Sanggar Anak Alam Mengimplementasikan Tri Sentra Pendidikan Ki Hadjar Dewantara

beritabernas.com – Sanggar Anak Alam (Salam) yang didirikan Toto Rahardjo telah mengimplementasikan Tri Sentra pendidikan yang dirintis dan dikembangkan Ki Hadjar Dewantara. Dalam implementasinya, sekolah alternatif Salam melibatkan orangtua, guru dan tokoh masyarakat dalam proses pendidikan.

“Kalau orang-orang Tamansiswa menguasai teori-teori dan konsep pendidikan Ki Hadjar Dewantara, sementara saya sudah mengimplementasikan konsep pendidikan Ki Hadjar terutama tentang Tri Sentra pendidikan,” kata Toto Rahardjo, Pendiri Kiai Kanjeng dan Sekolah Alternatif Salam (Sanggar Anak Alam) dalam seminar yang diadakan PP PKBTS bersama Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga (Dikpora) DIY yang didukung Dana Keistimewaan (Danais) di Hotel UNY, Kamis 24 Agustus 2023.

Para peserta seminar foto bersama narasumber dan pengurus PP PKBTS Foto: Philipus Jehamun/ beritabernas.com

Selain Toto Rahardjo, seminar yang dibuka oleh Wakil Kepala Dinas Dikpora DIY Suherman itu juga menghadirkan narasumber Prof Sutrisna Wibawa Ketua Dewadik DIY dan Guru Besar UST dan UNY, Ki Tri Suparyanto SPd MM (Dosen Prodi Manajemen FE UST) dan Dr Afendi Widayat M.Phil (Dosen Fakultas Sastra dan Budaya UNY).

Dalam seminar menuju Dwi Abad Perguruan Tamasiswa dengan tema Membentuk Jalma Kang Utama, Implementasi Pendidikan Khas Kejogjaan dalam Sistem Trisentra Pendidikan Tamansiswa itu, Toto Rahardjo mengungkapkan bahwa di sekolah alteratif Salam yang didirikan dan dikelolanya itu, orangtua dan tokoh masyarakat dilibatkan dalam proses pendidikan.

Dalam sekolah alternatif Salam, menurut Toto Rahardjo, ekosistem belajar terdiri dari input yang meliputi murid, orangtua murid dan penyelenggara sekolah; enviromental input yang meliputi kebijakan, kelembagaan, nilai-nilai dan pandangan masyarakat; instrumental input meliputi metodologi, kurikulum dan modul, SOP, kesepakatan, guru/pengajar, pamong dan sarana pendidikan; dan output komunitas belajar.

Sementara proses perencanaan belajar di sekolah alternatif Salam, menurut Toto Rahardjo, dimulai dari sumber belajar yakni melalui negosiasi dengan anak memilih dan menentukan objek riset di sekitar rumah. Kemudian, memilih satu objek riset untuk satu semester. Selanjutnya membuat rancangan riset. Dalam hal ini anak bersama mentor merancang riset yakni merumuskan tujuan, menyusun langkah-langkah dan mengisi form ODK.

Wakadis Dikpora DIY Suherman membuka seminar. Foto: Philipus Jehamun/beritabernas.com

Kemudian orientasi mentor yakni mengembangkan dimensi tema riset yakni keterkaitandengan berbagai hal, referensi dalam rangka untuk memperluas pertanyaan yang telah dibuat anak dan feedback yakni pendiri/ pengelola dan tim menyusun saran untuk mentor dan orangtua.

Sementara tahap-tahap proses belajar di Salam adalah menjalankan riset mandiri. Dalam hal ini anak melaksanakan riset didampingi orangtua dan mentor. Kemudian anak dan mentor mengisi jurnal ODK untuk melaporkan perkembangan dengan mengisi jurnal melalui ODK. Feedback berupa saran bisa untuk mentor, orangtua berkaitan dengan proses fasilitas di kelas terkait dengan hasil montoring. Hal ini diharapkan bisa menjadi sumber belajar fasilitator dan orangtua. Tim membawa feedback untuk didiskusikan dengan mentor dan orangtua untuk membangun pengetahuan bersama dari hasil riset masing-masing anak melalui proses fasilitasi di kelas. (lip)


There is no ads to display, Please add some

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *