KWI Ajak Umat Katolik untuk Ikut Menjaga Demokrasi dan Etika Kehidupan Publik

beritabernas.com – Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) mengajak umat Katolik untuk ikut menjaga demokrasi dan etika kehidupan publik. Sebab, saat ini dirasakan adanya tantangan dalam kehidupan demokrasi kita, seperti ruang dialog publik terkadang terasa semakin sempit, perbedaan pendapat mudah berubah menjadi permusuhan.

Selain itu, kritik sering dipandang sebagai ancaman, bukan bagian dari kecintaan terhadap bangsa dan dukungan pada program-program baik pemerintah. Deretan gejala yang memprihatinkan kita saat ini bisa menjadi tanda kemunduran demokrasi di Indonesia.

“Dalam situasi seperti ini, kita dipanggil untuk menjaga demokrasi Indonesia tetap bertumbuh secara sehat, berakar pada nilai-nilai Pancasila, penghormatan terhadap hukum, keterbukaan dan partisipasi masyarakat yang bermartabat. Kita berharap agar seluruh proses politik dan kebijakan publik semakin mengutamakan kepentingan rakyat, terutama mereka yang kecil, lemah, dan tidak bersuara. Kekuasaan sejatinya adalah amanah untuk melayani, bukan sarana dominasi,” tulis KWI dalam Seruan Pastoral dalam rangka 118 tahun Hari Kebangkitan Nasional, 20 Mei 2026.

Dalam seruan pastoral yang ditandatangani Mgr Antonius Subianto Bunjamin OSC (Ketua KWI) dan Mgr Adrianus Sunarko OFM (Sekretaris Jenderal KWI), tertanggal 20 Mei 2026 itu, KWI mengatakan bahwa godaan kehendak otoritarianisme melalui cara-cara legalisme otokratis perlu diatasi dengan mengutamakan semangat demokrasi dan menerapkan nilai-nilai Pancasila.

Karena itu, menurut KWI, budaya dialog, sikap saling mendengar, penghormatan terhadap kebebasan berekspresi, dan semangat gotong royong harus terus dirawat sebagai fondasi kehidupan demokrasi Indonesia.

“Dalam semangat Kebangkitan Nasional, kami mengajak seluruh elemen bangsa, terutama lembaga legislatif, eksekutif dan yudikatif, untuk membangun kembali kehidupan bersama dengan semangat gotong-royong. Saat berkunjung ke Indonesia pada 3-6 September 2024, Sri Paus Fransiskus memuji bangsa Indonesia yang menghidupi semangat gotong royong, yang bersama Bhinneka Tunggal Ika dan Pancasila, merupakan fondasi yang kuat bagi masyarakat Indonesia untuk mengatasi perbedaan dan mencapai keadilan.

Baca juga:

KWI juga mengajak kita semua untuk memperkuat budaya demokrasi yang sehat melalui dialog, partisipasi publik, penghormatan terhadap hukum dan pendidikan politik yang bermoral dan beretika. Kita menolak rencana dan cara yang berkecenderungan otoritarianisme, militerisme dan sentralisasi kekuasaan.

Sebaliknya kita menjunjung tinggi supremasi hukum yang berkeadilan tanpa pandang bulu. Jangan sampai ada orang yang tidak bersalah malah didakwa dan dijatuhi hukuman dan orang yang seharusnya mempertanggung-jawabkan perbuatan salahnya malah dinyatakan tidak bersalah. Pendidikan politik etis berbasis nilai-nilai Pancasila harus digalakkan untuk menumbuhkan kesadaran kritis warga negara terhadap dinamika kekuasaan.

KWI juga mengajak agar kita mengedepankan dialog dan rekonsiliasi yang tulus, khususnya di wilayah-wilayah yang masih mengalami luka sosial dan konflik berkepanjangan, termasuk di Tanah Papua. Kita mendukung cara-cara damai dan bermartabat dalam menyelesaikan konflik, memulihkan luka batin lintas generasi, dan menciptakan kesejahteraan yang lebih baik dengan menghargai keluhuran dan kearifan.

    Merefleksikan makna kebangkitan nasional

    Menurut KWI, peringatan Hari Kebangkitan Nasional bukan sekadar mengenang masa lalu, tetapi juga membangun sejarah masa depan bersama, dengan keberanian untuk menghadapi realitas pahit dan tantangan hari ini dalam kejernihan nurani yang peka dan semangat profetis.

    Karena itu, KWI mengajak umat Katolik untuk menghidupkan kembali semangat kebangsaan yang berakar pada kasih kepada sesama, keberpihakan kepada yang lemah dan tanggung jawab bersama terhadap masa depan Indonesia. Ini berarti kesediaan untuk secara rendah hati dan jujur mengevaluasi kebijakan dan praktik politik yang berpotensi memperparah kondisi krisis, dan membuka diri terhadap kritik konstruktif dari masyarakat.

    Selain itu, KWI mengingatkan untuk mengutamakan martabat manusia dan kesejahteraan umum dalam setiap kebijakan ekonomi, politik, sosial dan pembangunan nasional. “Marilah kita berpihak pada kaum miskin, terpinggirkan dan rentan serta memperjuangkan keadilan sosial dan ekologis secara konkret. Hal ini termasuk memastikan bahwa seluruh program pembangunan, seperti hilirisasi serta ketahanan pangan dan energi, tidak mengorbankan hak-hak masyarakat adat dan merusak kelestarian lingkungan,” ajak KWI.

      Memperkuat fondasi nilai dan spiritual

      KWI juga mengajak kita memperkuat pendidikan karakter yang berbasis nilai-nilai Pancasila, solidaritas lintas iman, budaya gotong royong, dan nilai-nilai kemanusiaan untuk melawan pragmatisme, kekerasan, intoleransi, dan dehumanisasi dalam kehidupan bersama. Ini adalah panggilan nyaring untuk mengembalikan etika dan moral sebagai landasan utama dalam setiap kebijakan dan tindakan politik untuk memajukan kebaikan bersama, dalam bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.

      Dalam semangat Hari Kebangkitan Nasional, menurut KWI, kita diingatkan bahwa bangsa ini lahir bukan dari kekuatan modal atau pasar, melainkan dari kesadaran akan persatuan, solidaritas, dan perjuangan bersama demi martabat manusia.

      Kebangkitan nasional mengajarkan bahwa Indonesia hanya dapat berdiri kokoh apabila seluruh rakyat merasa menjadi bagian dari kehidupan bersama, bukan tersisih di pinggir pembangunan. Karena itu, di tengah berbagai tekanan ekonomi dan kegelisahan sosial saat ini, kita dipanggil membangun kembali ekonomi yang memperkuat persaudaraan kebangsaan, mempersempit jurang ketimpangan, dan menghadirkan harapan bagi semua, terutama mereka yang kecil, miskin, dan rentan.

      Sebab ekonomi yang manusiawi pada akhirnya bukan hanya soal pertumbuhan, tetapi tentang menjaga kesatuan bangsa sesuai dengan semangat Sumpah Pemuda melalui keadilan, solidaritas, dan keberpihakan kepada martabat setiap manusia Indonesia.

      “Seruan dan harapan ini lahir dari semangat untuk membawa damai sejahtera yang diwujudkan dalam keberanian untuk berjalan bersama, mendengarkan satu sama lain dan membangun kembali kepercayaan di tengah bangsa,” tulis KWI. (phj)


      There is no ads to display, Please add some

      Tinggalkan Balasan

      Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *