SMAN 1 Kasihan dan Mimpi Membangun Generasi Tanpa Sampah

beritabernas.com – Pada Senin pagi, 22 Juni 2026 itu, suasana sejuk menyambut ketika memasuki kawasan SMAN 1 Kasihan, Bantul. Pepohonan rindang menaungi halaman sekolah, taman tertata rapi, dan hampir tidak terlihat sampah berserakan di berbagai sudut. Tempat sampah terpilah berdiri di beberapa titik, menunjukkan bahwa kepedulian lingkungan telah menjadi bagian dari budaya sekolah.

Sekolah yang pernah meraih predikat Sekolah Sehat Tingkat Nasional ini kini tengah mempersiapkan diri menuju penilaian Sekolah Adiwiyata Provinsi dan Nasional 2026. Dengan luas lahan sekitar 9.813 meter persegi dan jumlah siswa sekitar 860 orang, tantangan terbesar SMAN 1 Kasihan bukan hanya menciptakan lingkungan hijau, tetapi membangun kesadaran bersama agar seluruh warga sekolah memiliki kepedulian terhadap lingkungan.

Kepala SMAN 1 Kasihan Sutrisno mengatakan perjalanan menuju sekolah berbudaya lingkungan membutuhkan proses panjang. Tantangan utama bukan pada fasilitas, melainkan membangun komitmen seluruh warga sekolah.

Kampus SMA Negeri Kasihan 1 Bantul. Foto: Yustinus Ade

“Awalnya ada anggapan bahwa Adiwiyata membutuhkan biaya besar dan menjadi beban tambahan sekolah. Padahal yang paling penting adalah kemauan untuk membangun budaya peduli lingkungan,” ujar Sutrisno.

Sekolah kemudian membangun kesamaan visi melalui sosialisasi, pembentukan Tim Adiwiyata, serta melibatkan guru, karyawan, siswa, komite sekolah, dan orangtua. “Visi kami adalah membentuk insan yang berkarakter, berprestasi, berbasis budaya Jawa, dan peduli lingkungan,” kata Sutrisno.

Menurut Sutrisno, Adiwiyata bukan hanya tentang penghargaan, tetapi bagaimana kepedulian terhadap lingkungan menjadi kebiasaan sehari-hari. “Kalau budaya peduli lingkungan tumbuh di sekolah, dampaknya akan terbawa ke rumah dan masyarakat,” katanya.

Mengubah cara pandang terhadap sampah

Perubahan budaya lingkungan juga dirasakan Reno Sari, petugas kebersihan sekolah yang telah bekerja hampir delapan tahun. Bersama lima petugas lainnya, Reno bertanggung jawab menjaga kebersihan kelas, halaman, koridor, kamar mandi, dan berbagai fasilitas sekolah.

Namun kini tugasnya tidak hanya membersihkan lingkungan, tetapi juga menjadi bagian dari sistem pengelolaan sampah sekolah. Melalui pelatihan dan pendampingan, Reno belajar memilah sampah berdasarkan jenisnya serta memahami bahwa sebagian sampah masih memiliki nilai ekonomi.

Kepala SMAN 1 Kasihan Sutrisno. Foto: Yustinus Ade

“Setelah ada pelatihan, kami lebih paham cara memilah sampah. Yang masih bisa dimanfaatkan atau dijual kami pisahkan untuk bank sampah,” ujarnya.

Menurut Reno, sampah yang paling banyak berasal dari aktivitas siswa, seperti botol plastik, gelas kemasan, dan sampah anorganik lainnya. “Sekarang lingkungan jauh lebih bersih karena sampah tidak lagi bercampur. Sampah yang masih bernilai bisa dipisahkan dan dikelola,” katanya.

Pendampingan pengelolaan sampah dilakukan bersama Persada, lembaga yang bergerak dalam pengelolaan sampah dan ekonomi sirkular Widiandayani, Direktur PT Persada (mitra lingkungan PT Unilver), menjelaskan bahwa langkah awal pendampingan adalah membangun kesadaran warga sekolah.

“Yang pertama kami lakukan adalah membangun kesadaran. Setelah itu baru pembentukan bank sampah, pelatihan pengomposan, dan pendampingan pengelolaan sampah,” jelasnya.

Menurut Widi, perubahan perilaku menjadi faktor utama keberhasilan program lingkungan.
“Yang kami bangun bukan hanya sistem pengelolaan sampah, tetapi juga kebiasaan. Keberhasilan sekolah peduli lingkungan bergantung pada perubahan perilaku seluruh warga sekolah,” katanya.

Berdasarkan data pengelolaan sampah sekolah, rata-rata sampah yang terkumpul mencapai sekitar 220,78 kilogram per bulan. Sampah anorganik seperti botol plastik dan kemasan dipilah untuk masuk ke jalur daur ulang sehingga tidak langsung berakhir di tempat pembuangan akhir.

Dari kaget menjadi peduli

Budaya lingkungan yang dibangun sekolah juga membawa perubahan bagi siswa. Michael, siswa kelas XI-4, mengaku mengalami perubahan besar sejak masuk SMAN 1 Kasihan. “Saat pertama pindah ke sini saya mengalami culture shock. Di sekolah lama belum ada program lingkungan seperti Adiwiyata,” ujarnya.

Baca juga:

Melalui kader-kader Adiwiyata dan berbagai kegiatan lingkungan, Michael mulai memahami pentingnya menjaga lingkungan. “Saya belajar bahwa sampah adalah tanggung jawab masing-masing. Dulu sampah masih dicampur, tetapi di sini harus dipilah sejak dari sumbernya,” katanya.

Ia juga mulai memahami bahwa merawat tanaman bukan hanya tugas petugas sekolah, melainkan tanggung jawab seluruh warga sekolah. “Sekarang saya sadar bahwa lingkungan adalah tanggung jawab bersama,” tambahnya.

Hal serupa dirasakan Josephine Modestina Semara, siswa kelas XI-7. Menurut Josephine, lingkungan sekolah yang hijau membuat suasana belajar lebih nyaman.

Ia mengaku kegiatan membuat pot tanaman menjadi pengalaman yang mengubah kebiasaannya. “Dari kegiatan itu saya jadi lebih rajin merawat tanaman. Kebiasaan itu juga saya lakukan di rumah,” kata Josephine serya berharap SMAN 1 Kasihan semakin hijau, bersih dan mampu menjadi sekolah yang bebas dari sampah.

Bagi SMAN 1 Kasihan, keberhasilan Adiwiyata bukan hanya tentang predikat, tetapi tentang membangun karakter ekologis generasi muda. Menjelang pulang sekolah, siswa melakukan kebiasaan rutin membersihkan kelas, merapikan lingkungan, memilah sampah, dan merawat tanaman.

Keindahan taman SMAN 1 Kasihan, Bantul. Foto: Yustinus Ade

Dari kebiasaan sederhana itu, mimpi sekolah tanpa sampah mulai diwujudkan. Bukan melalui program besar semata, tetapi melalui perubahan perilaku setiap warga sekolah.

Saat meninggalkan sekolah itu, suasana tetap terasa teduh. Daun-daun bergerak perlahan tertiup angin. Bel pulang hampir berbunyi, tetapi aktivitas belum sepenuhnya berhenti. Sesuai budaya yang dibangun sekolah, sekitar 15 menit sebelum pulang para siswa membersihkan ruang kelas dan lingkungan belajar mereka. Sebagian menyapu lantai, merapikan meja dan kursi, sementara beberapa siswa masih terlihat memilah botol plastik dan menyiram tanaman di depan kelas.

Bagi mereka, menjaga lingkungan bukan lagi tugas tambahan atau sekadar kewajiban dalam program Adiwiyata. Ia telah menjadi kebiasaan yang tumbuh dari kesadaran. Dan mungkin, dari kebiasaan-kebiasaan kecil seperti itulah mimpi tentang sekolah tanpa sampah benar-benar dimulai. ((Yustinus Ade, Staf Pusdal LH Jawa)


There is no ads to display, Please add some

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *