12 Kabupaten/Kota di Indonesia Susun Rencana Aksi Pengurangan Emisi Metana Sampah

beritabernas.com – Sebanyak 12 kabupaten dan kota dari sejumlah daerah di Indonesia mulai menyusun rencana aksi pengurangan emisi metana dari sektor sampah organik. Langkah ini menjadi bagian dari upaya mendukung target pengurangan emisi sekaligus mendorong pengelolaan sampah yang terintegrasi dengan sistem pangan berkelanjutan. Kegiatan ini juga dihadiri perwakilan dari Pusat Pengendalian Lingkungan Hidup (Pusdal LH) Jawa dan Pusdal LH Bali dan Nusa Tenggara.

Kegiatan penyusunan rencana aksi pengurangan emisi metana sampah digelar di sela agenda pelatihan dan konsolidasi yang berlangsung di Hotel Southern Surabaya, Kamis 21 Mei 2026. Program tersebut melibatkan enam organisasi masyarakat sipil yang tergabung dalam Aliansi Zero Waste Indonesia.

Baca juga:

Direktur Eksekutif Direktur YPBB (Yaksa Pelestari Bumi Berkelanjutan) David Sutasurya mengatakan YPBB bertindak sebagai koordinator proyek dengan melibatkan sejumlah organisasi pendamping di berbagai wilayah.

“Total ada enam organisasi yang terlibat. Masing-masing mendampingi kabupaten dan kota di wilayah berbeda, mulai dari Jabodetabek, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur hingga Bali,” ujar David.

Ia menjelaskan, kegiatan tersebut bertujuan mempertemukan organisasi pendamping dengan pemerintah daerah sekaligus memperkenalkan konsep rencana aksi pengurangan emisi metana.

Direktur Eksekutif Yaksa Pelestari Bumi Berkelanjutan David Sutasurya (kiri) saat memberikan materi Rencana Aksi Pengurangan Metana dari Sampah di Southern Hotel Surabaya 21 Mei 2026. Foto: Dok Pusdal LH Jawa

Menurut David, pengurangan emisi metana dari sektor sampah organik kini menjadi perhatian global setelah masuk dalam agenda konferensi perubahan iklim dunia atau COP melalui Global Methane Pledge.

“Daerah perlu memahami kenapa emisi metana penting ditangani, termasuk aspek teknis pengelolaan sampah organik dan tata kelolanya. Nantinya dokumen ini bisa menjadi bagian dari rencana induk pengelolaan sampah daerah,” katanya.

Ia menambahkan, pengelolaan sampah organik juga akan diintegrasikan dengan sektor pangan karena berkaitan dengan isu food loss dan food waste.

Sebanyak 12 kabupaten dan kota yang hadir berasal dari wilayah Jabodetabek, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Bali. Setelah pelatihan ini, masing-masing daerah akan menyusun rencana aksi pengurangan emisi metana selama beberapa bulan ke depan.

Selain itu, pemerintah daerah yang berkomitmen akan menandatangani Cities Methane Pledge sebagai bentuk dukungan terhadap agenda pengurangan emisi metana global.

“Daerah yang bersedia menandatangani Cities Methane Pledge akan mendapat pendampingan dalam proses penyusunan hingga implementasi rencana aksi,” ujar David.

Direktur Eksekutif YPBB (Yaksa Pelestari Bumi Berkelanjutan) David Sutasurya tengah memberikan. Materi Rencana Aksi Pengurangan Metana dari Sampah. Foto: Dok Pusdal LH Jawa

Ia menyebut hasil pendampingan tersebut juga akan dipromosikan dalam kongres pengelolaan sampah organik tingkat Asia Pasifik yang dijadwalkan berlangsung di Jakarta menjelang konferensi perubahan iklim dunia di Turki pada November mendatang.

David berharap program ini dapat menjadi model nasional dalam pengurangan emisi metana dari sektor sampah. Meski baru melibatkan 12 daerah, pihaknya juga mulai membangun komunikasi dengan sejumlah kementerian, seperti Kementerian Lingkungan Hidup, Bappenas dan kementerian terkait sektor pangan.

“Kami ingin mendorong koordinasi lintas sektor agar pengurangan emisi metana dari sampah organik bisa masuk dalam kebijakan daerah maupun nasional,” katanya.

Terkait pembiayaan, David mengatakan program akan dijalankan dengan skema co-financing. Bantuan teknis berasal dari organisasi pendamping, sedangkan pemerintah daerah turut mendukung pelaksanaan kegiatan di wilayah masing-masing. (Yustinus Ade, Staf Pusdal LH Jawa)


There is no ads to display, Please add some

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *