Kongres XI Gerakan Pemuda Marhaenis jadi Momen Penting untuk Meneguhkan Kembali Ajaran Bung Karno

beritabernas.com – Kongres XI Gerakan Pemuda Marhaenis di Bali menjadi momenpenting untuk meneguhkan kembali ajaran Bung Karno tentang Trisakti, gotong royong, nasionalisme dan keberpihakan kepada wong cilik. Dari Bali, kader-kader Marhaenis berkomitmen melanjutkan perjuangan mewujudkan Indonesia yang berdaulat dalam politik, berdikari dalam ekonomi dan berkepribadian dalam kebudayaan.

Hal itu disampaikan Antonius Fokki Ardiyanto S.IP, Pimpinan Delegasi Gerakan Pemuda Marhaenis DIY pada Kongres XI Gerakan Pemuda Marhaenis Tahun 2026, kepada beritabernas.com, Minggu 7 Juni 2026. Kongres XI Gerakan Pemuda Marhaenis berlangsung di Istana Jimbawarna, Jembrana, Bali pada 4–6 Juni 2026.

Menurut Antonius Fokki yang akrab disapa Fokki, Kongres XI GPM memiliki arti historis karena diselenggarakan bertepatan dengan momentum peringatan 125 tahun kelahiran Bung Karno (1901–2026). Dalam suasana tersebut, seluruh peserta kongres diajak untuk kembali menggali nilai-nilai Marhaenisme sebagai ideologi pembebasan rakyat kecil dari berbagai bentuk penindasan, ketimpangan ekonomi dan dominasi kekuatan yang bertentangan dengan cita-cita kemerdekaan nasional.

Fokki selaku Pimpinan Delegasi Gerakan Pemuda Marhaenis (GPM) DIY mengapresiasi dan bangga atas suksesnya pelaksanaan Kongres XI Gerakan Pemuda Marhaenis. Delegasi DIY berangkat dari Bale Marhaen di Kampung Pengok, Kota Yogyakarta menuju Bali pada 3 Juni 2026. Sebanyak 17 orang utusan dari berbagai kabupaten dan kota di DIY menempuh perjalanan melalui jalur darat sebagai simbol militansi kader dan semangat gotong royong yang selama ini menjadi nafas perjuangan kaum Marhaenis.

Antonius Fokki Ardiyanto S.IP. Foto: Dok pribadi

Menurut Antonius Fokki Ardiyanto, keberangkatan bersama tersebut bukan sekadar perjalanan menghadiri kongres organisasi, melainkan bentuk pengabdian kader-kader muda Marhaenis untuk menjaga kesinambungan perjuangan ideologis yang diwariskan oleh Soekarno.

“Kami berangkat dari Bale Marhaen dengan membawa semangat persatuan, gotong royong, dan tekad untuk mengaktualisasikan ajaran Bung Karno di tengah tantangan zaman yang terus berkembang. Kongres ini bukan hanya forum organisasi, tetapi ruang kaderisasi ideologi dan konsolidasi perjuangan rakyat,” tegas Fokki.

Kongres dibuka oleh Yudian Wahyudi, Kepala Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP). Forum tersebut juga mendapat kehormatan dengan hadirnya Natalius Pigai sebagai utusan khusus Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto dan perwakilan dari Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia yang memberikan pengantar dan pandangan kebangsaan kepada peserta kongres.

Selama tiga hari pelaksanaan kongres, muncul berbagai dinamika organisasi, dialektika pemikiran dan perumusan arah perjuangan Gerakan Pemuda Marhaenis untuk periode mendatang. Semangat musyawarah yang menjadi ciri gerakan nasionalis kerakyatan terus dikedepankan sehingga menghasilkan keputusan-keputusan strategis bagi masa depan organisasi.

Delegasi DIY juga memiliki peran penting dalam mewarnai jalannya kongres. Berbagai gagasan yang dibawa oleh kontingen DIY mendapatkan ruang dalam pembahasan-pembahasan strategis organisasi, terutama terkait penguatan kelembagaan dan konsolidasi kaderisasi nasional.

Baca juga:

Melalui mekanisme kongres yang demokratis dan penuh semangat persaudaraan, akhirnya terpilih susunan kepemimpinan nasional Gerakan Pemuda Marhaenis yang terdiri dari:
Ketua Umum : Arya Weda Karna
Sekretaris Jenderal : Putra Naibaho
Ketua Dewan Pertimbangan : Ristiyanto
Ketua Dewan Pembina : Heri Satmoko
Ketua Dewan Penasehat : Toto Suryawan Sukarno

Dalam kongres tersebut, Antonius Fokki Ardiyanto dipercaya dan terpilih sebagai Ketua Komisi Organisasi, yang membahas penyempurnaan Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART), mekanisme pemilihan Ketua Umum dan pengaturan struktur Dewan Pimpinan Pusat Gerakan Pemuda Marhaenis.

Kepercayaan tersebut menunjukkan kontribusi nyata kader-kader Marhaenis DIY dalam menjaga kualitas demokrasi organisasi dan memperkuat fondasi kelembagaan GPM ke depan. Menurut Fokki, terpilihnya kepengurusan baru tidak dapat dilepaskan dari kontribusi seluruh delegasi daerah, termasuk peran aktif kontingen DIY yang secara konsisten mendorong terciptanya suasana kongres yang produktif, demokratis, dan berlandaskan semangat persatuan.

“Kami memandang hasil Kongres XI ini sebagai kemenangan seluruh kader Marhaenis Indonesia. Bung Karno mengajarkan bahwa politik harus menjadi alat perjuangan rakyat, bukan alat kepentingan segelintir orang. Karena itu, kepengurusan yang baru harus mampu menjadikan GPM sebagai organisasi kader yang berpihak kepada kaum marhaen, memperjuangkan keadilan sosial, serta menjaga Pancasila sebagai ideologi pemersatu bangsa,” ujar Fokki. (phj)


There is no ads to display, Please add some

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *