beritabernas.com – Ibu-ibu yang tergabung dalam organisasi Wanita Katolik Republik Indonesia (WKRI) harus menjadi pelopor dalam memilah dan mengolah sampah, terutama sampah rumah tangga. Sampah-sampah berupa sisa makanan, kulit buah, daun/potongan batangan sayur, ampas kopi, ampas teh, sisa tanaman dan sebagainya harus tuntas diolah di dapur menjadi kompos atau pupuk organik.
Bila itu bisa dilakukan Wanita Katolik maka kegiatan talkshow, workshop, sarasehan, seminar atau sejenisnya tentang cara mengelola sampah seperti memilah dan mengolah sampah sangat bermanfaat karena berdampak luas bagi masyarakat.
“Jadikan kegiatan berkumpul seperti ini (talkshow) menjadi berdampak. Artinya, teori atau ilmu yang diperoleh harus dipraktekkan dalam kehidupan sehari-hari. Dengan demikian, Wanita Katolik menjadi inspirasi bagi siapa pun dalam memilah dan mengolah smapah rumah tangga,” kata Patricius Kianto Atmodjo, Tim Laudato Si Universitas Atma Jaya Yogyakarta yang juga Tim Komisi Keadilan Perdamaian dan kelestarian Ciptaan Kevikepan Yogyakarta Timur serta Tim Pendampingan Perwujudan Paroki Hijau Kevikepan Jogjakarta Timur dan Barat dalam acara talkshow dengan tema Sampah Tuntas di Dapur yang diadakan di Aula Gereja Katolik St Petrus dan Paulus Babadan, Wedomartani, Ngemplak, Sleman, Minggu 21 Juni 2026.
Talkshow yang diadakan WKRI DIY sebagai rangkaian kegiatan memperingati HUT ke-102 WKRI ini diikuti 250 peserta yang terdiri dari pengurus Presidium WKRI DPD DIY, utusan DPC WKRI Kabupaten/Kota se-DIY, utusan WKRI Ranting dan tamu undangan termasuk Romo Antonius Saptana Hadi Pr, Pastor Paroki St Petrus dan Paulus Babadan.
Dalam materi talkshow berjudul WKRI Hijau: Dari Berkumpul Menjadi Berdampak dengan subjudul Perempuan Katolik Penggerak Keluarga dan Paroki Hijau dalam Semangat Laudato Si’, Mewujudkan Gereja yang Bahagia, Menginspirasi, dan Mensejahterakan itu, Patricius Kianto Atmodjo mengatakan, di tengah berbagai tantangan lingkungan hidup yang semakin nyata, mulai dari perubahan iklim, krisis sampah, pencemaran air hingga menurunnya kualitas lingkungan, Gereja Katolik mengajak umat untuk mengambil bagian dalam merawat bumi sebagai rumah bersama.

Ajakan ini ditegaskan oleh Paus Pope Francis melalui ensiklik Laudato Si’, yang mengingatkan bahwa kepedulian terhadap lingkungan bukan sekadar aktivitas sosial, melainkan bagian dari panggilan iman. Semangat tersebut sejalan dengan Arah Dasar Keuskupan Agung Semarang untuk menjadi Gereja yang Bahagia, Menginspirasi, dan Mensejahterakan.
Menurut Kianto, Gereja yang bahagia adalah Gereja yang menghadirkan sukacita. Gereja yang menginspirasi adalah Gereja yang memberi teladan, sementara Gereja yang mensejahterakan adalah Gereja yang menghadirkan manfaat bagi manusia dan alam ciptaan.
Dalam konteks ini, Wanita Katolik Republik Indonesia (WKRI) memiliki peran yang sangat penting. Sebagai organisasi perempuan Katolik, WKRI memiliki potensi besar menjadi motor penggerak perubahan yang dimulai dari keluarga, lingkungan dan paroki melalui gerakan WKRI Hijau,” kata Kianto.
WKRI hijau dan paroki hijau
Menuut Kianto, gerakan Paroki Hijau tidak hanya berbicara tentang menanam pohon atau membuat taman gereja. Paroki Hijau adalah komunitas umat yang menjadikan kepedulian terhadap lingkungan sebagai bagian dari kehidupan menggereja. Gerakan ini dimulai dari keluarga-keluarga yang memiliki kesadaran ekologis. Karena itu, WKRI dapat menjadi pelopor lahirnya keluarga-keluarga hijau yang kemudian membentuk paroki yang hijau.
Contoh nyata yang dapat dilakukan dalam kegiatan WKRI maupun paroki antara lain menggunakan gelas, piring, dan sendok yang dapat dipakai ulang saat pertemuan, mengurangi air minum kemasan sekali pakai, membiasakan peserta membawa tumbler sendiri, menyajikan konsumsi secara prasmanan untuk mengurangi sampah kemasan dan sisa makanan, menyediakan tempat sampah terpilah, mengadakan pelatihan kompos, eco-enzyme atau pemanfaatan pekarangan dan menanam tanaman buah, tanaman obat, dan tanaman peneduh di lingkungan gereja.
Kegiatan sederhana ini menunjukkan bahwa kepedulian lingkungan dapat dimulai dari hal-hal yang dekat dengan kehidupan umat.

Sementara Gereja yang bahagia adalah Gereja yang dipenuhi rasa syukur dan mampu menikmati hidup secara sederhana. Banyak keluarga merasa lebih tenang ketika berhasil mengurangi pengeluaran yang tidak perlu dan lebih fokus pada kebersamaan. Menanam sayuran di pekarangan, makan bersama keluarga, atau bekerja bakti membersihkan lingkungan merupakan kegiatan sederhana yang menghadirkan sukacita dan mempererat relasi.
Kebahagiaan yang lahir dari rasa cukup dan rasa syukur akan membantu keluarga terhindar dari tekanan gaya hidup konsumti,” kata Kianto.
Mengenai gereja yang menginspirasi, menurut Kianto, inspirasi lahir dari teladan. Anak-anak lebih mudah belajar dari apa yang mereka lihat daripada apa yang mereka dengar. Ketika mereka melihat orangtua membawa tas belanja sendiri, memilah sampah, menghemat listrik atau merawat tanaman, mereka belajar bahwa menjaga lingkungan adalah bagian dari kehidupan sehari-hari.
Demikian pula di paroki. Ketika anggota WKRI menjadi teladan hidup sederhana dan ramah lingkungan, umat lain akan lebih mudah mengikuti. “Inspirasi yang berasal dari tindakan nyata jauh lebih kuat daripada ceramah yang panjang,” kata Kianto.
Mewujudkan Gereja yang mensejahterakan
Menurut Kianto, kerusakan lingkungan pada akhirnya berdampak pada kesejahteraan manusia. Sampah yang menyumbat saluran air menyebabkan banjir. Lingkungan yang kotor menimbulkan penyakit. Pemborosan energi meningkatkan biaya hidup keluarga. Sebaliknya, lingkungan yang bersih dan sehat akan meningkatkan kualitas hidup masyarakat.
Contohnya, pengolahan sampah organik menjadi kompos dapat mengurangi volume sampah sekaligus menghasilkan pupuk. Pekarangan yang ditanami cabai, tomat atau sayuran dapat membantu kebutuhan dapur keluarga. Penghematan listrik dan air dapat mengurangi pengeluaran rumah tangga. Dengan demikian, menjaga lingkungan juga berarti meningkatkan kesejahteraan keluarga dan masyarakat.
Gerakan 5B WKRI hijau
Agar mudah diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, anggota WKRI dapat menghidupi Gerakan 5B WKRI Hijau. Pertama, bersyukur yakni mensyukuri setiap berkat Tuhan dan menggunakan ciptaan secara bijaksana. Sebagai contoh, mnghabiskan makanan yang sudah diambil, tidak membuang makanan yang masih layak konsumsi, menggunakan barang hingga benar-benar tidak layak pakai, mengajarkan anak dan cucu menghargai makanan, air dan energi serta membiasakan doa syukur atas berkat Tuhan setiap hari.
Kedua, berhemat yakni menggunakan energi, air, waktu dan sumber daya secara bijaksana. Sebagai contoh, mematikan lampu saat meninggalkan ruangan, mengatur suhu AC pada 24–26°C, mencabut charger yang tidak digunakan, memanfaatkan cahaya matahari pada siang hari, menggunakan air bekas cucian beras untuk menyiram tanaman dan berangkat bersama saat menghadiri kegiatan paroki atau WKRI.
