Dr Raden Stevanus Ajak Generasi Muda Maknai Jogja sebagai Benteng Terakhir Republik

beritabernas.com – Anggota DPRD DIY dari Partai Solidaritas Indonesia (PSI) Dr. Raden Stevanus Christian Handoko S.Kom MM memberikan catatan krusial dalam peringatan Hari Penegakan Kedaulatan Negara, 1 Maret. Dalam momen ini, ia mengajak generasi muda agar memaknai Jogja sebagai benteng terakhir Republik.

Menurut Dr Raden Stevanus, peristiwa Serangan Umum 1 Maret 1949 bukan sekadar fragmen perang, melainkan pernyataan eksistensi bangsa kepada dunia internasional. Ia pun mengingatkan kembali pesan Bung Karno tentang Jasmerah (Jangan Sekali-kali Melupakan Sejarah).

Baca juga:

“Memahami sejarah 1 Maret bukan untuk terjebak di masa lalu, melainkan sebagai kompas agar kita tidak kehilangan arah dalam menentukan masa depan bangsa di tengah gempuran modernitas hingga perubahan geopolitik,” kata Dr Raden Stevanus.

Dr Raden Stevanus menggarisbawahi bahwa Yogyakarta bukan sekadar kota budaya, melainkan “Ibu Kota Perjuangan”. Tanpa keberanian Jogja menampung pusat pemerintahan saat itu, narasi kedaulatan Indonesia mungkin akan terputus. Strategi diplomasi dan militer yang lahir dari sini menjadi kunci pengakuan kedaulatan di mata internasional.

Menurut Dr Raden Stevanus, peran Sri Sultan HB IX sangat krusial sebagai otak di balik operasi ini. “Kita harus mengakui keberanian moral dan visi politik HB IX. Beliau tidak hanya memberikan ruang bagi gerilya, tetapi secara aktif menginisiasi langkah-langkah strategis untuk membuktikan bahwa TNI dan Pemerintah RI masih ada,” ujar Dr Raden Stevanus.

Dr Raden Stevanus Christian Handoko. Foto: Dok pribadi

Salah satu kekuatan utama Serangan Umum 1 Maret adalah loyalitas tanpa batas rakyat Jogja. Ia menyoroti bagaimana warga sipil, mulai dari pedagang pasar hingga kaum muda, bergerak dalam satu komando bersama dengan pasukan Republik. Persatuan antara pemimpin dan rakyat (manunggal) inilah yang menjadi kekuatan.

Harapan besar diletakkan pada pundak generasi Z dan Milenial. Beliau berpesan agar anak muda tidak hanya menjadi konsumen teknologi, tetapi juga paham literasi sejarah. “Menghargai perjuangan masa lalu berarti melanjutkan perjuangan hari ini dengan integritas dan inovasi,” kata Dr Raden Stevanus.

Ia menambahkan poin krusial mengenai konteks kedaulatan saat ini. Dikatakan, kedaulatan hari ini tidak lagi hanya soal mengangkat senjata, tetapi tentang kedaulatan data dan ekonomi. “Jika dulu kakek nenek kita berjuang melawan peluru, kini kita harus berjuang melawan ketergantungan teknologi dan kebodohan. Itulah cara kita menghormati pahlawan 1 Maret di era perkembangan teknologi digital,” kata Dr Raden Stevanus. (phj)


There is no ads to display, Please add some

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *