Digitalisasi Konstruksi dan Mitigasi Bencana jadi Rekomendasi Strategis Seminar BARRATAGA Seri 080

beritabernas.com – Seminar BARRATAGA Seri 080, Sabtu 25 April 2026, melahirkan rekomendasi strategis terkait transformasi digital dan ketahanan infrastruktur nasional. Prof Ir H Sarwidi MSCE PhD IP-U ASEAN Eng APEC Eng, Guru Besar Universitas Islam Indonesia dalam Bidang Konstruksi dan Kebencanaan, selaku pengampu seminar berseri ini, menegaskan bahwa digitalisasi merupakan langkah mendesak di tengah ketidakpastian ekonomi global dan tantangan geoteknik di berbagai wilayah Indonesia.

Forum ini menjadi wadah penting bagi para pemangku kepentingan untuk merumuskan masa depan konstruksi yang lebih tangguh dan berkelanjutan.

Baca juga:

Dalam sesi diskusi, Dr Albani Musyafa yang menjadi salah satu narasumber menekankan urgensi adopsi teknologi melalui sepuluh pilar otomasi manajemen infrastruktur. Kita tidak lagi bisa bergantung pada metode manual. Digitalisasi dari fase pracetak hingga manajemen rantai pasok adalah keharusan untuk meningkatkan efisiensi dan transparansi,” ujarnya.

Sementara itu, Denny MT IPM, narasumber lainnya, menambahkan bahwa otomatisasi harus dibarengi dengan standarisasi bangunan serta peningkatan kualitas SDM melalui sertifikasi berjenjang hasil kolaborasi PII dan LPJK.

Aspek keselamatan turut menjadi sorotan. Prof Sarwidi mendorong pengembangan sistem Asesmen Cepat Bangunan Sederhana (ACeBS) Edukasi agar dapat ditingkatkan menjadi ACeBS Professional guna mendeteksi dini ketahanan bangunan terhadap gempa. Ia menekankan bahwa rumah tembokan sederhana, yang banyak digunakan masyarakat, justru menjadi penyumbang terbesar korban jiwa saat gempa kuat.

“Mitigasi bencana gempa pada bangunan rumah semacam itu bukan sekadar pilihan, melainkan investasi untuk melindungi aset negara dan nyawa manusia,” tegas Pengarah BNPB RI periode 2009-2025.

Prof Sarwidi bersama karya inovasinya, Simutaga. Foto: Humas UII

Terkait pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN), seminar merekomendasikan penelitian mendalam terhadap karakteristik geoteknik, khususnya yang mengandung lapisan tanah clay shale, agar perencanaan konstruksi ke depan dapat lebih efisien pada proyek-proyek yang mempunyai jenis tanah semacam itu. Bima Bhakti Nusantara ST MH, Ketua Umum Gapeknas DIY, juga menyoroti perlunya kebijakan penyesuaian harga material konstruksi, terutama besi, yang mengalami lonjakan akibat kondisi geopolitik global.

Seminar BARRATAGA Seri 080, yang rutin diselenggarakan setiap bulan sejak 2021 dan telah terdaftar di LPJK Kementerian PUPR dengan sertifikat SKPK, menegaskan perannya dalam pengembangan keprofesian berkelanjutan.

“Kami berharap rekomendasi ini dapat menjadi acuan bagi kebijakan pemerintah dan praktisi di lapangan, tutup Prof Sarwidi, yang didukung oleh moderator Dwi Santoso MT dan Ir Manahara R Siahaan MM, praktisi konstruksi senior sekaligus Pembina Utama Asosiasi Konstruksi ATAKI dan GAPEKNAS. (phj)


There is no ads to display, Please add some

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *