beritabernas.com – Banyak cara dilakukan orang untuk mengungkapkan rasa syukur atas berkat yang diterima dari Tuhan. Ada yang melakukan dengan cara berdoa di rumah dan ada pula yang melakukan dengan cara berjalan kaki sambil berdoa dalam jarak yang cukup jauh hingga 30 kilometer.
Bagi Paulus Sugito, warga Moyudan, Sleman, cara yang dipilih kali ini untuk mengungkapkan syukur adalah dengan melakukan mlampah ziarah atau ziarah dengan berjalan kaki seoang diri dari rumahnya di Joglo Lor mBale, Moyudan, Sleman ke Taman Doa Candi Hati Kudus Tuhan Yesus Ganjuran, Desa Sumbermulyo, Kecamatan Bambanglipuro, Kabupaten Bantul, berjarak 30 kilometer dengan waktu tempuh 11 jam 31 menit.
“Menurut google map, jarak dari rumah saya ke Ganjuran kurang lebih 30 km dengan waktu tempuh 6 jam 30 menit. Namun, untuk jarak yang sama, saya tempuh dalam waktu 11 jam 31 menit. Dalam usia saya 62 tahun, capaian itu tetap saya syukuri,” kata Paulus Sugito, salah satu anggota Komunitas Mlampah Ziarah (KMZ) yang berjalan kaki dari rumahnya ke Ganjuran, Bantul, Rabu 25 Maret 2026.
Ia melakukan itu seorang diri dan atas dukungan istri untuk mengucap syukur kepada Tuhan atas keberhasilan putranya, Yusuf Putera Utama, yang dalam usia masih muda sudah pada posisi direktur di sebuah konsultan big five.

“Ziarah kali ini sebagai bentuk ucap syukur kami karena dalam usia masih muda, anak saya sudah pada posisi direktur di sebuah konsultan big five dan semua ini adalah kasih dan kemurahan Tuhan.
Dalam doa kami, saya dan istri, selalu mohon: Ya Tuhan kirimkan orang-orang yang penuh kasih kepada anak kami Yusuf Putera Utama baik di kantor maupun di sekitar komunitas anak kami,” kata Paulus Sugito yang juga beberapa kali ikut kegiatan Walking Marathon de Sendangsono (WMSS) dari Tugu Jogja ke Gua Maria Lourdes Sendangsono, Kalibawang, Kulonprogo, DIY ini.
Sebelumnya, putranya juga sempat tidak diterima di 5 universitas untuk melanjutkan kuliah S2, namun berkat doa yang terus menerus, mukjizat pun tiba. Dalam titik tertentu, ia berdoa di depan patung Hati Kudus Tuhan Yesus Ganjuran. Sekiranya berkenan, Tuhan berikanlah tempat yang terbaik untuk studi anaknya. Ia pun berjanji, bila Tuhan mengabulkan doanya, ia akan pergunakan waktu yang Tuhan berikan untuk pelayanan.
“Puji Tuhan anak saya akhirnya keterima di Oxford Univercity London, Inggris. Sejak itu, saya tidak putus ikut misa malam Jumat Pertama di Gereja Ganjuran. Sekali dua kali, Kamis pagi saya berangkat dari Jakarta dan langsung ke Ganjuran. Sering juga sehabis misa, saya bermalam di Ganjuran, tidak tidur semalaman, mendaraskan doa dan jalan salib,” ungkap Paulus Sugito yang murah senyum dan murah hati ini.
Berjalan selama 11 jam lebih
Pada Legi 25 Maret 2026, Paulus Sugito mlampah ziarah atau ziarah dengan jalan kaki dari rumahnya Joglo Lor mBale menuju Candi Hati Kudus Yesus Ganjuran, Bantul. Berangkat dari rumah jam 05.00 pagi. Setelah berdoa memohon berkat dan penyertaan Tuhan sepaniang perjalanan, ia pamit istri untuk memulai mlampah ziarah ke Ganjuran.

Dalam ziarah kali ini, ia mulai dengan doa novena yamg didaraskan setiap jam mulai jam 5 di rumah, lalu keluar pagar rumah mulai mendaraskan doa rosario. Ketika masuk gereja Santo Petrus dan Paulus Klepu pukul 05.50 tepat saat Romo Insaf mengangkat tubuh Kristus (konsekrasi). Dalam iman Katolik, Ini adalah momen puncak saat imam mengucapkan kata-kata Yesus, mengubah roti dan anggur menjadi Tubuh dan Darah Kristus. Momen ini menandakan kehadiran nyata Yesus dalam Ekaristi.
“Dalam hati saya berdoa mempersembahkan keluarga dan semua pekerjaan serta niat baik kami. Setelah mendaraskan doa Malaikat Tuhan dan doa novena jam 2, saya melanjutan perjalanan. Sempat mampir pasar Ngijon yang tadinya mau beli jajanan, saya urungkan karena istri telah menyiapkan bekal telor rebus, jagung rebus dan air rempah,” cerita Pak Gito, sapaan akrab Paulus Sugito.
Dari Pasar Nggijon ke arah timur, perempatan Gedongan ambil arah ke selatam (Sedayu). Selepas perempatan Gedongan, ia berhenti di dekat Pukesmas Moyudan untuk doa novena dan makan bekal yang dibawa. Sepanjang perjalanan ia mendengarkan lagu-lagu rohani Nderek Dewi Maria, Maria Bunda Penolong Abadi dan Peluk Aku Tuhan. Ia mendengarkan berulang-ulang. Pada pukul 08.17 ia tiba Gereja Santa Theresia Sedayu.
Baca juga:
- Ini Alasan Anggota Komunitas Mlampah Ziarah Selalu Antusias Mengikuti WMSS Tiap Bulan
- Umat Katolik Sangat Antusias Mengikuti Mlampah Ziarah Gereja Babadan-Cangkringan
- Komunitas Mlampah Ziarah Menjadi Inspirasi yang Menggerakkan Umat untuk Berpartisipasi
Setelah berdoa di depan patung Bunda Maria, ia melanjutkan perjalanan. Dari Gereja Sedayu, untuk doa rosario, ia ikut YouTube Gereja Kristus Raja Baciro. Selesai doa rosario, ia mampir warung untuk makan, ada warung di pinggir jalan, nasi rames lauk ceplok telor dan lele goreng dan 2 gelas teh manis.
Sepanjang perjalanan relatif panas, jarang ketemu pohon rindang. Setelah makan, perjalanan dilanjutkan.
Tiap jam cari tempat untuk berhenti untuk doa novena. “Saya cari tempat yang sepi dan nyaman, sempat juga numpang di tempat orang jual caping,” kata Pak Gito.
Pada pukul 13.12 ia tiba di Gereja Santo Yakobus Alfeus Pajangan, Bantu. Di gereja ini, ia tutup doa novena dalam semilir angin. Doa novena pertama pukul 05.00 dan terakhir pukul 13.00 atau 9 kali tiap jam. Selepas Gereja Pajangan, Pak Gito sempat makan siang berupa soto campur plus minum 2 gelas es teh dan es jeruk. Cuaca masih panas dan langkah sudah mulai lemah. Kaki sebenarnya tidak ada masalah, namun justru pinggang yang terasa sakit. “Pinggang sempat saya semprot salonpas spray tapi tidak pakai magic tisu seperti saran kawan-kawan Komunitas Mlampah Ziarah,” cerita Pak Gito.

pun merasa bangga dan bahagia karena banyak kawan anggota Komunitas Mlampah Ziarah (KMZ) yang memberikan semangat dan doa. Tiap kali istirahat, ia sempatkan berkabar dan baca komen dari kawan anggota komunitas mlampah ziarah di grup whatsapp. “Hal ini memberikan semangat yang luar biasa kepada saya,” katanya.
Bagi keluarga, terlebih bagi Pak Gito pribadi, Candi Hati Kudus Tuhan Yesus Ganjuran adalah tempat yang istimewa.
“Bagi saya, Candi Ganjuran merupakan tempat yang dikuduskan Tuhan, tempat doa dilambungkan, harapan dilantunkan dan semua hal dipersembahkan. Saya pribadi sebenarnya rutin ikut misa Malam Jumat pertama sekitar tahun 2018, namun sempat kepotong waktu pandemi tapi tidak lama
Saya ikut sejak misa dipimpin romo Tomo, di Plataran Candi Hati Kudus Tuhan Yesus Ganjuran. Umat berharap berkah dan mujizat,” cerita Pak Gito tentang alasannya mlampah ziarah ke Ganjuran untuk mengungkapkan syukur.
Bahkan ia pernah sendirian semalaman di Ganjuran saat pademi Covid-19 sehabis misa Jumat pertama. Saat itu hanya ada satpam dan cari minum susah karena semua warung tutup. (phj)

