Ruang Pulang, Catatan Kecil tentang Keberadaan Ikamaya

Oleh: Ponsy Lg CMF, Seorang Imam dari Kongregasi Misionaris Hati Tak Bernoda Maria

beritabernas.com – Terik matahari siang, lenyap begitu saja dalam canda dan tawa sebagai keluarga: IKAMAYA. IKAMAYA (Ikatan Keluarga Manggarai di Yogyakarta) adalah keluarga, bukan karena berasal dari rahim yang sama, tetapi oleh keserupaan nasib sebagai “sesama orang rantau dari Tanah Congkasae”- Manggarai, Flores, NTT.

Melalui IKAMAYA saya pulang. Bukan “pulang” dalam arti gerak lintas spasial kembali ke tanah asal. Meminjam istilah kraeng Gregorius Sahdan, dalam 𝘙𝘢𝘥𝘢𝘳 𝘕𝘛𝘛, “IKAMAYA adalah ruang pulang, secara emosional dan kultural.” Melalui IKAMAYA, saya pulang-menjumpai suasana, bahasa, budaya, bahkan makanan khas Manggarai, di tanah Yogyakarta.

Baca juga:

Melalui IKAMAYA, rindu pulang menemukan jawaban. Bukan dengan membeli tiket perjalanan, tetapi dengan terlibat dalam kegiatan: Natal dan Tahun Baru bersama. Melalui perjumpaan dengan “putra-putri, keluarga besar Manggarai” di Yogyakarta, rindu pulang pun terbayar tuntas.

Melalui IKAMAYA, saya belajar. Komunitas persekutuan adalah sekolah kehidupan. Bahwa, “…menjadi diri tidak lengkap tanpa kehadiran orang lain.” Diri sejati akan selalu tumbuh dalam perjumpaan dengan yang lain. Di tanah rantau hal itu penting, sebab keberadaan diri dipengaruhi juga oleh relasi dan keterlibatan yang saling menguatkan.

Sebagai sesama anak rantau dari Tanah Congkasae, saya salut dan bangga dengan para panitia, yang telah dengan hati lapang bekerja demi terlaksananya kegiatan Natal dan Tahun Baru bersama IKAMAYA. Di balik hangatnya perjumpaan, dan kebersamaan, ada para panitia yang menguras banyak tenaga dan pikiran, menyediakan “ruang pulang” bagi kami-semua yang terlalu rindu tanah kelahiran.

Pater Ponsianus Ladung CMF saat menyampaikan homili. Foto: Philipus Jehamun/beritabernas.com

Dalam refleksi saya, para panitia adalah simbol sederhana dari Gereja. Gereja yang saya maksud-bukan tentang bangunan-tetapi orang-orang yang menanggalkan ego, memberi diri demi persekutuan. Dan, kerja keras panitia adalah wujud dari Allah yang terlibat (𝘥𝘢𝘭𝘢𝘮 𝘬𝘪𝘴𝘢𝘩 𝘕𝘢𝘵𝘢l), yang bergiat tanpa berharap mendapat balas jasa.

Dalam diri para panitia, saya melihat wajah ceria dari orang-orang yang telah bergelut dengan lelah. Dan, lelah para panitia adalah pilihan yang berani untuk membayar niat dan rindu berjumpa dari semua orang yang hadir. Berjuta terima kasih saya sampaikan kepada panitia. Sebab, oleh kerja keras-“yang tentu bikin panitia lelah”-saya menemukan “ruang pulang.” (*)


There is no ads to display, Please add some

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *