beritabernas.com – UII bekerjasama dengan ATAKI, GAPEKNAS DPD DIY bersama BARRATAGA Museum Gempa Prof Sarwidi dan Komunitas BARRATAGA (Bangunan Rumah Rakyat Tahan Gempa) akan menggelar Seminar Barrataga Series 080 pada Sabtu 25 April 2026.
Seminar ini menghadirkan topik strategis seputar manajemen proyek infrastruktur, perencanaan struktur rumah sakit di Ibu Kota Nusantara (IKN) dan urgensi sistem asesmen cepat ketahanan rumah terhadap gempa. Selain itu, seminar ini menegaskan bahwa dunia konstruksi bukan hanya soal bangunan, tetapi juga soal ketangguhan bangsa menghadapi bencana.
Baca juga:
- SIMUTAGA, Karya Inovasi yang Dikembangkan oleh Prof Sarwidi Selama Lebih dari 25 Tahun
- Mitigasi Bencana Alam Hidrometeorologi Perlu Dilakukan untuk Mencegah Adanya Korban
- 80 Tahun Indonesia Merdeka: Peradaban Tangguh Bencana, Warisan Terbaik untuk Generasi Mendatang
Prof Ir H Sarwidi MSCE PhD IP-U ASEAN Eng APEC Eng, Guru Besar Rekayasa Kegempaan UII sekaligus inovator Barrataga dan Simutaga menjadi salah satu narasumber yang paling ditunggu. Dalam seminar itu, Prof Sarwidi akan kembali menegaskan bahwa Aplikasi ACeBS (Asesmen Cepat Bangunan Sederhana) bukan sekadar konsep teknis, melainkan perisai keselamatan gempa bagi jutaan jiwa sekaligus berkah ekonomi industri ketangguhan bangsa.
“Melindungi rakyat bukan pilihan, tapi amanat konstitusi,” tegas Prof Sarwwidi merujuk Pasal 28H pada UUD 1945 dan UU Nomor 24/2007. Ia mengkritisi mata rantai konstruksi yang terputus, di mana rumah rakyat sering dihuni tanpa asesmen kerentanan akhir. Visi sistem ACeBS Profesional adalah menjadikan sertifikat kerentanan gempa sebagai standar kelayakan hunian nasional.
Prof Sarwidi yang juga Pengarah BNPB RI periode 2009-2025 akan memaparkan model industri jasa Sistem ACeBS Profesional berbasis platform digital yang inklusif, menyerupai ekosistem transportasi daring. Melalui sistem ini, pemilik rumah, asesor profesional dan masyarakat umum terhubung secara transparan untuk memastikan ketahanan gempa bangunan rumah sebagai pelindung utama bagi keluarga dan komunitas di dalamnya. “Dengan digitalisasi mitigasi, kita ubah biaya bencana menjadi sirkulasi ekonomi produktif,” ujarnya.

Setelah beberapa tahun uji coba Sistem ACeBS Edukasi yang mencakup ribuan rumah yang telah berhasil dievaluasi secara cepat tentang ketahanan terhadap guncangan gempa, proyeksi ekonomi ACeBS mencatat potensi sirkulasi hingga lebih dari Rp 1,67 triliun pada tahun ke-10, dengan ROI positif sejak tahun kedua. Roadmap implementasi mencakup pilot project 10.000 rumah di zona merah gempa, regulasi wajib asesmen hingga ekspansi global menjadikan Indonesia sebagai benchmark internasional.
Prof Sarwidi menutup materi dengan pertanyaan reflektif: Akankah kita menunggu gempa merobohkan rumah mereka, atau kita mulai membentengi setiap jiwa hari ini? (phj)
There is no ads to display, Please add some