beritabernas.com – Asosiasi Perguruan Tinggi Katolik (APTIK) menilai perguruan tinggi memiliki panggilan yang semakin penting. Selain menghasilkan lulusan yang kompeten, perguruan tinggi merupakan ruang pembentukan nurani, pengembangan kebijaksanaan dan pencarian kebenaran.
Kebebasan akademik merupakan prasyarat bagi berkembangnya ilmu pengetahuan sekaligus dasar bagi kehidupan demokrasi yang sehat. Karena itu, dalam rangka menumbuhkembangkan demokrasi, perguruan tinggi dipanggil untuk membangun budaya berpikir kritis yang disertai tanggung jawab moral, mengembangkan dialog yang menghargai perbedaan, memperkuat literasi digital dan membentuk generasi muda yang memiliki integritas, kepedulian sosial dan komitmen terhadap kebaikan bersama.
“Dalam menjalankan tugas tersebut, dunia akademik harus tetap menjaga independensinya dan bebas dari berbagai bentuk tekanan yang dapat melemahkan integritas ilmiah,” tulis Asosiasi Perguruan Tinggi Katolik (APTIK) dalam pernyataan moral yang ditandatangani 28 pimpinan perguruan tinggi Katolik anggota APTIK, tertanggal 29 Juni 2026.
Pernyataan moral itu disampaikan APTIK sebagai bentuk refleksi moral atas kehidupan berbangsa akhir-akhir ini. Selain melihat sejumlah tantangan yang dihadapi bangsa Indonesia, APTIK juga mencermati bahwa kehidupan demokrasi saat ini menghadapi sejumlah tantangan yang memerlukan perhatian bersama.
APTIK memandang ruang kebebasan sipil memerlukan perlindungan yang kuat. Kebebasan berpendapat, kebebasan akademik, kebebasan pers, kebebasan berserikat dan kebebasan berekspresi merupakan pilar demokrasi. Perbedaan pandangan dan kritik yang disampaikan secara bertanggung jawab harus dipandang sebagai partisipasi warga negara dalam membangun kehidupan bersama. Demokrasi bertumbuh ketika setiap orang merasa aman menyampaikan gagasan, kritik, dan aspirasi secara terbuka dan bermartabat.
Selain itu, penyelenggaraan negara harus senantiasa berorientasi pada kepentingan umum. Hubungan antara kekuasaan politik, kekuatan ekonomi, dan berbagai kepentingan sosial perlu dikelola secara transparan, akuntabel, dan adil agar kebijakan publik berpihak pada kesejahteraan seluruh rakyat, terutama kelompok rentan. Karena itu, pengisian jabatan publik harus didasarkan pada kompetensi, integritas, meritokrasi dan rekam jejak, sehingga kepercayaan masyarakat tetap terjaga dan negara tidak dikuasai kepentingan kelompok atau elit tertentu.
Baca juga:
- Prof Hari Purnomo: Perguruan Tinggi Swasta Tidak Lagi Cukup Hanya “Menjual” Akreditasi
- Perguruan Tinggi Punya Peran Kunci dalam Perekonomian dan Perkembangan AI di ASEAN
- Baru 9 Perguruan Tinggi Swasta di LLDikti Wilayah V DIY yang Terakreditasi Unggul
Sementara itu, menurut APTIK, demokrasi memerlukan institusi negara yang kuat, berintegritas, dan saling mengawasi sesuai mandat konstitusional. Keseimbangan antarlembaga negara, independensi penegak hukum, kebebasan pers, masyarakat sipil, dan dunia akademik merupakan dasar tata kelola yang sehat untuk memastikan setiap penggunaan kewenangan tetap akuntabel dan berorientasi pada keadilan.
Penguatan demokrasi menuntut penghormatan yang konsisten terhadap supremasi sipil. Keterlibatan institusi keamanan harus tetap berada dalam koridor konstitusi, profesionalisme, dan akuntabilitas publik. Batas yang jelas antara kewenangan sipil dan militer menjadi prasyarat bagi demokrasi yang sehat dan penghormatan terhadap negara hukum.
Demokrasi juga membutuhkan kepemimpinan yang berintegritas dan berlandaskan kepercayaan publik, yang diwujudkan melalui keteladanan, kejujuran, kerendahan hati, keberanian mendengarkan, dan keberpihakan pada kepentingan bangsa di atas kepentingan pribadi maupun kelompok. Kepemimpinan yang demikian akan memperkuat persatuan dan memulihkan kepercayaan masyarakat.
Sedangkan pembangunan ekonomi harus menghadirkan kehidupan yang lebih bermartabat bagi seluruh rakyat. Di tengah meningkatnya biaya hidup, ketidakpastian pekerjaan, dan kesenjangan sosial, pertumbuhan ekonomi harus berjalan seiring dengan keadilan sosial, perlindungan terhadap kelompok rentan, serta perluasan kesempatan bagi generasi muda.
Di sisi lain, perkembangan teknologi digital dan kecerdasan artifisial membuka peluang besar bagi kemajuan, tetapi juga menghadirkan tantangan etis. Penyebaran disinformasi, manipulasi opini publik, eksploitasi data pribadi, dan polarisasi sosial harus diantisipasi agar teknologi senantiasa digunakan untuk menghormati martabat manusia, melayani kebenaran, ilmu pengetahuan dan memajukan kebaikan bersama.
Untuk itu, APTIK mengajak seluruh perguruan tinggi di Indonesia untuk memperkuat pendidikan demokrasi, etika publik, literasi digital, dan pembentukan karakter sehingga lahir generasi yang mampu memadukan kecerdasan intelektual dengan kematangan moral.
Sebagai bagian dari komunitas akademik, Asosiasi Perguruan Tinggi Katolik (APTIK) memandang bahwa perguruan tinggi tidak hanya bertugas mengembangkan ilmu pengetahuan, tetapi juga menghadirkan refleksi moral bagi kehidupan bangsa. Pendidikan tinggi dipanggil untuk membentuk manusia yang utuh, mengembangkan budaya dialog, memperjuangkan kebenaran, dan memelihara harapan akan Indonesia yang semakin adil, demokratis, dan bermartabat.
Sedangkan sebagai komunitas perguruan tinggi Katolik, APTIK meneguhkan komitmennya untuk terus menghadirkan pendidikan yang membebaskan, ilmu pengetahuan yang berpihak pada martabat manusia, dan pengabdian kepada masyarakat yang memperkuat keadilan, persaudaraan, serta kebaikan bersama.
“Kami percaya bahwa Indonesia akan tetap menjadi rumah bersama yang kokoh apabila seluruh elemen bangsa terus menjaga demokrasi dengan kebijaksanaan, menegakkan keadilan dengan keberanian, dan memelihara harapan dengan semangat persaudaraan,” demikian tulis APTIK.
Pimpinan perguruan tingga yang tergabung dalam Asosiasi Perguruan Tinggi Katolik (APTIK) yang menandatangani pernyataan moral tersebut adalah Johanes Eka Priyatma PhD, Ketua APTIK, Dr G Sri Nurhartanto SH LLM (Rektor UAJY/Koordinator Jaringan Pimpinan Perguruan Tinggi APTIK), Prof. Tri Basuki Joewono PhD (Rektor Unpar Bandung), Albertus Bagus Laksana SJ SS PhD (Rektor USD), Ir Robertus Setiawan Aji Nugroho ST M.CompIT PhD (Rektor Universitas Katolik Soegijapranata Semarang), Prof Dr dr Yuda Turana Sp.S(K). (Rektor Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya Jakarta), Sumi Wijaya SSi PhD Apt (Rektor Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya) dan Dr Otto Gusti Ndegong Madung SVD (Rektor Institut Filsafat dan Teknologi Kreatif Ledalero).
Selain itu, Dr Stefanus Lio SVD S.Fil MA SVD (Rektor Universitas Katolik Widya Mandira Kupang), Dr Wilhelmus Yape Kii S.Pt M.Phil. (Rektor Universitas Katolik Weetebula, Sumba Barat Daya), Dr Agustinus Manfred Habur Lic.Teol (Rektor Universitas Katolik Indonesia Santu Paulus Ruteng), Prof Dr Maidin Gultom SH M.Hum. (Rektor Universitas Katolik Santo Thomas Medan), Dr MY Dedi Haryanto SE MSi (Rektor Universitas Katolik Musi Charitas Palembang), Sr M Felicitas, FSE (Ketua STIKES Santa Elisabeth Medan), Dr Wihalminus Sombolayuk SE MSi (Rektor Universitas Atma Jaya Makassar), Dr Gregorius Hertanto Dwi Wibowo SS MTh MSC (Rektor Universitas Katolik De La Salle Manado), Fransiska Anita ERS Ns M.Kep Sp.Kep.MB PhD (Ketua Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Stella Maris Makassar), Henny Y Pongantung Ns MSN DN.Sc (Ketua STIKes Gunung Maria Tomohon), Dr Hadi Santoso SE MM (Rektor Universitas Widya Dharma Pontianak), Dr Johanes Robini Marianto S.Fil MA OP (Rektor Universitas Katolik Santo Agustinus Hippo Pontianak), Ns Maria Lousiana Suwarno S.Kep M Biomed (Ketua Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Sint Carolus Jakarta), Dr Victor Imanuel Williamson Nalle SH MH (Rektor Universitas Katolik Darma Cendika Surabaya), Yulia Wardani MAN (Ketua STIKes Panti Rapih Yogyakarta), Arief Widya Prasetya M.Kep Ners (Ketua STIKES Katolik St Vincentius A Paulo Surabaya), FX Widiantoro S.Kep MS PhD (Rektor Universitas Santo Borromeus Bandung), Emirensiana Anu Nono OSF MAN (Ketua STIKES St Elisabeth Semarang), Romanus Edy Prabowo SSi MSc PhD (Ketua STIKOM Yos Sudarso Purwokerto) dan Dr Klemens Mere SE MPd MM MH MAP BHK (Rektor Universitas Katolik Widya Karya Malang). (phj)
There is no ads to display, Please add some