beritabernas.com – Gua Maria Bunda Gereja Jurang Metes yang berada di Dusun Metes, Desa Argomulyo, Kecamatan Sedayu, Kabupaten Bantul, DIY menjadi salah satu tujuan favorit kegiatan mlampah ziarah yang dilakukan Komunitas Mlampah Ziarah (KMZ).
Sejak komunitas itu terbentuk bulan Juli 2025 hingga saat ini setidaknya sudah dua kali anggota Komunitas Mlamph Ziarah (KMZ) melakukan kegiatan mlampah ziarah ke Gua Maria Bunda Gereja Jurang Metes Sedayu.

Apa yang menarik dari Gua Maria Buda Gereja Jurang Metes? Selain jaraknya yang tidak terlalu jauh untuk ukuran anggota KMZ yang hanya 17-an kilometer dari Tugu Jogja, suasana tempat ziarah ini sangat tenang, berada di lembah bawah tebing yang selalu diiringi gemericik air terjun kecil di sekitarnya. Udara sangat sejuk karena berada di bawah pepohonan alami yang rimbun/rindang ditambah dengan keberadaan air yang terus mengalur di area samping gua Maria.
Pada Minggu 22 Pebruari 2026, sedikitnya 51 anggota Komunitas Mlampah Ziarah (KMZ) melakukan kegiatan mlampah ziarah ke Gua Maria Bunda Gereja Jurang Metes. Dengan start dari Tugu Jogja, mereka menyusuri Jalan Pangeran Diponegoro lurus ke barat hingga Jalan Godean dan setelah pertigaan arah ASMI Santa Mari lalu belok kiri melewati perkampungan, persawahan hingga tembus Depo Pertamina Rewulu lalu menyeberang ke selatan menuju arah Gua Maria Jurang Metes.
Baca juga:
- Komunitas Mlampah Ziarah Menjadi Inspirasi yang Menggerakkan Umat untuk Berpartisipasi
- Tiada Hari Tanpa Mlampah Ziarah, Kurang Gawean?
- Meski Rute WMSS Special Sangat Menantang, Semua Peserta Tetap Merasa Senang
- Berhasil Melewati Rute WMSS Special yang Menantang, Itu Mukjizat Kecil
Dengan dukungan cuaca yang sangat bersahabat, tidak panas dan tidak hujan, para peserta yang umumnya biasa mengikuti kegiatan Walking Marathon de Sendangsono (WMSS) yang rutin diadakan setiap bulan, benar-benar menikmati perjalanan. Di sepanjang perjalanan suara gelak tawa selalu terdengar. Tak jarang berhenti hanya sekadar berfoto dan video setiap ada view yang indah dan menarik.
“Di sinilah letak kebahagiaan kami. Ada kebersamaan, ada gelak tawa, ada foto bersama dan saling berbagi makanan. Ini sesuatu yang tidak ditemukan di komunitas-komunitas lain yang pernah kami ikuti,” kata Lies Ratnawati, salah seorang peserta yang aktif mengikuti kegiatan mlampah ziarah.

Apa yang disampaikan Budhe Lies-sapaan akrab Lies Ratnawati-boleh jadi mewakili alasan peserta lainnya sekaligus menjadi jawaban atas pertanyaan Roni Romel, Ketua Komunitas Mlampah Ziarah (KMZ). Dalam sesi sharing pengalaman usai doa Rosario, Roni Romel bertanya: kalian mendapat apa setiap mengikuti kegiatan mlampah ziarah?
Pertanyaan itu disampaikan Roni Romel karena hampir setiap kali ada kegiatan mlampah ziarah dengan tempat-tempat yang berbeda-beda dan jarak yang cukup jauh selalu diminati banyak peserta, sampai-sampai panitia terpaksa membatasi jumlah peserta (menetapkan kuota maksimal). Jangankan jarak yang relatif dekat untuk ukuran anggota Komunitas Mlampah Ziarah antara 17-20 kilometer, jarak yang jauh pun seperti Tugu Jogja-Sendangsono sejauh 29 kilometer atau WMSS Special Muntilan-Sendangsono sejauh 33 kilometer, tetap banyak peserta yang berminat.

Hampir semua peserta mengaku ada rasa bahagia setiap mengikuti kegiatan mlampah ziarah. Dan kebahagiaan itu tidak bisa diukur atau dinilai dengan uan atau materi apapun. Itu hanya dirasakan. Karena selalu merasa bahagia itulah yang membuat peserta selalu mengikuti kegiatan mlampah ziarah.
Dalam catatan beritabernas.com, dalam setiap kegiatan mlampah ziarah, hampir semua peserta dengan sukarela atau inisiatif sendiri/tanpa diminta membawa makanan dan minuman untuk kemudian dimakan/ diminum bersama di tempat tujuan. Tidak hanya makanan ringan, tapi juga makanan berat seperti nasi, sayur dan lauk pauk untuk dimakan bersama. Kebersamaan seperti saudara, meski baru kenal, itulah yang membuat peserta merasa bahagia. Dalam setiap kegiatan mlampah ziarah, selain makan bersama dan sharing pengalaman, selalu diadakan doa Rosario bersama.

Roni Romel selaku Ketua Komunitas Mlampah Ziarah pun berharap suasana seperti ini harus selalu dijaga dan dipertahankan agar anggota komunitas selalu merasa bahagia. Dengan merasa bahagi dalam komunitas maka diharapkan juga anggota terus bertambah, terutama dari kalangan OMK (Orang Muda Katolik).
Sebab, sebagian besar anggota komunitas yang ada sekarang sudah senior sehingga kehadiran para OMK bisa melanjutkan kegiatan mlampah ziarah ketika para senior sudah tak mampu lagi mengikuti kegiatan mlampah ziarah karena faktor usia atau alasan-alasan lainnya. (phj)
There is no ads to display, Please add some