beritabernas.com – Di era digital, hampir seluruh layanan bergantung pada jaringan dan koneksi internet yang stabil, mulai dari website sekolah, server perusahaan hingga berbagai layanan daring sehari-hari. Karena itu, kemampuan melakukan monitoring jaringan menjadi keterampilan penting di bidang teknologi informasi.
“Monitoring memungkinkan pengguna atau administrator memantau kondisi layanan secara real-time sehingga gangguan, seperti website yang tidak dapat diakses atau koneksi internet yang terputus, dapat diketahui dan ditangani lebih cepat,” kata Bekti Dwi Kurniadi, Mahasiswa PJJ sekaligus network engineer, Banyumas, dalam Pelatihan Network Engineering Skills di Era Digital, khususnya Pelatihan Jaringan Komputer Kekinian, yang diadakan Program Studi (Prodi) Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) Informatika, Program Sarjana FTI UII di Pesantren Hilal, Kota Bogor, Jawa Barat, Selasa 2 Juni 2026.
Dalam pelatihan yang dibuka oleh Dr Nur Wijayaning Rahayu, S.Kom M.Cs, Ketua Program Studi PJJ Informatika UII ini, Bekti Dwi Kurniadi yang membawakan materi tentang Docker dan Uptime Kuma untuk Monitoring Jaringan, mengatakan, peserta perlu mempelajari penggunaan Docker dan Uptime Kuma sebagai solusi monitoring modern.
Docker digunakan untuk menjalankan aplikasi secara praktis dan konsisten, sedangkan Uptime Kuma berfungsi sebagai dashboard monitoring berbasis web yang memudahkan pengelolaan dan pemantauan layanan.

Dalam pelatihan itu, kegiatan praktik dimulai dengan menyiapkan lingkungan kerja menggunakan WSL dan Docker Desktop pada sistem operasi Windows, kemudian menjalankan Uptime Kuma melalui perintah sederhana di terminal. Setelah dashboard aktif, peserta dapat membuat monitor untuk memantau website maupun alamat IP tertentu. Status layanan ditampilkan secara visual, dengan indikator hijau (UP) untuk layanan yang berjalan normal dan merah (DOWN) ketika terjadi gangguan.
Pelatihan juga memperkenalkan integrasi notifikasi otomatis melalui Telegram Bot sehingga pengguna dapat menerima peringatan secara langsung saat terjadi masalah pada jaringan atau layanan. Melalui pengalaman praktik ini, peserta tidak hanya memahami konsep monitoring jaringan, tetapi juga memperoleh keterampilan menggunakan teknologi yang relevan dan banyak diterapkan dalam pengelolaan server serta infrastruktur digital di dunia industri.
Sementara Farid Hawazi, Mahasiswa PJJ sekaligus network engineer PT Tunas Media Data, Wonosobo, narasumber lainnya dalam pelatihan ini, menjelaskan, di tengah meningkatnya kebutuhan akan koneksi internet yang cepat dan stabil, teknologi Fiber To The Home (FTTH) menjadi salah satu solusi utama dalam distribusi jaringan modern.
FTTH merupakan teknologi yang menggunakan kabel serat optik untuk menghubungkan pusat layanan internet langsung ke rumah pelanggan. Berbeda dengan kabel tembaga konvensional, serat optik mengirimkan data melalui cahaya sehingga mampu menghadirkan kecepatan tinggi, kapasitas besar, dan kualitas koneksi yang lebih stabil.
Baca juga:
- Network Engineering Skills di Era Digital, Prodi PJJ Informatika FTI UII Gelar Pelatihan Jaringan Komputer Kekinian
- Kuliah Umum Prodi Informatika FTI UII, Prof Adiwijaya: Teknologi sebagai Solusi Mengatasi Tantangan Sosial
- Kehadiran Prodi Manajemen Rekayasa FTI UII untuk Menjawab Kebutuhan Industri Modern
“Teknologi ini mendukung berbagai kebutuhan digital masa kini, mulai dari streaming video beresolusi tinggi, game online, hingga aktivitas bekerja dan belajar dari rumah. Selain itu, FTTH juga lebih tahan terhadap gangguan elektromagnetik maupun faktor cuaca yang sering memengaruhi kualitas jaringan nirkabel,” kata Farid Hawazi.
Melalui pelatihan ini, peserta tidak hanya mempelajari konsep dasar FTTH, tetapi juga memperoleh pemahaman mengenai implementasi jaringan fiber optik dari penyedia layanan internet hingga distribusi ke rumah pelanggan.
Dalam pelatihan ini, peserta diperkenalkan dengan topologi jaringan FTTH dan berbagai peralatan utama yang digunakan dalam proses instalasi dan pemeliharaan jaringan, seperti alat penyambungan serat optik (splicing tools), alat pengukuran dan pengujian redaman, serta perangkat pelindung dan aksesori pendukung lainnya.
Kegiatan ini diharapkan dapat menambah wawasan dan keterampilan praktis peserta di bidang jaringan fiber optik yang saat ini semakin dibutuhkan seiring pesatnya pembangunan infrastruktur telekomunikasi di Indonesia.
Narasumber lainnya, Rizki Septian, Mahasiswa PJJ sekaligus network engineer BSI UII, Yogyakarta, mengatakan, di tengah kompleksitas infrastruktur teknologi informasi modern, peran network engineer tidak lagi terbatas pada konfigurasi perangkat jaringan.
Mereka juga dituntut mengelola monitoring, pelaporan, backup konfigurasi, inventaris perangkat hingga notifikasi gangguan jaringan. Banyaknya pekerjaan yang bersifat rutin dan berulang membuat proses manual menjadi kurang efisien serta berpotensi menimbulkan human error.
Untuk menjawab tantangan tersebut, dibutuhkan solusi otomatisasi yang mampu menjalankan berbagai tugas secara konsisten dan terintegrasi. Salah satu platform yang banyak dimanfaatkan adalah n8n, sebuah workflow automation yang memungkinkan berbagai aplikasi, layanan, dan API terhubung dalam satu alur kerja otomatis.
Dengan kemampuan integrasi yang luas, fleksibilitas pengolahan data, serta dukungan self-hosted, n8n membantu meningkatkan efisiensi kerja, mempercepat respons terhadap permasalahan jaringan, dan mengurangi beban pekerjaan operasional sehari-hari.

Menurut Rizki Septian, n8n merupakan platform workflow automation berbasis visual yang berfungsi sebagai jembatan antar sistem sehingga data dapat dipindahkan, diproses dan ditindaklanjuti secara otomatis tanpa campur tangan manusia. Sebagai contoh, log dari perangkat jaringan dapat diterima oleh n8n, diproses sesuai kebutuhan, lalu diteruskan secara otomatis ke Telegram, email, atau sistem lainnya.
Keunggulan n8n terletak pada sifatnya yang open source, mendukung integrasi API, memungkinkan penggunaan skrip JavaScript maupun Python dan memiliki antarmuka drag-and-drop yang mudah digunakan. Setiap proses dibangun menggunakan berbagai node, seperti Trigger, HTTP Request, Database, Telegram, Google Sheets, AI Agent, dan Function, yang kemudian dirangkai menjadi sebuah workflow untuk menyederhanakan proses kerja.
Dalam implementasinya, workflow n8n terdiri dari empat tahap utama, yaitu Trigger sebagai pemicu proses, Process untuk mengolah data, Decision untuk menentukan tindakan berdasarkan kondisi tertentu, dan Action untuk menjalankan hasil keputusan, seperti mengirim notifikasi, menyimpan data, atau membuat tiket pada sistem helpdesk.
Melalui alur Trigger–Process–Decision–Action, n8n mampu mengotomatisasi berbagai pekerjaan yang sebelumnya dilakukan secara manual, mulai dari monitoring jaringan, pelaporan, notifikasi gangguan, hingga integrasi antar aplikasi dan perangkat. Kemampuan ini menjadikan n8n sangat relevan bagi network engineer yang ingin membangun sistem operasional yang lebih cepat, efisien, dan minim kesalahan.
Saat ini, menurut Rizki Septian, kemampuan automation tidak lagi dipandang sebagai keterampilan tambahan, melainkan telah menjadi bagian penting dari kompetensi seorang network engineer modern. Bahkan, pemanfaatan n8n terus berkembang, tidak hanya untuk kebutuhan networking, tetapi juga untuk workflow berbasis kecerdasan buatan (AI), monitoring sistem, hingga orchestration pada infrastruktur berskala besar. (phj)
There is no ads to display, Please add some