beritabernas.com – Prof Ir H Sarwidi, Guru Besar Rekayasa Kegempaan/Kebencanaan UII menilai gempa bumi yang melanda Venezuela dan Jepang bisa menjadi laboratorium alam yang menguji komitmen mitigasi.
Sebab, menurut Prof Sarwidi, bencana alam gempa bumi merupakan sunatullah alam yang tidak bisa dihentikan, namun dampaknya terhadap manusia dan bangunan sepenuhnya ditentukan oleh komitmen mitigasi dan rekayasa kegempaan yang diterapkan.
Baca juga:
- Prof Sarwidi: Gempa Besar Filipina Menjadi Pengingat Penting bagi Kesiapsiagaan Indonesia
- Prof Sarwidi: Gempa Sulawesi Utara jadi Momentum Penguatan Sistem Peringatan Dini dan Mitigasi Nasional
“Hari ini dunia kembali diingatkan lewat dua peristiwa besar yakni Venezuela diguncang fenomena seismic doublet atau gempa beruntun M7,2 disusul M7,5 pada kedalaman dangkal 10 km yang diperkirakan mencapai intensitas guncangan permukaan tanah IX MMI. Kemuian, Iwate, Jepang mengalami gempa M6,9 di kedalaman 15 km yang diperkirakan mencapai intensitas guncangan permukaan tanah VIII MMI,” kata Prof Sarwidi menanggapi peristiwa gempa bumi yang terjadi di dua negara tersebut, Kamis 25 Juni 2026.
Menurut analisa singkat Prof Sarwidi terhadap peristiwa gempa bumi di kedua negara tersebut, pertama, secara kekuatan, keduanya sama-sama mengerikan. Namun efeknya berbanding terbalik. Di Venezuela, bangunan beton dan tembokan non-daktail yang kaku dan rapuh langsung retak parah saat gempa pertama, lalu ambruk total ketika gempa kedua datang hanya 39 detik kemudian. Pola ini identik dengan wilayah yang abai terhadap building code.
Kedua, di Jepang. Menurut Prof Sarwidi, bangunan modern dan rumah masyarakat telah lazim menerapkan konsep tahan gempa, bahkan banyak yang menggunakan teknologi kontrol redaman berupa seismic isolation. Struktur didesain daktil, mampu bergoyang fleksibel meredam energi, bukan melawan guncangan hingga patah.

Ketiga, soal dampak kerusakan akibat gempa bukan hanya soal konstruksi, beton dan besi, tetapi juga soal budaya mitigasi. Di Jepang, sistem peringatan dini terintegrasi dengan masyarakat yang sudah terbiasa simulasi sejak usia dini. Alarm di ponsel langsung direspons dengan tenang, transportasi otomatis berhenti dan warga tahu cara berlindung.
Sementara di Venezuela dan negara-negara di wilayah gempa yang sistem peringatan dini kurang memadai justru dapat memicu kepanikan massal yang sering kali lebih mematikan daripada gempanya sendiri.
“Gempa tidak pernah menjadi mesin pembunuh. Yang mematikan adalah bangunan yang tidak ramah gempa dan masyarakat yang tidak teredukasi. Itulah sebabnya setiap gempa harus kita jadikan laboratorium alam untuk belajar, agar bangsa ini tidak mengulang kesalahan yang sama,” kata Pengarah BNPB RI periode 2009–2025 dan Inovator BARRATAGA (Bangunan Rumah Rakyat Tahan Gempa) ini. (phj)
There is no ads to display, Please add some