Menghidupkan Wisata yang Mensejahteraan Masyarakat Yogyakarta

Oleh: Anton Sumarjana, Pecinta Wisata Yogyakarta

beritabernas.com – Merespon melimpahnya kunjungan wisatawan ke DIY pada Liburan Natal 2025 dan Tahun Baru 2026, Sosiolog dari UGM Dr Arie Sujito menyatakan bahwa wisata di Yogyakarta berpotensi jenuh karena manfaat ekonominya cuma dinikmati oleh para pemodal.

Benarkah demikian? Ya, bisa jadi. Kita semua merasakan sendiri saat musim liburan Natal 2025 dan Tahun Baru 2026, jalanan macet, sampah jadi lebih banyak, tapi apakah benar keuntungan cuma nyampe pedagang besar dan pemilik hotel aja?

Tunggu dulu. Jangan langsung putus asa! Kita punya cerita lain yang jauh lebih menarik dari itu. Ingat kan desa wisata Widosari? Dari Pokdarwis biasa aja, berkembang menjadi koperasi yang mengelola semua aset wisata lokal. Petani dapat menjual hasil tani langsung ke wisatawan. Ibu-ibu bisa berjualan kerajinan dengan harga yang adil, dan uang yang masuk bisa dipakai memperbaiki jalan desa. Bukan cuma pemodal yang untung, tapi seluruh warga desa yang merasakan manfaatnya.

Dusun Widosari ini berada di perbukitan Menoreh, batas Kabupaten Kulon Progo, DIY dengan Kabupaten Purworejo, Jateng. Dusun Widosari berada di Kelurahan Ngargosari, Kapanewon Samigaluh, Kabupaten Kulon Progo. Udaranya sejuk, berada di ketinggian 900 dpl, dengan view alam yang memukau.

Batu purba raksasa merupakan salah satu magnet wisata di Widosari. Bentuknya mirip wajah manusia. Wisatawan yang berkunjung ke sana dapat memandang dengan kagum Gunung Sindoro, Sumbing, dan Merapi, dari atas batu raksasa ini.

Pemandangan Candi Plaosan yang memukau. Foto: Clementine Roesiani

Warga setempat mengembangkan berbagai jenis wisata, mulai dari wisata alam yang menyajikan panorama memikat berupa pemandangan perbukitan ngarai dan embah yang memesona, wisata Perkebunan teh Kemadon, peternakan domba, dan bahkan membuat kerajinan dari janggel (tongkol jagung). Tradisi Gendurenan, Merti Desa dan  Nyadran pun bisa menarik perhatian para wisatawan lo, itu di dusun Widosari.

Lain lagi di Kelurahan Gedong Kiwo, Kapanewon Mantrijeron, Kota Yogyakarta. Masyarakat perkotaan di Mantrijeron ini berhasil mengelola sampah rumah tangga sehingga mampu menciptakan lingkungan asri, rapi dan bersih. Kondisi lingkungan yang sehat seperti itu tentu membuat nyaman, selain warga sendiri juga pendatang, termasuk para wisatawan.

 Warga mengelola sampah dengan kreatif. Mereka bikin biopori jumbo dengan swadaya, memilah sampah jadi yang bisa didaur ulang dan yang jadi pupuk organik. Dengan cara kreaif ini, warga berhasil menekan timbunan sampah limbah rumah tangga sehari-hari. Dengan cara mandiri yang dikenal Mas Jos atau MantriJeron Oleh Sampah ini warga berhasil menciptakan lingkungan jadi lebih bersih, wisatawan seneng datang, dan bahkan ada yang mau belajar cara mengelola sampah dari warga Mantrijeron.

Ternyata dengan warga mengelola sampah dengan baik, maka kebersihan akan terjaga dengan baik. Lingkunan yang bersih, rapi dan asri membuat wisatawan bakalan datang, dan datang lagi. Bukan cuma warga setempat yang merasa nyaman tinggal, tapi juga dapat mendatangkan cuan terus-menerus.

Dua contoh di atas, bagaimana masyarakat perbukitan di Dusun Widosari mengembangkan wisata lokal yang berdampak baik bagi kesejahteraan warga setempat,  dan warga Mantrijero dengan strategi Mas JOS menggambarkan wajah pengelolaan wisata di Jogya yang berdampak pada kesejahteraan warga setempat, merata, bukan hanya dinikmati oleh elite pemodal.

 Secara umum, masyarakat DIY masih dapat meningkatkan kualitas produk UMKM sehingga naik derajat. Tenun setagen di Kapanewon Nanggulan, bisa diversifikasi produk, bukan hanya setagen, dapat juga dikreasi menjadi tas, selendang, dan sebagainya. Seperti halnya kerajinan anyam bambu di Minggir, Sleman, bukan hanya dalam bentuk besek, juga dibentuk menjadi kemasan yang manis dan cantik untuk ayam bakar dan nasi kotak yang berkesan kekotaan.

Baca juga

Aneka kreasi kerajinan rakyat ini memungkinkan masyarakat tidak sekadar berjualan produk kerajinan biasa, tapi produk yang punya nilai budaya dan kualitas internasional. Sehingga produk itu mampu bersaing dan menembus pangsa pasar yang lebih besar.

Bidang transportasi umum dan masalah parkir dapat diatur dengan lebih baik, sehingga mengurangi kemacetan dan memperbaiki imej getok parkir. Warga bisa beraktivitas dengan nyaman, wisatawan juga bisa nikmati Jogja tanpa harus bete karena macet. Pengguna kendaraan pun merasa lebih nyaman dan aman.

Pernyataan Sosiolog Arie Sujito memang perlu kita renungkan. Tapi itu bukan berarti kita harus menyerah dan membiarkan wisata Jogja hanya dinikmati oleh sebagian orang saja. Jogja selain punya cerita, juga punya nilai yang luar biasa- dari budaya, alam, sampai ke keramahan masyarakatnya. Itu adalah modal utama kita yang tidak bisa dibeli dengan uang!

Wisata di Jogja bisa jadi lebih baik, lebih ramah, dan lebih banyak menarik wisatawan-sambil memastikan manfaatnya dinikmati oleh semua lapisan masyarakat. Mulai dari yang kecil aja kok, mulai dari membuang sampah pada tempatnya, belanja di UMKM lokal, atau bahkan ikut dalam kegiatan pengelolaan destinasi wisata di daerah kita.

Setiap desan di DIY merupaan destinasi wisata. Namun Jogja bukan cuma destinasi wisata, tapi juga rumah kita. Semakin kita menjaga dan mengembangkannya dengan baik, semakin banyak kebahagiaan dan kesejahteraan yang dapat kita nikmati bersama! (*)


There is no ads to display, Please add some

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *