beritabernas.com – Gerakan Pemuda Marhaenis (GPM) terus memperkuat konsolidasi organisasi melalui komunikasi dan silaturahmi antar pengurus dari berbagai daerah. Hal ini dilakukan untuk membangun sinergi politik, sosial, budaya dan ekonomi antardaerah.
Hal itu disampaikan Antonius Fokki Ardiyanto S.IP, Sekretaris DPD GPM DIY dan Ketua Bidang Hubungan Antarlembaga DPP Gerakan Pemuda Marhaenis (GPM) dalam pertemuan di Bale Marhaen Pengok, Kota Yogyakarta, Selasa 14 Juli 2026.
Selain dihadiri Antonius Fokki Ardiyanto yang didampingi Edy Susanto selaku Wakil Ketua Bidang Hukum dan HAM DPP GPM, pertemuan tersebut juga dihadiri perwakilan DPC GPM Kabupaten Sintang, Kalimantan Barat Andre dan Iwan Piandri serta perwakilan DPC GPM Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat Tengku Kahar.
Baca juga:
- Kongres XI Gerakan Pemuda Marhaenis jadi Momen Penting untuk Meneguhkan Kembali Ajaran Bung Karno
- Peringatan Hakordia 2025, Momentum Konsolidasi Nasional Melawan Korupsi
Menurut Fokki-sapaan Antonius Fokki Ardiyanto-pertemuan tersebut merupakan ajang silaturahmi sekaligus mempererat komunikasi politik pasca penyelenggaraan Kongres GPM XI di Bali. Kebetulan, rekan-rekan GPM dari Kabupaten Sintang dan Kabupaten Ketapang sedang memiliki agenda di Yogyakarta sehingga momentum tersebut dimanfaatkan untuk berdiskusi mengenai arah gerakan organisasi ke depan.
“Pertemuan ini menunjukkan bahwa semangat persaudaraan antar kader GPM tidak berhenti setelah Kongres. Justru pasca kongres, komunikasi lintas daerah harus semakin diperkuat agar organisasi mampu tumbuh menjadi kekuatan yang memberikan manfaat nyata bagi kaum marhaen,” ujar Fokki.
Dalam diskusi yang berlangsung hangat tersebut, para peserta membahas berbagai isu strategis yang meliputi bidang politik, sosial, budaya, dan ekonomi.
Dari aspek politik, seluruh peserta memiliki harapan yang sama agar GPM semakin besar, solid, dan mampu menghadirkan program-program nyata yang berpihak kepada kepentingan kaum marhaen serta menjadi organisasi kader yang memberikan kontribusi bagi pembangunan bangsa.

Di bidang sosial dan budaya, muncul gagasan untuk memperkuat hubungan antara Yogyakarta dan Kalimantan Barat melalui kegiatan pertukaran budaya. Gagasan ini dinilai sangat memungkinkan mengingat keberadaan Asrama Mahasiswa Kalimantan Barat yang berada di kawasan Kampung Kepuh, Kota Yogyakarta, yang selama ini juga menjadi salah satu wilayah basis aktivitas GPM.
Sementara itu, dari sisi ekonomi, para peserta memetakan berbagai potensi usaha dan sumber daya yang dapat dikembangkan secara bersama sebagai bentuk penguatan ekonomi kader. Sinergi ekonomi antarwilayah diharapkan mampu menjadi fondasi kemandirian organisasi sekaligus menjadi basis gerakan untuk membesarkan GPM, baik di Daerah Istimewa Yogyakarta maupun di Kabupaten Sintang dan Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat.
Antonius Fokki menegaskan bahwa komunikasi lintas daerah seperti ini akan terus diperluas sebagai bagian dari upaya membangun jaringan nasional GPM yang kuat, solid, dan berorientasi pada pemberdayaan masyarakat marhaen.
“Persatuan kader dari berbagai daerah merupakan modal utama organisasi. Dengan memperkuat jejaring politik, sosial, budaya, dan ekonomi, kami optimistis GPM akan semakin mampu menjalankan cita-cita perjuangan Marhaenisme dalam kehidupan masyarakat,” kata Antonius Fokki. (*/phj)
There is no ads to display, Please add some