Menjaga Napas Kota dari PDU Jambangan

Oleh: Yustinus Ade Stirman, Ahli Muda Penyuluh Lingkungan Pusdal LH Jawa

beritabernas.com – Pada Rabu 20 Mei 2026 pagi, langit Surabaya tampak bersih setelah beberapa hari diguyur hujan. Matahari muncul perlahan di sela awan, sementara halaman The Southern Hotel Surabaya mulai ramai oleh puluhan peserta Zero Waste Academy-Rencana Aksi Pengurangan Metana dari Sampah.

Sekitar 50 peserta dari 12 kabupaten dan kota berkumpul sejak pukul 07.00 WIB. Mereka datang dari berbagai daerah dengan satu tujuan yang sama: melihat langsung bagaimana Surabaya mengelola sampah.

Empat unit HiAce berangkat pukul 07.30 WIB menuju Pusat Daur Ulang (PDU) Jambangan. Di dalam kendaraan, percakapan mengalir santai. Ada yang bercerita tentang persoalan tempat pembuangan akhir di daerahnya, ada pula yang penasaran bagaimana Surabaya mempertahankan sistem pengelolaan sampah yang selama ini menjadi rujukan banyak kota.

Para peserta Zero Waste Academy-Rencana Aksi Pengurangan Metana dari Sampah saat berada di Pusat Daur Ulang Jambangan. Foto: Yustinus Ade

Bagi para peserta, kunjungan ini bukan sekadar studi teknis. Mereka ingin memahami bagaimana pengelolaan sampah dibangun sebagai sebuah sistem, mulai dari regulasi, kelembagaan, pendanaan, hingga keterlibatan masyarakat.

“Kalau teknis pengolahan mungkin sudah banyak diketahui. Tetapi soal kelembagaan, koordinasi, dan pendanaan, itu yang ingin dipelajari lebih jauh,” ujar fasilitator Nol Sampah Surabaya Hani Ismail.

Sekitar pukul 08.00 WIB, rombongan tiba di PDU Jambangan. Dari kejauhan, suara mesin pencacah terdengar bersahutan. Di dalam area pengolahan, sejumlah pekerja berdiri di sisi conveyor yang terus bergerak, memilah sampah dengan ritme yang nyaris tanpa jeda.

Puluhan gerobak sampah masuk setiap hari ke fasilitas tersebut. Sampah ditimbang lebih dulu, lalu dibongkar dan dipilah secara manual. Di tempat itulah, sampah rumah tangga yang sehari-hari dianggap tak bernilai mulai diproses menjadi sesuatu yang berguna kembali.

“Tenaga kerja di sini ada 17 orang. Statusnya harian lepas dan digaji pemerintah kota,” kata Hadi, pengawas PDU Jambangan.

Menurut Hadi, volume sampah biasanya meningkat drastis menjelang Lebaran. Warga cenderung membersihkan rumah sebelum mudik sehingga jumlah sampah yang masuk melonjak. “Kalau mendekati Lebaran bisa sampai 8,5 ton per hari,” ujarnya.

Peserta mendengarkan penjelasan tentang proses pengomposan dengan sistem aerasi. Foto: Yustinus Ade

Di dalam bangunan pengolahan, peserta melihat langsung tahapan pemilahan melalui tiga conveyor. Pada conveyor pertama, petugas membuka kantong plastik dan memisahkan sampah organik, anorganik, dan residu. Conveyor kedua digunakan untuk memilah material yang masih memiliki nilai ekonomi seperti botol plastik, aluminium, kaca, besi, dan kertas.

Sementara itu, conveyor ketiga khusus menangani sampah organik. Sisa makanan, sayur, dan buah dicacah menggunakan mesin sebelum masuk proses pengomposan.

Berbeda dengan metode konvensional yang membutuhkan waktu hampir satu bulan, PDU Jambangan menggunakan sistem aerasi. Udara dialirkan ke dalam tumpukan kompos agar mikroorganisme tetap aktif mengurai sampah. “Kalau di sini pakai aerasi, jadi sekitar 10 hari sudah jadi kompos,” kata Hadi.

Metode itu bukan hanya mempercepat proses pembusukan. Sistem aerasi juga membantu mengurangi pembentukan gas metana yang biasanya muncul dari pembusukan tanpa oksigen. Karena itu, metode ini dinilai lebih ramah lingkungan dan mendukung upaya pengurangan emisi dari sektor persampahan.

Para peserta tampak aktif bertanya mengenai alur kerja, tantangan operasional, hingga proses pengangkutan sampah. Namun, menurut Hadi, persoalan terbesar justru bukan terletak pada teknologi.

Baca juga:

“Tantangan paling besar tetap pemilahan dari rumah. Kalau warga sudah memilah, jangan sampai dicampur lagi saat pengangkutan,” ujarnya.

Hasil pemilahan sampah anorganik kemudian dipres menjadi bal-bal besar sebelum dijual ke pengepul. Dalam satu bulan, hasil penjualan material daur ulang dapat mencapai Rp15 juta hingga Rp17 juta. Sebagian pendapatan itu dibagikan kepada para pekerja.

PDU Jambangan sendiri dibangun pada 2016 sebagai bentuk penghargaan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan kepada Kota Surabaya atas keberhasilannya meraih Adipura. Hingga kini, fasilitas tersebut masih aktif beroperasi dan menjadi salah satu pusat pengolahan sampah yang terus berjalan optimal.

Usai dari PDU Jambangan, rombongan melanjutkan perjalanan menuju TPS 3R Pondok Manggala TPS 3R Pondok Manggala di kawasan Perumahan Pondok Manggala, Kecamatan Wiyung, Surabaya Barat, untuk melihat pengelolaan sampah berbasis masyarakat.

Kunjungan lapangan hari itu meninggalkan kesan tersendiri bagi banyak peserta. Mereka tidak hanya melihat proses pengolahan sampah, tetapi juga menyaksikan bagaimana sebuah sistem dibangun melalui kolaborasi antara pemerintah dan warga.

Angga, peserta dari Bali Nusra, mengaku terkesan dengan pengelolaan sampah di Surabaya, terutama keterlibatan masyarakat dalam prosesnya. “Pengelolaan organik dan anorganiknya berjalan baik. Ini jadi pembelajaran penting untuk kami,” katanya.

Hal senada disampaikan I Ketut Darmawan dari Dinas Lingkungan Hidup dan Pertanahan Kabupaten Klungkung, Bali. Menurut dia, kekuatan utama pengelolaan sampah di kawasan Manggala justru terletak pada semangat gotong royong warganya. “Ada rasa memiliki dan kebersamaan yang kuat untuk menyelesaikan persoalan sampah,” ujarnya.

Bagi peserta lain, kunjungan lapangan memberi pemahaman yang lebih nyata dibanding sekadar membaca laporan atau menonton tayangan di televisi. “Kita jadi tahu kondisi sebenarnya di lapangan,” kata Cipta dari Dinas Lingkungan Hidup Kota Surabaya.

Peserta melihat proses pengomposan dengan sistem aerasi. Foto: Yustinus Ade

Sementara Erma dari Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta menilai pola pengelolaan sampah di Surabaya sebenarnya tidak jauh berbeda dengan Jakarta. Namun, Surabaya dinilai lebih diuntungkan dari sisi ketersediaan lahan.

“Kalau pola pengelolaannya sebenarnya mirip. Bedanya, Surabaya masih punya dukungan lahan yang lebih memadai,” ujar Erma.

Menjelang siang, aktivitas di PDU Jambangan tetap berjalan tanpa henti. Conveyor terus bergerak. Mesin pencacah masih meraung. Para pekerja tetap memilah sampah yang datang silih berganti.

Di tempat itu, sampah bukan sekadar limbah yang harus dibuang. Dari tangan-tangan para pekerja, tumpukan sampah perlahan diubah menjadi sesuatu yang lebih bernilai.

Di tengah persoalan sampah perkotaan yang semakin kompleks, PDU Jambangan menunjukkan satu hal sederhana: menjaga kota tetap hidup kadang dimulai dari pekerjaan yang jarang terlihat, yakni memilah sampah satu demi satu. (*)


There is no ads to display, Please add some

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *