101 Peserta Ikuti Retret Tentang Merawat Ibu Bumi dengan Semangat Laudato Si’

beritabernas.com – Sebanyak 101 peserta mengikuti retret Laudato Si’ yang diselenggarakan oleh Gerakan Laudato Si’ Indonesia Keuskupan Surabaya di rumah Retret Dharmaningsih, Claket, Mojokerto, Jawa Timur., pada Sabtu-Minggu, 7-8 Februari 2026.

Kegiatan yang berlangsung di kompleks rumah retret para Suster SSPS itu mengangkat tema Merawat Ibu Bumi dengan Semangat Laudato Si’. Para peserta merupakan utusan dari 24 paroki, tarekat, sekolah, karya kesehatan dan yayasan Katolik seluruh Keuskupan Surabaya. Mereka terdiri dari para Suster SND dari Lasem, utusan umat dari paroki-paroki di kota Surabaya, hingga para guru dan staf kesehatan di Blitar. Puluhan OMK juga nampak di antara para peserta. Keragaman ini menjadikan pelatihan ini kaya akan interaksi dan dinamika.

Kegiatan yang diketuai oleh Sr Sisilia, SSPS ini bertujuan untuk membangun kesadaran dan pemahaman dasar peserta akan pesan ensiklik Laudato Si’, memahami akar masalah krisis lingkungan saat ini secara kritis, membangun spiritualitas Laudato Si’ dan mengembangkan ketrampilan praktis ber-Laudato Si’.

Pada hari pertama kegiatan dengan tema Melihat dan Menimbang: Memahami Krisis Rumah Bersama ini dimulai Sabtu pagi pukul 09.00 dengan pembukaan dan sesi oleh Cyprianus Lilik Krismantoro Putro, Ketua Tim Kerja Nasional Gerakan Laudato Si’ Indonesia.

Sebanyak 101 peserta mengikuti retret Rumah Retret Dharmaningsih, Claket, Mojokerto, Jawa Timur, Sabtu-Minggu, 7-8 Februari 2026. Foto: Istimewa

Pada kesempatan itu, Cyprianus Lilik Krismantoro Putro mengajak peserta menjawab bersama tema Apa yang Sedang Terjadi pada Rumah Kita Bersama? Dalam sesi ini peserta diajak untuk memahami batas-batas planeter bumi dan kontekstualisasinya dalam situasi Jawa Timur. Tiga skenario krisis ekologis di masa depan diajukan dan ditutup dengan undangan membangun praksis pertobatan ekologis dalam inspirasi Doughnut Economics dari Kate Raworth.

Sementara sesi II bertajuk Akar Manusiawi dari Krisis Ekologis juga disampaikan oleh pembicara yang sama dengan mengajak peserta melakukan pembongkaran asumsi tentang krisis ekologis. Ia menyebut 4 akar krisis ekologis sebagaimana disampaikan dalam ensiklik Laudato Si yakni dominasi paradigma teknokratik, antroposentrisme berlebihan, relativisme praktis dan krisis moral dan spiritual masyarakat.

Mgr Agustinus Tri Budi Utomo, Uskup Surabaya, mengejutkan peserta dan panitia dengan hadir mendadak dan menyapa semua peserta. Dalam sapaannya, Mgr Didik mengajak peserta untuk segera bertindak dan memulai dari hal-hal yang peserta semua bisa, mulailah segera dan mulailah apa adanya di basis masing-masing.

Uskup juga menyampaikan komitmen ekologis Keuskupan dengan pengembangan Laudato Si’ Center Keuskupan Surabaya seluas 10 hektar dengan fokus utama konservasi tanaman-tanaman langka. Ia juga menyampaikan agenda untuk menyelenggarakan kegiatan Yubileum Laudato Si’ dalam rangka 800 tahun Santo Fransiskus Asisi yang dirayakan Gereja Universal pada 10 Januari 2026-10 Januari 2027.

Selanjutnya Uskup menyampaikan rencana surat gembala terkait pembumian ensiklik Laudato Si’ di tengah kehidupan umat di Keuskupan Surabaya.

Baca juga:

Sementara Rm Markus Marcelinus Hardo Iswanto CM, Ketua PSE kKuskupan Surabaya dan inisiator utama kegiatan ini mengajak peserta menggali inspirasi iman melalui sesi Apa yang Diajarkan Iman Kita? Romo Harda CM juga mengajak mengenal ajaran-ajaran iman Katolik yang menyerukan pembelaan dan pelestarian kehidupan.

Kemudian peserta diajak mengolah kesadaran kritis tentang isu keberlanjutan melalui sesi Analisis Sosial Ekologis yang disampaikan Cyprianus Lilik Krismantoro P, Suster Sisilia SSPS dan Sr Suhartati, OSU. Mereka mengajak peserta untuk berefleksi dan berdoa malam.

Pada hari kedua dengan tema Bertindak: Komitmen Ekologis dan Tindakan Nyata dimulai dengan misa yang dilanjutkan dengan pemberkatan dan aksi bersama penanaman 30 bibit pohon di lahan terbuka rumah retret. Kegiatan ini menandai bukan hanya pertobatan ekologis pribadi melainkan membangun aksi partisipatif seluruh animator.

Kristien Yuliarti dari TKN GLSI membagikan pengalaman-pengalaman kongkrit dalam aksi Laudato Si’ dan menggugah peserta. Sedangkan Sr Stefani SSpS dengan sangat hidup dan meriah membekali peserta dengan materi spiritualitas ekologis yang konkret dan kuat.

Pelatihan ditutup dengan presentasi rencana aksi dari setiap Kevikepan dan kelompok kategorial. Perencanaan ini memastikan bahwa setelah kembali dari Claket, peserta memiliki program kerja nyata untuk diimplementasikan di komunitas lokal mereka.

Sebagian peserta retret Laudato Si’ yang diselenggarakan oleh Gerakan Laudato Si’ Indonesia Keuskupan Surabaya di rumah Retret Dharmaningsih, Claket, Mojokerto, Jawa Timur, pada Sabtu-Minggu, 7-8 Februari 2026. Foto: Istimewa

“Acara ini seharusnya berlangsung tiga hari, mas,” kata Gaby, peserta muda dari Paroki Kepanjen, Surabaya yang juga pegiat seni merangkai bunga. Ia melihat padat dan pentingnya materi perlu dibahas dengan lebih mendalam.

Sementara itu guru kelas 4 SDK Santa Maria Blitar Agnes Fitriana merasa tertantang bagaimana membawa pesan Laudato Si’ ini ke tengah-tengah rekan kerjanya, sementara secara pribadi ia merasa belum mampu membangun gaya hidup yang ramah lingkungan.

Romo Harda CM secara khusus juga mendorong agar alumni kegiatan ini bisa masuk ke paroki-paroki dan menjadi penggerak utama Laudato Si’ di paroki masing-masing. Ia juga berharap agar segenap pegiat kemanusiaan, kebencanaan, serta keadilan dan pedamaian di keuskupan Surabaya dapat semakin bersinergi dalam satu reksa pastoral Keuskupan Surabaya.

Sementara melalui pesan video, Rm Marthen Jenarut Pr yang sedang berada di Putussibau, Keuskupan Sintang, selaku Sekretaris Eksekutif Komisi Keadilan dan Perdamaian-Pastoral Migran dan Perantau Konferensi Waligereja Indonesia secara khusus mengapresiasi kegiatan ini dan Keuskupan Surabaya yang dengan masif melakukan animasi tentang keadilan ekologis berdasarkan nilai-nilai Laudato Si’.

Suasana retret Laudato Si’ yang diselenggarakan oleh Gerakan Laudato Si’ Indonesia Keuskupan Surabaya di rumah Retret Dharmaningsih, Claket, Mojokerto, Jawa Timur, pada Sabtu-Minggu, 7-8 Februari 2026. Foto: Istimewa

Ia berharap agar upaya ini tidak hanya berhenti pada aksi ekologis semata tetapi harus bergerak di dalam prinsip-prinsip keadilan sosial, karena krisis ekologis juga berarti krisis kemanusiaan. Dengan pelatihan ini bisa mengubah cara berpikir, cara hidup dan mengubah orang semakin menjadi saudara dengan alam dan sesama ciptaan.

Bagi Gerakan Laudato Si’ Indonesia sendiri, perjumpaan ini menjadi bagian dari tindak lanjut Pertemuan Nasional 10 tahun Ensiklik Laudato Si’ yang diselenggarakan pada 5-7 September 2025 di Sentul City, Bogor dengan LSI Chapter Keuskupan Bogor selaku tuan rumah.

Kegiatan ini menghasilkan tiga rekomendasi yakni memprioritaskan animasi Laudato Si’ di keuskupan-keuskupan melalui training dan retret, menyapa orang muda Katolik, dan enataan organisasi dan database jejaring animator Laudato Si’ di seluruh Indonesia.

Kegiatan ini merupakan tindak lanjut dari kegiatan yang diselenggarakan di Sentrum Pastoral Kevikepan Makassar pada 6-7 Januari 2026 lalu dan akan berlanjut di Jakarta pada bulan April 2026. (phj)


There is no ads to display, Please add some

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *