beritabernas.com – Komitmen MTsN 3 Bantul dalam membangun budaya literasi terus diperkuat. Setelah aktif mengikuti berbagai kegiatan literasi dan membentuk Tim Literasi Madrasah, kini MTsN 3 Bantul menggandeng tim Pengabdian Pada Masyarakat (PPM) Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) untuk menyelenggarakan workshop Penulisan Best Practice di Laboratorium IPA MTsN 3 Bantul, Jumat 10 Juli 2026.
Workshop diikuti seluruh guru MTsN 3 Bantul dengan pendampingan langsung dari Kepala Madrasah, Surini SPd MPd dan Kepala Tata Usaha Slamet Santoso SM. Sementara tim PPM UNY dipimpin Dr Hartono, M.Hum bersama Dr Mawaidi SS MPd, Anggit Febrianto SH MA dan Fajar Diana Safitri SS MA.
Ketua Tim PPM UNY Dr Hartono, menjelaskan bahwa kegiatan tersebut merupakan bagian dari program pengabdian masyarakat yang bertujuan meningkatkan kompetensi guru dalam mendokumentasikan praktik-praktik terbaik selama menjalankan tugas sebagai pendidik.
Baca juga:
“Kami mengucapkan terima kasih kepada MTsN 3 Bantul yang telah bekerja sama dalam kegiatan ini. Workshop ini tidak berhenti pada penyampaian teori saja, tetapi akan dilanjutkan dengan pendampingan selama satu bulan. Harapannya, seluruh peserta mampu menghasilkan karya tulis best practice yang nantinya dihimpun menjadi sebuah buku,” ujar Hartono.
Menurut Hartono, setiap guru diharapkan mampu menyusun naskah sepanjang lima hingga enam halaman yang mengangkat pengalaman nyata dalam menyelesaikan persoalan pembelajaran maupun pengelolaan pendidikan.
Sementara pada sesi berikutnya, Dr Mawaidi memaparkan perubahan paradigma penulisan karya ilmiah guru seiring hadirnya regulasi terbaru. Ia menjelaskan bahwa sebelumnya penulisan karya tulis lebih berorientasi pada pemenuhan angka kredit untuk kenaikan pangkat sebagaimana diatur dalam Permenpan RB Nomor 16 Tahun 2009. Namun kini, melalui Permenpan RB Nomor 21 Tahun 2024, karya tulis lebih diarahkan sebagai bukti autentik mutu layanan pendidikan.
“Motivasi menulis kini bergeser. Bukan lagi sekadar memenuhi administrasi, tetapi menjadi portofolio kinerja yang menunjukkan kualitas sekolah. Keunggulan sekolah tidak cukup ditampilkan melalui baliho atau slogan, melainkan melalui cerita nyata yang mampu membangun kepercayaan masyarakat,” tegasnya.
Sedangkan Anggit Febrianto mengajak para peserta memahami teknik menyusun best practice yang komunikatif dan mudah dipahami pembaca. Menurutnya, tulisan best practice harus lahir dari pengalaman nyata, bersifat orisinal, berdampak, berkelanjutan, faktual, dan dapat direplikasi oleh pendidik lain.

Ia memperkenalkan kerangka penulisan STAR yang terdiri atas Situasi, Tantangan, Aksi, dan Refleksi.
“Mulailah dengan menjelaskan situasi yang dihadapi, tantangan yang muncul, langkah konkret yang dilakukan, lalu tutup dengan refleksi mengenai dampak serta pelajaran yang diperoleh. Dengan pendekatan STAR, pengalaman akan lebih mudah dipahami sekaligus menginspirasi pembaca,” jelas Anggit.
Selain memperoleh materi, para guru juga akan mendapatkan pendampingan intensif selama satu bulan untuk menyempurnakan naskah hingga siap diterbitkan menjadi buku best practice.
Kepala MTsN 3 Bantul Surini menyampaikan apresiasi kepada tim PPM UNY yang telah memberikan pendampingan kepada para guru. Ia mengungkapkan bahwa workshop tersebut telah lama direncanakan dan akhirnya dapat terlaksana.
“Workshop Penulisan Best Practice ini sangat penting bagi guru. Melalui kegiatan ini, guru tidak hanya belajar menulis, tetapi juga mendokumentasikan berbagai solusi atas persoalan yang mereka hadapi, baik di dalam maupun di luar kelas. Pengalaman tersebut akan menjadi inspirasi sekaligus referensi bagi guru lainnya,” kata Surini.
Melalui kolaborasi dengan UNY, MTsN 3 Bantul berharap budaya menulis di lingkungan madrasah semakin berkembang. Tidak hanya menghasilkan karya yang bernilai akademik, tetapi juga memperkuat publikasi praktik-praktik baik yang telah dilakukan guru dalam meningkatkan mutu pendidikan. (Sutanto)
There is no ads to display, Please add some