Jeritan Bumi dan Korban: Seruan Pertobatan Ekologis dari Romo Ignatius Ismartono SJ

beritabernas.com – Krisis lingkungan hidup bukan lagi sekadar isu ilmiah atau perdebatan akademik. Kerusakan alam kini hadir nyata dalam kehidupan sehari-hari: banjir, perubahan iklim, hilangnya keanekaragaman hayati hingga meningkatnya migrasi akibat bencana ekologis.

Bagi Romo Ignatius Ismartono SJ, Ketua Umum/Direktur Sahabat Insan, jeritan bumi sesungguhnya tidak bisa dipisahkan dari jeritan para korban. Dalam wawancara khusus bersama Erirura Batubara dan Yustinus Ade Stirman, Romo Ignatius menegaskan bahwa pertobatan ekologis bukan hanya soal menjaga lingkungan, tetapi juga soal iman, keadilan dan keberpihakan kepada mereka yang paling menderita akibat kerusakan alam dan ketidakadilan sosial. Berikut petikan hasil wawancara dengan Romo Ignatius.

Bisa dijelaskan mengenai lembaga yang Romo pimpin?

Lembaga kami adalah lembaga sosial yang bergerak di bidang penyadaran dan pembinaan umat. Namun dalam praktiknya, kami tidak selalu bekerja langsung dengan umat, melainkan banyak bermitra dengan komunitas-komunitas yang aktif di lapangan.

Secara resmi, kami mulai aktif sejak masa tsunami Aceh. Setelah bencana itu, bersama sejumlah anak muda-kebanyakan mantan mahasiswa dan rekan-rekan yang dulu berinteraksi dengan saya saat mengajar di Universitas Indonesia-kami mendirikan Sahabat Insan atau Friend in Humanity.

Moto kami terinspirasi dari ungkapan Latin Vox Populi, Vox Dei (Suara Rakyat, Suara Tuhan). Namun kami memaknainya secara khusus menjadi Vox Victimae, Vox Dei—Suara Korban adalah Suara Tuhan. Kami memberi perhatian besar kepada para korban, karena setiap korban memiliki martabat yang harus didengar.

Mengapa lembaga ini memberi perhatian besar kepada para korban?

Dasarnya adalah refleksi iman. Dalam Kitab Kejadian dikisahkan tentang Kain dan Habel. Setelah Kain membunuh Habel, Tuhan berfirman: Darah adikmu itu berteriak kepada-Ku dari tanah (Kejadian 4:10).

Dari kisah itu kami merenungkan bahwa jeritan korban selalu sampai kepada Tuhan. Karena itu setiap korban penting bagi kami. Dalam iman Katolik, Yesus Kristus sendiri dipahami sebagai kurban yang menebus dosa manusia. Maka perhatian kepada korban menjadi bagian penting dari panggilan iman kami.

Selain korban bencana, apakah lembaga ini juga mendampingi korban lainnya?

Ya. Setelah Aceh, kami juga menjalin kerja sama dengan berbagai pihak di lapangan, misalnya di Kupang. Di sana ada seorang suster yang selama bertahun-tahun merawat jenazah pekerja migran yang dipulangkan dari luar negeri, terutama dari Malaysia.

Baca juga:

Rata-rata sekitar 100 hingga 150 jenazah dipulangkan setiap tahun. Itu menunjukkan bahwa penderitaan manusia hadir dalam banyak bentuk.

Kapan isu lingkungan mulai menjadi perhatian utama?

Sekitar sepuluh tahun lalu, Paus Fransiskus menerbitkan ensiklik Laudato Si’. Dokumen itu menegaskan bahwa bumi sedang “menjerit” akibat krisis ekologis dan perubahan iklim.

Paus juga mengingatkan bahwa banyak orang terpaksa bermigrasi karena kerusakan lingkungan. Misalnya, ada pulau-pulau di kawasan Pasifik yang terancam tenggelam akibat naiknya permukaan air laut.

Karena itu, kami mulai memberi perhatian serius pada krisis ekologis di sekitar kita.

Bentuk kegiatan yang dilakukan apa saja?

Kami diundang oleh berbagai komunitas untuk belajar bersama dan memperdalam pemahaman mengenai persoalan lingkungan hidup. Kami juga bekerja sama dengan berbagai gerakan kaum muda.

Tema utama yang kami dorong adalah pertobatan ekologis. Artinya, manusia dipanggil bertobat dari tindakan-tindakan yang merusak alam dan kembali menghormati Tuhan Sang Pencipta beserta seluruh ciptaan-Nya.

Pertobatan ini bukan hanya urusan pribadi, tetapi juga pertobatan bersama secara sosial. Karena itu diperlukan pendidikan bersama, latihan bersama, dan gerakan bersama.

Apakah pendidikan ekologis juga sudah dikembangkan di kalangan Katolik?

Sudah. Saat ini tersedia bahan pendidikan Laudato Si’ mulai dari tingkat TK, SD, SMP, hingga SMA. Kesadaran ekologis mulai ditanamkan sejak dini agar generasi muda memiliki kepedulian terhadap bumi.

Menurut pandangan Romo, kerusakan lingkungan saat ini sudah sampai tahap seperti apa?

Saya melihat kondisinya sudah sangat berat. Saya memang bukan ahli lingkungan, tetapi banyak hasil riset menunjukkan kerusakan yang serius.

Mikroplastik misalnya, kini sudah masuk ke tubuh manusia. Banyak spesies hewan punah. Ketika saya kecil, masih mudah menjumpai berbagai satwa di desa. Sekarang banyak yang hilang akibat pola produksi modern dan penggunaan bahan kimia berlebihan.

Dulu orang masih memperdebatkan apakah bumi benar-benar rusak. Sekarang kenyataannya makin sulit disangkal. Krisis ekologis sudah nyata dan semakin berat.

Dalam ajaran Katolik, apakah ada istilah dosa ekologis?

Pada dasarnya dosa tetaplah dosa, yakni pelanggaran terhadap kasih. Kasih itu dirumuskan, antara lain, dalam Sepuluh Perintah Allah. Namun sekarang kita semakin menyadari bahwa dosa juga memiliki dimensi ekologis. Misalnya, mencuri kayu dari hutan lindung bukan hanya tindakan pencurian, tetapi juga perusakan lingkungan.

Jika kerusakan dilakukan secara besar-besaran, dampaknya menjadi jauh lebih luas. Karena itu kita mengenal dosa pribadi, dosa sosial, dan dosa struktural.

Bisa dijelaskan perbedaan dosa pribadi, sosial, dan struktural dalam konteks lingkungan?

Dosa pribadi adalah tindakan individu, misalnya membuang sampah sembarangan atau merusak pohon. Dosa sosial terjadi ketika tindakan itu berdampak pada masyarakat luas, seperti pencemaran sungai yang merugikan warga.

Sedangkan dosa struktural terjadi ketika kerusakan lahir dari sistem, kebijakan, atau tata kelola yang salah, misalnya pembiaran eksploitasi alam secara masif. Karena itu pertobatan juga tidak cukup bersifat pribadi, tetapi harus sosial dan struktural.

Bagaimana relasi manusia dengan ciptaan menurut pandangan iman?

Manusia memiliki empat relasi penting: Relasi dengan dirinya sendiri, Relasi dengan sesama manusia, Relasi dengan alam ciptaan, Relasi dengan Tuhan. Kalau salah satu relasi rusak, keseimbangan hidup juga akan rusak.

Ada anggapan manusia diberi kuasa untuk menguasai bumi. Bagaimana memahaminya?

Memang ada penafsiran Kitab Suci yang menonjolkan perintah “kuasailah bumi” sebagaimana tertulis dalam Kejadian 1:28. Namun jika hanya itu yang ditekankan, manusia bisa jatuh menjadi penguasa yang mengeksploitasi alam.

Padahal dalam Kejadian 2:15 disebutkan bahwa manusia ditempatkan di taman Eden untuk “mengusahakan dan memelihara” taman itu.

Karena itu manusia seharusnya bukan sekadar penguasa, melainkan penatalayan (steward) ciptaan. Kuasa atas bumi bukan izin untuk merusak, melainkan tanggung jawab untuk merawat dan menjaga kehidupan.

Krisis ekologis sesungguhnya juga merupakan krisis identitas: manusia lupa siapa dirinya. Apakah ia penguasa alam atau perawat bumi? Menurut saya, zaman ini mengundang kita untuk lebih menjadi perawat bumi daripada penguasa bumi. (Erirura Batubara dan Yustinus Ade Stirman)


There is no ads to display, Please add some

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *