Gejolak Geopolitik Global Picu Lonjakan Kecemasan Psikologis di Indonesia

Oleh: Yunita Ayu Lestari, Mahasiswi Psikologi Universitas Cendekia Mitra Indonesia

beritabernas.com – Dalam beberapa tahun terakhir, dinamika geopolitik global yang ditandai oleh meningkatnya ketegangan antarnegara, konflik bersenjata di berbagai kawasan dan ketidakpastian ekonomi dunia, mulai menunjukkan dampak tidak langsung terhadap kondisi psikologis masyarakat Indonesia, terutama dalam bentuk meningkatnya rasa cemas, kekhawatiran terhadap masa depan hingga kelelahan mental akibat paparan informasi yang terus-menerus dari berbagai platform digital.

Sejumlah pakar kesehatan mental menilai bahwa fenomena ini tidak terjadi karena keterlibatan langsung Indonesia dalam konflik global, melainkan lebih disebabkan oleh intensitas konsumsi informasi internasional yang semakin tinggi, di mana masyarakat kini dapat mengikuti perkembangan dunia secara real time melalui media sosial, portal berita, dan platform digital lainnya tanpa jeda waktu.

Arus informasi

Perkembangan teknologi digital dalam satu dekade terakhir telah mengubah cara masyarakat mengakses informasi, di mana berita mengenai konflik geopolitik, krisis ekonomi global, hingga ketegangan antarnegara kini dapat muncul secara cepat, berulang dan dalam jumlah yang sangat besar di layar gawai setiap hari, sehingga menciptakan kondisi yang oleh para ahli psikologi disebut sebagai information overload.

Kondisi ini terjadi ketika seseorang menerima terlalu banyak informasi dalam waktu yang singkat, terutama informasi yang bernuansa negatif, sehingga kemampuan otak untuk memproses dan menyeimbangkan emosi menjadi terganggu. Akibatnya, individu dapat merasa seolah-olah berada dalam situasi darurat yang terus berlangsung, meskipun secara nyata tidak mengalami ancaman langsung. 

Psikolog klinis menjelaskan bahwa paparan berulang terhadap berita konflik atau krisis global dapat memicu respons stres yang berlebihan pada otak, karena sistem saraf manusia cenderung merespons ancaman yang sering muncul sebagai sesuatu yang nyata dan dekat.

Baca juga:

Sejumlah penelitian internasional menunjukkan bahwa kondisi ketidakpastian global memiliki hubungan yang signifikan dengan meningkatnya gangguan psikologis pada masyarakat. Studi dalam jurnal Social Science & Medicine: Public Health menemukan bahwa ketidakpastian ekonomi dan sosial global dalam jangka panjang berkaitan dengan peningkatan gejala depresi dan kecemasan pada berbagai kelompok populasi, terutama pada usia produktif yang paling aktif mengonsumsi media digital.

Selain itu, penelitian yang dipublikasikan dalam BMC Psychiatry (2024) juga menunjukkan bahwa paparan terhadap isu global yang bersifat mengancam dapat meningkatkan tingkat stres dan kecemasan, terutama pada individu yang tidak memiliki mekanisme koping yang baik dalam mengelola informasi yang mereka terima setiap hari. Para peneliti menegaskan bahwa meskipun konteks penelitian berbeda-beda, pola yang muncul tetap konsisten, yaitu semakin tinggi paparan terhadap ancaman global, semakin besar kemungkinan individu mengalami tekanan psikologis.

Dampak psikologis

Di Indonesia, dampak psikologis dari fenomena ini mulai terlihat terutama di kalangan generasi muda dan pekerja urban yang sangat aktif menggunakan media sosial sebagai sumber utama informasi harian. Banyak individu mengaku bahwa mereka menjadi lebih mudah merasa cemas, sulit fokus, dan sering memikirkan kondisi dunia yang terasa tidak stabil setelah terlalu sering mengikuti perkembangan berita internasional, meskipun secara langsung kehidupan mereka tidak terdampak oleh situasi tersebut.

Seorang mahasiswa di Yogyakarta mengatakan bahwa dirinya sering merasa gelisah setelah melihat berita global yang terus muncul di media sosial. “Kadang rasanya dunia itu seperti tidak baik-baik saja, karena setiap hari selalu ada berita tentang perang, krisis ekonomi, atau konflik antarnegara, jadi tanpa sadar itu terbawa ke pikiran sehari-hari,” ujarnya.

Fenomena ini dalam psikologi dikenal sebagai anticipatory anxiety, yaitu kondisi ketika seseorang mengalami kecemasan bukan karena ancaman yang sedang terjadi secara langsung, tetapi karena bayangan atau kemungkinan buruk di masa depan yang terus dipikirkan secara berulang.

Para pengamat komunikasi digital menilai bahwa media sosial memiliki peran besar dalam mempercepat penyebaran informasi geopolitik global, namun di sisi lain juga berpotensi memperkuat kecemasan karena informasi yang ditampilkan sering kali tidak disertai konteks yang memadai. Algoritma platform media sosial dirancang untuk meningkatkan keterlibatan pengguna, sehingga konten yang serupa terutama yang bersifat emosional dan sensasional akan terus muncul secara berulang.

Akibatnya, pengguna yang mulai mengonsumsi berita konflik atau krisis akan semakin sering terpapar konten serupa dalam waktu singkat. Kondisi ini dapat menciptakan persepsi bahwa dunia sedang berada dalam keadaan darurat yang terus-menerus, yang pada akhirnya meningkatkan tingkat stres, menurunkan konsentrasi, serta memengaruhi kestabilan emosi seseorang dalam kehidupan sehari-hari.

Doomscrolling

Selain itu, kebiasaan doomscrolling atau aktivitas menggulir media sosial tanpa henti untuk mencari atau membaca berita-berita negatif juga semakin banyak terjadi, terutama pada malam hari ketika seseorang sudah tidak memiliki aktivitas lain. Tanpa disadari, kebiasaan ini membuat individu terus-menerus terpapar informasi yang memicu kecemasan, sehingga otak tidak memiliki kesempatan untuk beristirahat secara emosional.

Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat memperburuk stres, mengganggu kualitas tidur, dan menurunkan kemampuan konsentrasi. Sejumlah penelitian psikologi digital menunjukkan bahwa doomscrolling berkaitan erat dengan peningkatan gejala kecemasan dan kelelahan mental, terutama pada pengguna aktif media sosial.

Fenomena kecemasan akibat ketidakpastian global ternyata tidak hanya terjadi di Indonesia, tetapi juga merupakan tren yang muncul di berbagai negara lain.

Sebuah studi terhadap generasi muda di Amerika Serikat menunjukkan bahwa sebagian besar responden merasa khawatir terhadap masa depan dunia akibat ketidakstabilan global, termasuk kekhawatiran terhadap kondisi ekonomi, pekerjaan, serta hubungan internasional antarnegara.

Hal ini menunjukkan bahwa kecemasan geopolitik telah menjadi fenomena kesehatan mental global yang dipengaruhi oleh meningkatnya keterhubungan informasi digital di seluruh dunia.

Para pakar kesehatan mental menekankan pentingnya literasi informasi dalam menghadapi derasnya arus berita global, yaitu kemampuan untuk memilah, memahami, dan mengevaluasi informasi sebelum menerimanya sebagai sesuatu yang benar-benar mengancam kehidupan pribadi.

Selain itu, pengaturan waktu dalam mengakses berita juga dianggap sangat penting, karena memberikan jeda bagi otak untuk memulihkan diri dari paparan informasi yang bersifat menekan dapat membantu menjaga keseimbangan emosi dan kesehatan mental secara keseluruhan. “Informasi tetap penting, tetapi harus dikonsumsi secara seimbang agar tidak berdampak pada kesehatan mental,” ujar seorang psikolog.

Dengan semakin meningkatnya gejolak geopolitik global dan derasnya arus informasi digital yang masuk ke kehidupan masyarakat setiap hari, maka dampak psikologis berupa kecemasan, stres, dan kekhawatiran terhadap masa depan menjadi fenomena yang tidak dapat diabaikan, karena berbagai penelitian ilmiah telah menunjukkan adanya hubungan antara paparan informasi global yang bersifat negatif dengan peningkatan gangguan kecemasan pada individu, sehingga di era digital saat ini, kemampuan mengelola informasi serta menjaga kesehatan mental menjadi keterampilan penting yang perlu dimiliki masyarakat modern agar tetap mampu menjalani kehidupan secara seimbang di tengah ketidakpastian dunia yang terus berubah. (*)


There is no ads to display, Please add some

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *