Oleh: Yustinus Ade Stirman dan Danang Budi Santoso, Pusdal LH Jawa, KLH
beritabernas.com – Pada Jumat pagi, 11 Juli 2026, matahari belum sepenuhnya meninggi ketika halaman Masjid Al-Muharram di Dusun Brajan, Kabupaten Bantul, mulai dipenuhi warga. Sebagian datang membawa kantong plastik, kardus bekas, botol minuman, kaleng hingga peralatan rumah tangga yang sudah tak terpakai.
Pemandangan ini mungkin terasa ganjil bagi orang yang baru pertama kali datang. Lazimnya, orang membawa sajadah atau Al-Qur’an ketika menuju masjid. Di Brajan, mereka justru datang sambil memanggul sampah.
Tentu, tidak ada yang sedang membuang sampah. Mereka justru sedang bersedekah. Di teras masjid, puluhan relawan memilah satu per satu barang yang dibawa warga. Botol plastik dipisahkan dari kardus, logam dikelompokkan tersendiri, sementara sisa organik diarahkan untuk pakan ternak atau diolah kembali. Tidak ada aroma tempat pembuangan sampah. Tidak ada kesan kumuh. Yang terlihat justru kerja gotong royong yang tertib, diselingi canda dan tawa para relawan.

Di tengah kesibukan itu, seorang pria berkaos putih berjalan santai menyapa warga satu per satu. Wajahnya teduh. Cara bicaranya tenang, tetapi penuh keyakinan. Dialah Ananto Iswaro, peraih Kalpataru 2026 kategori Perintis Lingkungan dari Kementerian Lingkungan Hidup sekaligus penggagas Gerakan Sedekah Sampah berbasis Eko Masjid.
Bersama Yustinus Ade Stirman dan Danang dari Pusat Pengendalian Lingkungan Hidup (Pusdal LH) Jawa, kami berbincang hampir satu jam di serambi Masjid Al-Muharram. Percakapannya berlangsung santai, tetapi isinya serius, persis istilah yang sering digunakan Ananto sendiri, “sersan”: serius tetapi santai.
Semakin lama mendengarkan kisahnya, semakin jelas bahwa yang sedang dibangun Ananto bukan sekadar sistem pengelolaan sampah. Ia sedang mengubah cara manusia memandang sampah. “Saya tidak pernah meminta uang kepada masyarakat. Saya hanya meminta sampahnya,” katanya sambil tersenyum.
Kalimat itu terdengar sederhana. Namun, di baliknya tersimpan perubahan cara berpikir yang radikal. Selama bertahun-tahun masyarakat memandang sampah sebagai barang sisa yang harus dibuang sejauh mungkin dari rumah. Semakin cepat lenyap, semakin baik. Cara pandang itulah yang, menurut Ananto, menjadi akar persoalan. Ketika sesuatu dianggap tidak bernilai, orang tidak lagi merasa memiliki tanggung jawab terhadapnya.
Di Brajan, logika itu dibalik. Sampah bukan lagi limbah yang harus disingkirkan. Sampah adalah sumber manfaat yang masih menyimpan energi sosial, ekonomi, bahkan spiritual. Nilai jualnya memang tidak besar, tetapi ketika dikumpulkan bersama-sama, hasilnya mampu membiayai pendidikan anak yatim, membantu pengobatan warga miskin, menyediakan sembako bagi janda lanjut usia, mengirim air bersih ke daerah kekeringan, hingga mendukung bantuan kemanusiaan untuk Palestina.
Baca juga:
- Mengapa Status Lingkungan Hidup Daerah Penting bagi Pengambilan Kebijakan?
- Bank Sampah Go Green Cupuwatu Berhasil Mengolah 787 Kg Sampah Plastik jadi 699 Liter BBM
- Mesin Pirolisis, Mengolah Sampah Plastik Menjadi Bensin dan Solar
“Sampah itu bukan barang yang habis nilai gunanya. Ia hanya berpindah fungsi. Kalau kita kelola dengan benar, manfaatnya bisa kembali kepada manusia,” ujar Ananto.
Pandangan itulah yang melahirkan istilah Sedekah Sampah-sebuah konsep yang kini dikenal di berbagai daerah di Indonesia.Masjid Al-Muharram sendiri bukan sekadar tempat ibadah.
Bangunan itu menjadi laboratorium sosial tempat berbagai gagasan lingkungan diuji dalam kehidupan sehari-hari. Di siang hari, ruang utama masjid nyaris tidak menggunakan listrik karena memanfaatkan pencahayaan alami. Sirkulasi udara dirancang sedemikian rupa sehingga pendingin ruangan tidak diperlukan. Pepohonan rindang mengelilingi kawasan masjid untuk menjaga suhu tetap sejuk sekaligus menghasilkan oksigen bagi jamaah.
Air hujan ditampung melalui sumur resapan. Air bekas wudu dimanfaatkan kembali. Sampah dipilah. Energi matahari mulai dimanfaatkan melalui panel surya. Anak-anak bermain bebas. Penyandang disabilitas dapat mengakses seluruh area masjid tanpa hambatan.
Semua itu terangkum dalam satu konsep yang disebut Ananto sebagai Tujuh Program Eko Masjid. Baginya, rumah ibadah tidak cukup hanya mengajarkan hubungan manusia dengan Tuhan. Masjid juga harus mengajarkan hubungan manusia dengan sesama dan dengan alam.
Pandangan tersebut lahir dari keyakinannya bahwa menjaga lingkungan bukan sekadar aktivitas sosial, melainkan bagian dari amanah keagamaan. “Kalau kita menghasilkan sampah, maka kita juga bertanggung jawab mengelolanya,” ujarnya.
Kalimat itu berulang beberapa kali sepanjang wawancara. Bukan sebagai slogan melainkan sebagai prinsip hidup.

Perjalanan panjang itu ternyata tidak dimulai dari penghargaan, bukan pula dari dukungan masyarakat. Justru sebaliknya. Semuanya berawal dari kegelisahan seorang pendatang yang hampir memilih meninggalkan kampung tempat ia kini dikenal sebagai penggerak perubahan.
Saat pertama kali menetap di Brajan pada 2005, Ananto melihat lingkungan yang jauh dari bayangannya. Sampah berserakan. Penyakit demam berdarah kerap muncul. Kemiskinan masih membelit banyak keluarga. Anak-anak terancam putus sekolah. Warga datang silih berganti meminta bantuan biaya pendidikan, kesehatan, hingga kebutuhan pokok.
Sebagai pegawai honorer saat itu, ia sadar tidak memiliki kemampuan finansial untuk membantu semuanya. Ia hampir menyerah. Bahkan sempat berniat pindah dari kampung tersebut. Namun, sebuah percakapan sederhana bersama istrinya mengubah seluruh arah hidupnya. “Jika kamu tidak bisa mengubah lingkunganmu, ubahlah dulu cara pandangmu terhadap lingkungan itu.”
Kalimat itulah yang kemudian menjadi titik balik perjalanan Ananto Iswaro-sebuah perjalanan yang kelak mengantarkannya menjadi salah satu tokoh lingkungan paling berpengaruh di Indonesia. (Bersambung)
There is no ads to display, Please add some