Wakil Ketua Komisi X DPR RI MY Esti Wijayati Heran Anak SD Belum Bisa Baca Tapi Dipaksa Kerjakan Soal Cerita Matematika

beritabernas.com – Wakil Ketua Komisi X DPR RI MY Esti Wijayati mengaku heran karena anak Kelas 1 SD yang belum bisa membaca tapi dipaksa mengerjakan soal-soal matematika dalam bentuk cerita. Hal ini membuat pemahaman anak-anak tentang matematika dasar menjadi lemah.

Karena itu, MY Esti Wijayati yang merupakan Anggota DPR RI dari Fraksi PDI Perjuangan dari Daerah Pemilihan (Dapil) DIY ini, mendesak pemerintah, dalam hal ini Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan agar segera mengevaluasi buku pegangan secara total di sekolah-sekolah. Hal ini penting agar materi pelajaran yang diberikan sesuai dengan kemampuan tumbuh kembang anak.

Hal itu disampaikan MY Esti Wijayati, Wakil Ketua Komisi X DPR RI, dalam rapat dengar pendapat secara online dengan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI, seperti dikutip beritabernas.com dalam video yang diunggah di akun Instagram dpr-ri.

Baca juga:

Dalam video itu, MY Esti Wijayati menemukan fakta di Tanjung Balai Karimun dimana siswa-siswi SD kelas 1 yang belum bisa membaca tapi harus medengarkan matematika dengan bercerita. Bagaimana seorang anak kelas 1 SD, soal-soal di buku pegangan dalam bentuk cerita sehingga mereka harus membaca. Sebagai contoh soal, si Adi mempunyai telur ini, sekian ini. Padahal mereka belum bisa baca tapi mereka menggunakan buku pegangan itu.

Seharusnya, menurut Esti, soal-soal matematika untuk anak-anak kelas 1 SD dalam bentuk angka. Misalnya, gambar manggis tiga ditambah gambar manggis dua lalu ketemunya (jumlahnya) gambar manggis lima.

Kalau soal matematika dalam bentuk cerita, sementara anak-anak belum bisa membaca, menurut Esti Wijayati, sangat wajar kalau mereka kesulitan menangkap materi pelajaran dan mengerjakan soal-soal. Karena itu, ia mengajak pemerintah untuk segera mengoreksi.

“Mari kita koreksi sekarang. Ada ketentuan apa yang salah sehingga mereka menggunakan (buku pegangan, red) itu? Di mana ini letak kesalahan kita? Apakah referensi dalam kita memberikan buku pegangan itu yang kemudian tidak digunakan dengan baik oleh dinas-dinas dan oleh sekolah atau kesalahannya di mana?” tanya Esti Wijayati berapi-api.

Menurut Esti Wijayati, hal ini membuat pemahamaan anak-anak mengenai soal matematika menjadi lemah. Karena baca saja belum bisa tapi dipaksa mendengarkan matematika dengan bercerita. Karena itu, untuk penjaminan mutu terkait hal ini maka buku pegangan juga menjadi acuan.

Wakil Ketua Komisi X DPR RI MY Esti Wijayati. Foto: tangkapan layar video di IG@dpr_ri

Salah seorang warganet yang mengaku berprofesi sebagai guru mendukung apa yang disampaikan MY Esti Wijayati. Warganet bernama M Samsul Arifin yang menjadi salah satu follower akun Instagram dpr_ri itu mengaku sempat bingung harus menyampaikan kemana mengenai hal itu.

“Alhamdulillah, saya seorang guru bingung harus bersuara kemana dan sekarang sudah dibahas oleh wakil rakyat. Saya sangat senang. Materi kelas 1 SD yang terlalu rumit tidak cocok diterapkan. Saat anak di TK pemerintah melarang belajar calistung (baca tulis berhitung, red) tapi anehnya materi seolah menganggap anak sudah lancar calistung,” kata M Samsul Arifin dengan nama akun Instagram @sam_samsul87 ini di kolom komentar.

M Samsul Arifin juga meminta para wakil rakyat agar pelajaran Bahasa Inggris untuk kelas 1 SD juga dihapus. Ia meminta Menteri Pendidikan agar ketika membuat kebijakan tanyakan dulu kepada para guru, terutama guru yang mengajar di sekolah biasa. “Jangan tanya guru di sekolah-sekolah elit,” kata M Samsul Arifin tanpa menjelaskan lebih lanjut alasannya.

Senada dengan M Samsul Arifin, Solihatun Heriyah dengan nama akun Instagram @solihatunheriyah juga mengaku heran karena di TK dilarang diajari calistung, tapi begitu lulus TK dan masuk SD, mereka sudah dipaksa untuk membaca cerita. “Ini ironi. Kurikulum SD diperbaiki,” pinta Solihatun Heriyah di kolom komentar. (phj)


There is no ads to display, Please add some

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *