beritabernas.com – Ketua PDI Perjuangan DIY Nuryadi SPd mengatakan, peristiwa kekerasan 27 Juli 1996 yang disingkat Kudatuli merupakan titik awal perjuangan untuk menghentikan pemerintahan Orde Baru di bawah Presiden Soeharto. Sebab, sejak peristiwa itu gelombang penolakan terhahap pemerintahan otoriter terus bergelora di seluruh Tanah Air dan puncaknya adalah gerakan reformasi 1998 yang berhasil menumbangkan pemerintahan Orde Baru yan ditandai dengan mundurnya Presiden Soeharto pada 21 Mei 1998.
”Pada tanggal 27 Juli 1996 atau tepatnya 30 tahun yang lalu terjadi ontran-ontran di Indonesia yakni Kudatuli. Pada waktu itu perjuangan kita yang bergabung dalam PDI pimpinan Ibu Megawati Soekarno menginginkan bahwa pemerintahan Orde Baru harus dihentikan, karena sudah banyak penyimpangan di sana-sini. Dan alhamdulillah, perjuangan itu berhasil menumbangkan pemerintahan otoriter lewat gerakan reformasi 1998,” kata Nuryadi yang juga Ketua DPRD DIY dalam acara peringatan 30 tahun peristiwa Kudatuli di halaman Kantor DPD PDI Perjuangan DIY, Minggu 26 Juli 2026 malam.

Peringatan peristiwa Kudatuli diawali dengan kenduri yang diisi pengajian yang diikuti/dihadiri warga sekitar Kantor DPD PDI Perjuangan dan pembagian bingkisan kepada peserta kenduri. Kemudian dilanjutkan dengan doa lintas iman yang disampaikan 5 pemuka agama, pemutaran video peristiwa penyerbuan Kantor DPP PDI di Jalan Diponegoro Jakarta 27 Juli 1996, drama yang menggambarkan perjuangan PDI melawan pemerintahan otoriter dengan cara damai tanpa kekerasan. Acara diakhiri dengan testimoni aktivis mahasiswa 1998 Widihasto Wasana Putra dan mantan wartawan Harian Bernas Philipus Jehamun.
Menurut Nuryadi, apa yang diperjuangkan PDI pimpinan Megawati Soekarnoputri saat itu yakni menghentikan pemerintahan Orde Baru dengan menurunkan Presiden Soeharto mendapat dukungan mayoritas masyarakat. Hal ini tercermin dari lahirnya gerakan reformasi 1998 yang dipelopori mahasiswa dan didukung media massa maupun masyarakat.
Baca juga:
- Peristiwa Kudatuli 1996, Embrio Lahirnya Gerakan Reformasi 1998
- Peringati Kudatuli, Totok Hedi Mengingatkan Kader Soal Tonggak Sejarah PDI Perjuangan
- Ketua DPD PDI Perjuangan DIY: Peringatan Kudatuli untuk Mengumpulkan Balung Pisah
“Apa yang diinginkan PDI pimpinan Megawati saat itu disambut baik oleh masyarakat mayoritas. Sehingga terjadilah peristiwa itu (Kudatuli) yang dilanjutkan dengan gerakan reformasi. Peristiwa Sabtu Kelabu 27 Juli 1998 adalah penyerangan dan perebutan paksa Kantor DPP PDI di Jalan Diponegoro Jakarta oleh orang-orang tak dikenal sehingga terjadi korban jiwa dan luka-luka di sana. Ada yang meninggal, ada yang hilang, ada yang sakit parah,” kata Nuryadi yang ikut merasakan dan mengalami kekerasan pemerintahan Orde Baru saat itu.
Karena itu, menurut Nuryadi, peristiwa itu harus selalu dikenang karena menjadi tonggak sejarah penting lahirnya PDI Perjuangan dan tumbangnya pemerintahan Orde Baru. Dengan peristiwa itu, sejarah Indonesia memasuki babak baru dengan terbukanya keran demokrasi, meski akhir-akhir ini demokrasi kembali meredup setelah 30 tahun sejak reformasi.

Menurut Nuryadi, ada sebagian orang mengaburkan bahkan melupakan peristiwa Kudatuli sebagai awal kebangkitan perjuangan menumbangkan Presiden Soeharto. Karena itu, peringatan peristiwa Kudatuli yang dilakukan serentak oleh PDI Perjuangan di seluruh Indonesia diharapkan dan mengembalikan memori masyarakat akan peristiwa bersejarah bagi PDI Perjuangan maupun bangsa Indonesia itu.
Nuryadi menambahkan, selain menurunkan Presiden Soeharto, tuntutan reformasi saat itu adalah memberantas KKN (Korupsi, Kolusi dan Nepotisme). Namun, apa yang kita perjuangkan dan impikan saat itu yakni memberantas KKN belum bisa menjadi kenyataan. Korupsi, kolusi dan nepotisme hingga kini tidak bisa dibendung, lebih-lebih saat ini. (phj)
There is no ads to display, Please add some