Ketiga, belanja bijak yakni membedakan kebutuhan dan keinginan serta memilih produk yang bertanggung jawab. Contoh nyata adalah membuat daftar belanja sebelum ke pasar, membawa tas belanja sendiri, membeli produk lokal dan hasil usaha masyarakat sekitar, menghindari pembelian impulsif karena diskon, memilih produk yang tahan lama dan dapat diperbaiki serta mengurangi penggunaan barang sekali pakai.
Keempat, berbagi yakni membangun solidaritas dengan sesama dan alam ciptaan. Sebagai contoh, menyumbangkan pakaian yang masih layak pakai, membagikan bibit tanaman kepada tetangga, mengunjungi anggota yang sakit atau lanjut usia, mengumpulkan minyak jelantah untuk didaur ulang dan hasilnya digunakan untuk kegiatan sosial, membantu keluarga yang mengalami kesulitan ekonomi dan mengadakan bazar atau kegiatan sosial berbasis kepedulian lingkungan.
Kelima, bertanggung Jawab yakni menjadi penjaga ciptaan Tuhan melalui tindakan nyata. Contoh nyata adalah memilah sampah organik dan anorganik, membuat kompos dari sisa dapur, membawa tumbler dan kotak makan sendiri, mengurangi penggunaan plastik sekali pakai, menanam pohon atau tanaman pangan di rumah, mengikuti kerja bakti lingkungan serta mendukung dan terlibat dalam program Paroki Hijau.
Baca juga:
- Talkshow Tuntas Sampah di Dapur, WKRI Dipanggil untuk Menjadi Agen Perubahan
- Bank Sampah Go Green Cupuwatu Berhasil Mengolah 787 Kg Sampah Plastik jadi 699 Liter BBM
- Bank Sampah Go Green Cupuwatu Mengolah Sampah Plastik Menjadi BBM
Untuk mewujudkan WKRI hijau, menurut Kianto, salah satu langkah nyata yang segera dapat dilakukan adalah mengubah dapur anda menjadi dapur WKRI hijau yakkni dari penghasil sampah menjadi penghasil berkah.
Caranya, menurut Kianto ,pertama, merencanakan menu dan belanja secukupnya. Banyak sampah dapur berasal dari bahan makanan yang busuk karena tidak terpakai. Contoh: membuat menu mingguan sebelum berbelanja, membeli sayuran sesuai kebutuhan keluarga, mengutamakan prinsip “habiskan yang ada sebelum membeli yang baru” dan menyimpan bahan makanan dengan benar agar lebih awet. Manfaatnya adalah untuk mengurangi sampah makanan dan menghemat pengeluaran keluarga.
Kedua, membawa wadah sendiri saat belanja sebab sebagian besar sampah berasal dari kemasan plastik. Sebagai contoh, membawa tas belanja kain, mmbawa wadah sendiri saat membeli daging, ikan, atau makanan siap saji dan membawa kantong jaring untuk sayur dan buah. Dampaknya adalah mengurangi puluhan hingga ratusan kantong plastik setiap tahun.
Ketiga, mengolah sisa makanan menjadi menu baru. Banyak makanan yang dibuang padahal masih layak dikonsumsi. Sebagai, contoh nasi sisa menjadi nasi goreng atau nasi bakar, roti sisa menjadi puding roti, sayur sisa menjadi isian pastel atau bakwan dan pisang terlalu matang menjadi bolu pisang. “Dalam budaya Jawa dikenal prinsip ora mubazir atau tidak menyia-nyiakan makanan,” kata Kianto.
Keempat, memanfaatkan seluruh bagian bahan pangan. Bagian yang biasanya dibuang sering masih bisa dimanfaatkan. Sebagai contoh, kulit wortel dan batang seledri untuk kaldu sayur, daun lobak atau daun wortel untuk tumisan, kulit jeruk untuk pengharum ruangan alami dan air cucian beras untuk menyiram tanaman.

Kelima, membuat kompos dari sampah organik. Sekitar 50–60% sampah rumah tangga berupa sampah organik. Dengan metode biokomposter, losida, bioprot, cascing, maggot, ekoenzym dan ciowash-biokatlit-promic. Yang dapat dijadikan kompos adalah kulit buah, daun sayur, ampas kopi, ampas teh dan sisa tanaman. Hasilnya adalah pupuk gratis untuk tanaman pekarangan.
Keenam, mengurangi produk sekali pakai. Ganti wadah styrofoam dengan kotak makan pakai ulang, tisu dapur dengan lap kain, sedotan plastik dengan sedotan stainless dan botol air sekali pakai diganti dengan tumbler. Sebagai contoh, setiap anggota KRI membawa tumbler saat rapat.
Ketujuh, mengolah minyak jelantah. Menurut Kianto, minyak bekas sering dibuang ke saluran air dan mencemari lingkungan. Karena itu, harus dikumpulkan untuk bank jelantah, dijual ke pengolah biodiesel atau diolah menjadi sabun oleh kelompok pemberdayaan masyarakat. Bahkan beberapa komunitas memperoleh dana sosial dari pengumpulan minyak jelantah.
Kedelapan, menanam bumbu dapur sendiri. Tidak perlu membeli sedikit-sedikit dalam kemasan plastik. Contoh: cabai, daun bawang, kemangi, serai, jahe, kunyit dan lengkuas. “Selain mengurangi sampah, juga menghemat pengeluaran,” kata Kianto.
Kesembilan, menggunakan sistem isi ulang (Refill). Sebagai contoh, sabun cuci piring, sabun cuci pakaian dan bumbu dapur tertentu. Dengan sistem isi ulang, jumlah kemasan plastik dapat berkurang drastis.
Kesepuluh, menerapkan prinsip “pilah sejak dari dapur”. Menurut Kianto, sediakan tiga wadah sederhana yakni organik (untuk kompos), daur ulang (plastik, kaca, logam, kardus dan residu (yang benar-benar tidak dapat dimanfaatkan). Dengan pemilahan sejak dari dapur, sebagian besar sampah tidak perlu berakhir di tempat pembuangan akhir.
Contoh nyata dapur hijau keluarga WKRI. Bayangkan seorang ibu anggota WKRI berbelanja dengan tas kain, membawa wadah sendiri ke pasar, menanam cabai dan serai di pekarangan, mengolah sisa makanan menjadi menu baru, mengomposkan kulit buah dan sayur, mengumpulkan minyak jelantah untuk kegiatan sosial dan membawa tumbler saat pertemuan WKRI.
“Mungkin ia merasa hanya melakukan hal kecil. Namun jika 100 anggota WKRI melakukan hal yang sama, maka dalam satu tahun mereka dapat mengurangi ribuan kantong plastik, ratusan kilogram sampah makanan, dan menghasilkan pupuk organik yang bermanfaat,” kata Kianto.
Kianto pun berpesan kepada anggota WKRI bahwa dapur bukan hanya tempat memasak makanan bagi keluarga, tetapi juga tempat membangun budaya hidup sederhana, ramah lingkungan, dan penuh kasih terhadap ciptaan Tuhan. Paroki Hijau dimulai dari dapur yang bijaksana.
Menurut Kianto, WKRI hijau bukan sekadar program lingkungan hidup namun sebuah gerakan pertobatan ekologis yang mengajak perempuan Katolik menjadi agen perubahan dalam keluarga, masyarakat, dan Gereja.
Ketika perempuan Katolik berkumpul untuk belajar, berdoa, berbagi pengalaman dan melakukan aksi nyata, maka pertemuan itu akan menghasilkan dampak yang jauh lebih besar daripada sekadar pertemuan biasa. Dari tangan-tangan para perempuan lahir keluarga yang lebih kuat, lingkungan yang lebih bersih, paroki yang lebih hidup, dan masyarakat yang lebih sejahtera.
“Sebagaimana falsafah Jawa Hamemayu Hayuning Bawana, manusia dipanggil untuk menjaga dan memperindah dunia. Dalam terang Laudato Si’, panggilan itu diwujudkan melalui tindakan-tindakan sederhana yang dilakukan setiap hari dengan penuh kasih dan tanggung jawab,” kata Kianto.
Ia mengatakan bahwa ketika perempuan Katolik bergerak, keluarga berubah. Ketika keluarga berubah, paroki bertumbuh. Ketika paroki bertumbuh, Gereja sungguh menjadi Gereja yang bahagia, menginspirasi dan mensejahterakan.
Kianto pun membuat motto WKRI hijau yakni mulai dari rumah, menghijaukan Paroki, menginspirasi sesama dan mensejahterakan bumi bersama. (phj)
There is no ads to display, Please add some