhatikan. Kehadiran burung di alam menjadi penanda bahwa lingkungan kita masih nyaman dihuni.

Hal tersebut terungkap dalam bincang-bincang santai bertajuk Rerasan atau Rembug-Saran-Gagasan bertema Membangun Sinergi dalam Partisipasi Pengelolaan Keanekaragaman Hayati di Kantin Fakultas Pertanian UGM, Senin 27 Pebruari 2023) siang.

Acara yang dihelat komunitas Suka Burung Peduli Satwa (Subur Pesat) tersebut menghadirkan pembicara Rektor UGM Prof Dr Ova Emilia M.Ed Ed,SpOG(K) PhD., Kepala Biro Tata Pemerintahan (Tapem) Setda DIY KPH Yudanegara PhD, Lurah Purwosari, Kapanewon Girimulyo, Kulonprogo Sri Murtini Am, KTH Wanapaksi Jatimulyo, Girimulyo, Kulonprogo Kelik Suparno, dan Java Project Coordinator Burung Indonesia Andriansyah dengan host pegiat fotografi burung Anang Batas.

Rektor UGM Prof Ova Emilia menerima foto burung “raja udang” dari pegiat fotografi burung Anang Batas, dalam acara “Rerasan” di Fakultas Pertanian, UGM, Yogyakarta, Senin (27/2/2023). Foto: AG Irawan/beritabernas.com

Dalam paparan singkatnya Ova Emilia mengatakan sejak awal berdiri UGM dirancang menjadi kampus yang ramah lingkungan. Sejumlah pohon asli Indonesia tetap dipertahankan berdiri. “Penataan kawasan konservasi UGM ini diatur dengan pola nusantara. Sehingga memungkinkan beragam satwa udara seperti burung asli Indonesia hidup dan terbang bebas di lingkungan kampus,” kata Ova.

Sementara KPH Yudanegara menegaskan, pembangunan DIY berfokus pada 4K yakni Keprajan (pemda), Kalurahan, Keraton/Kadipaten dan Kampus. Sinergi dari keempatnya menjadi penting. Beragam kegiatan berbasis konservasi terus akan dilakukan seperti pembibitan dan penanaman pohon, pengembalian hutan mangrove serta pelepasliaran penyu di pesisir DIY. 

BACA JUGA:

“Saat ini pembangunan di tingkat kalurahan menjadi prioritas utama Bapak Gubernur. Maka, kita harus saling bertemu dengan kalurahan dan kampus untuk bersama menjaga keanekaragaman hayati di DIY,” terang Yudanegara.

Lurah Purwosari, Kulonprogo Sri Murtini mengungkapkan, guna menjaga kelestarian alam beserta keanekaragaman hayati, khususnya keberadaan burung lokal, pihaknya suda menyusun Kesepakatan Pelestarian Alam Desa (KPAD).

Seorang peserta diskusi “Rerasan” menikmati keunikan burung khas Yogyakarta melalui bingkai foto, Senin (27/2/2023). Foto:AG Irawan/beritabernas.com

“Kami berharap banyak pihak mau membantu untuk ikut mengembangkan potensi yang ada di Purwosari. Karena potensi alam yang bisa dikembangkan cukup banyak. Dan kami butuh masukan serta pendampingan dari berbagai pihak,” pintanya.

Hal senada disampaikan Kelik Suparno, pengelola KPH Wanapaksi “kampung satwa”, Jatimulyo, Kulonprogo. “Dulu sebelum ada peraturan desa (perdes) perlindungan satwa, burung di Jatimulyo banyak diburu. Sekarang yang dapat manfaat banyak orang. Mulai dari warga setempat, jasa pemandu wisata alam, penghobi fotografi/videografi dan sebagainya. Kami nggak menyangka pelestarian burung bisa untuk wisata,” ujarnya.

Keberadaan burung yang terbang di alam bebas butuh daya dukung masyarakat untuk menjaganya. Pun regulasi pemerintah harus ditegakkan agar burung tidak diburu. Juga sejumlah pihak terus setia merawat habitat yang cocok guna berkembangbiaknya satwa udara tersebut sehingga tidak punah. (ag irawan)


There is no ads to display, Please add some

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *