Rumah Sakit Santa Elisabeth Bekasi Menjaga Semangat Kasih

beritabernas.com – Di sebuah ruang perawatan yang tenang dan bersih di Rumah Sakit Santa Elisabeth Bekasi, tampak Ibu Nani terbaring beristirahat. Ia dirawat sejak semalam karena penyakit ginjal yang dideritanya. Di sisi ranjang, putrinya, Yuni, setia menunggu dan menemani.

Mereka tinggal di Bojong Menteng, berjarak sekitar lima kilometer dari rumah sakit ini. Keluarga ini, sejak awal berdirinya rumah sakit ini, telah memercayai sebagai tempat berobat. “Sejak kakek dan nenek, kalau sakit ya kami berobat ke rumah sakit Elisabeth. Saking terbiasanya sudah seperti rumah sendiri,” ujar Yuni, yang mengenakan jilbab ini.

Cerita seperti inilah yang menjadi nyawa dari pelayanan di rumah sakit yang dikelola oleh para Suster dari Kongregasi OSF ini. Direktur Eksekutif RS St Elisabeth Bekasi Sr Maria Grace Akay OSF mengungkapkan, sejak awal pendiriannya, pesan tegas dari Uskup Agung Jakarta (waktu itu: Julius Kardinal Darmaatmadja, SJ) senantiasa dilaksanakan.

“Pesan Kardinal, meskipun berdiri di lingkungan perumahan yang terlihat mewah saat itu, rumah sakit ini tidak boleh hanya melayani mereka yang mampu, melainkan harus berpihak pula kepada orang kecil, orang miskin dan mereka yang sedang menderita,” tutur Sr Grace.  

Suasana lobi tempat pendaftaran RS St Elisabeth Bekasi. Foto: Anton Sumarjana

Dari situlah lahir semboyan indah yang dipegang teguh: setiap pasien adalah Tamu Ilahi. Siapa pun yang datang, tanpa memandang latar belakang agama, kedudukan maupun status sosial, harus diterima dan dilayani layaknya tamu istimewa yang patut dihormati dan dirawat sepenuh hati. Tak heran jika di sini terlihat begitu banyak pasien yang berjilbab, datang dari berbagai penjuru kota Bekasi hingga ke pelosok Bantar Gebang, semuanya merasa dihargai, diayomi dan tidak pernah dibeda-bedakan.

Yang paling membedakan pelayanan di sini adalah tidak kaku pada aturan atau tata cara baku. Bagi Rumah Sakit Santa Elisabeth, aturan dibuat untuk melayani manusia, bukan sebaliknya. Ada banyak kisah yang menjadi bukti nyata ketulusan ini.

Sr Grace berkisah, suatu malam yang gelap, seseorang yang tidak dikenal mengantar seorang korban perampokan yang tergeletak tak berdaya. Ia tidak membawa selembar pun surat keterangan, tidak ada kartu identitas, bahkan tak ada uang sepeser pun untuk biaya pengobatan. Orang yang mengantarnya pun hanya berkata, “Saya sekadar kasihan melihatnya tergeletak di jalan, maka saya antar ke sini.”

Pasien menunggu pemeriksaan dokter di R St Elisabeth Bekasi. Foto: Anton Sumarjana

Petugas rumah sakit bertanya-tanya, “nanti siapa yang akan membayarnya?”, semangat pelayanan kasih itulah yang akhirnya berbicara lebih keras. Orang itu segera ditolong, dirawat hingga sadar kembali, dan setelah keadaannya pulih, pihak rumah sakit bahkan mengantarnya pulang ke rumah yang letaknya sangat jauh. Keluarganya yang telah gelisah mencarinya sejak pagi hari, tak henti-hentinya mengucapkan terima kasih, meski saat itu mereka belum sanggup membayar biaya perawatan. Namun bagi rumah sakit ini, menolong sesama manusia yang sedang dalam kesulitan adalah panggilan hati, bukan sekadar urusan keuangan.

Di balik semangat besar inilah berdiri sosok yang memegang kendali sebagai Direktur Eksekutif Suster Maria Grace Akay OSF. Lahir di tanah Manado pada 25 Oktober 1966, sejak kecil Sr Grace bercita-cita menjadi perawat, tapi karena situasi saat itu kondisi tidak memenuhi syarat ingin meneladan para suster konggregasi YMY dan dr Barteen yang telah menolongnya saat lahir yang hampir tidak tertolong nyawanya.  

Seiring berjalannya waktu ia terpanggil menjadi suster OSF di Semarang selesai masa pendidikan di Novisiat oleh pimpinan, ia diarahkan kembali  masuk ke dunia Kesehatan. Ia merasa seolah-olah dituntun langkah demi langkah menuju dunia kesehatan. Ia menempuh pendidikan keperawatan di Sekolah Perawat Kesehatan Panti Rapih Yogyakarta. Sejak saat itulah hidupnya sepenuhnya tercurah untuk merawat orang sakit.

Direktur Eksekutif RS St Elisabeth Bekasi Sr Maria Grace Akay OSF. Foto: Anton Sumarjana

Sebelum sampai di Bekasi, ia pernah bertugas di daerah-daerah yang penuh tantangan: di Timor Timur saat sedang dilanda konflik hebat, di pedalaman Papua, hingga di daerah Poso yang kala itu pun masih diliputi ketegangan. Di sana, dengan peralatan yang sangat terbatas, ia belajar bahwa keahlian saja tak cukup. Ketulusan, keberanian, dan doalah yang seringkali menjadi penolong utama.

Pengalaman-pengalaman itulah yang menempa hatinya menjadi sosok yang teguh namun lembut, yang percaya bahwa kehadiran seorang perawat atau pemimpin lebih berharga daripada sekadar tumpukan peraturan.

Wajah kontras

Bagi Suster Grace, dunia kesehatan di Indonesia saat ini memiliki wajah yang kontras. Ia sering berkata dengan nada prihatin namun jujur: “Seandainya bisa, saya ingin berkata kepada semua orang, jangan sampai jatuh sakit.”

Baginya, biaya pengobatan kini semakin melambung tinggi, seiring dengan semakin canggihnya penyakit dan peralatannya. Ia melihat bahwa sistem pelayanan kesehatan yang ada saat ini seringkali terbelenggu oleh aturan yang terlalu berbelit-belit. Banyak prosedur yang justru mempersulit orang yang sedang kesakitan, seolah-olah manusia dinilai hanya dari kertas peraturan, bukan dari rasa sakit yang sedang diderita.

Baca juga:

Menurut Sr Grace, di situlah letak kelemahan terbesar: unsur kemanusiaan seringkali tersisihkan. Padahal orang yang sedang sakit tidak hanya butuh obat, mereka butuh didengar, dibantu menyingkirkan rasa takut, dan diyakinkan bahwa mereka tidak sendirian dalam menghadapi penyakitnya.

Namun justru di situlah letak kekuatan Rumah Sakit Santa Elisabeth. Di tengah menjamurnya rumah sakit besar dan mewah di sekitarnya, rumah sakit ini tetap menjadi pilihan utama masyarakat. Apa rahasianya?

Jawabannya sederhana namun dalam: pelayanan yang memanusiakan manusia. Di sini, pasien tidak dianggap sebagai nomor urut atau sekadar sumber pendapatan. Mereka dilayani dengan pendekatan yang menyentuh hati, memerhatikan tidak hanya keadaan fisik, tetapi juga perasaan, harapan, bahkan kerohanian mereka.

Rumah sakit ini tidak berpacu untuk mengejar keuntungan semata. Rumah Sakit Santa Elisabeth tidak tergantung pada pinjaman bank sehingga tidak terbebani oleh tekanan harus mencari keuntungan sebesar-besarnya. Semua pembangunan dan pengadaan alat kesehatan dilakukan secara bertahap, dari hasil usaha sendiri, semata-mata demi melayani dengan lebih baik.

Sr. Grace dan Tim Humas RS St. Elisabeth Bekasi. Foto: Anton Sumarjana

Pernah ada masa-masa sulit yang harus dilalui rumah sakit ini, seperti saat terjerat kasus dugaan vaksin palsu yang sempat meruntuhkan kepercayaan masyarakat. Pasien berbondong-bondong berpaling, dan butuh waktu bertahun-tahun untuk bangkit kembali. Namun Suster Grace melihat peristiwa itu bukan sekadar sebagai musibah, melainkan cara Tuhan untuk mengingatkan kembali pada semangat awal: bahwa kepercayaan tidak bisa dibeli dengan uang, melainkan harus dibangun kembali lewat ketulusan pelayanan, hari demi hari. Dan kini, setelah lebih dari 20 tahun berdiri, rumah sakit ini tetap kokoh tegak, sementara banyak rumah sakit di sekitarnya yang berganti tangan atau bahkan menutup usahanya.

Bagi Yuni dan keluarganya, bagi ribuan pasien lain yang datang dari berbagai latar belakang, bagi mereka yang pernah ditolong di saat tak berdaya dan tak beruang, Rumah Sakit Santa Elisabeth Bekasi bukan sekadar bangunan bata dan semen. Ia adalah bukti nyata bahwa pelayanan yang didasari kasih sayang, yang tidak membedakan siapa pun, yang lebih mengutamakan hati daripada sekadar aturan, adalah hal yang paling dicari dan paling diingat oleh manusia.

RS St lisabeth Bekasi menjadi rumah tempat harapan bertumbuh, tempat kesembuhan bukan hanya menyentuh raga, tetapi juga menyejukkan jiwa. (Anton Sumarjana)


There is no ads to display, Please add some

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *