Artefak Inteligen Bisnis Berhasil Dikembangkan untuk Mendukung Pengambilan Keputusan Admisi di Sebuah Universitas

beritabernas.com – Kholid Haryono ST M.Kom, mahasiswa Program Studi Rekayasa Industri, Program Doktor FTI UII, berhasil mengembangkan artefak Inteligen Bisnis (IB) untuk mendukung pengambilan keputusan admisi di sebuah perguruan tinggi swasta (PTS) di Indonesia menggunakan pendekatan Penelitian Desain Tindakan (Action Design Research/ADR), sekaligus memformalkan pembelajaran dari proses pengembangannya menjadi prinsip-prinsip desain yang dapat digunakan oleh institusi pendidikan tinggi lain dengan tantangan serupa.

Setelah berhasil mempertahankan disertasi berjudul Prinsip-prinsip Desain Inteligen Bisnis pada Institusi Pendidikan Tinggi Menggunakan Pendekatan Penelitian Desain Tindakan, Studi Kasus: Pengambilan Keputusan pada Domain Admisi di Institusi Pendidikan Tinggi (IPT) itu, Kholid Haryono berhasil meraih gelar Doktor pada 28 Juli 2027. Ia merupakan lulusan ke-5 Program Studi Rekayasa Industri, Program Doktor FTI UII.

Dalam jumpa pers secara daring dari Kampus FTI UII, Jumat 31 Juli 2026, Kholid Haryono yang didampingi Dr Ir Raden Teduh Dirgahayu ST MSc, Ketua Jurusan Informatika FTI UII, mengatakan, penelitian yang dilakukan menggunakan Teori Rasionalitas Terbatas (Bounded Rationality Theory) dan Teori Salience Pemangku Kepentingan (Stakeholder Salience Theory) untuk memetakan 21 jenis keputusan admisi dan 4 model pengambilan keputusan (heuristik, kolaboratif, analitis dan intuitif) yang digunakan pemangku kepentingan dalam praktik sehari-hari.

Menurut Kholid Haryono, Artefak IB dikembangkan dan diujicobakan secara nyata melalui 4 iterasi (Alpha, Beta, Gamma, Delta), dievaluasi dengan pengujian fungsional, Importance-Performance Analysis, System Usability Scale, dan wawancara evaluatif bersama pimpinan universitas, kepala bidang admisi dan ketua program studi. Pada iterasi akhir, seluruh 31 fitur artefak dinilai berada pada kondisi penerimaan pengguna paling ideal, dengan skor kebergunaan sistem (usability) sebesar 84,4 dari skala 100 atau tergolong “sangat baik”.

Dr Ir Raden Teduh Dirgahayu ST MSc, Ketua Jurusan Informatika FTI UII, saat mendampingi Kholid Haryono dalam jumpa pers secara daring. Foto: Jerri Irgo

Dari proses pengembangan dan refleksi tersebut, menurut Kholid Haryono, penelitian ini menghasilkan 12 prinsip desain dalam pengembangan IB (Design Principles/DP-1 hingga DP-12) yang mencakup aspek kepercayaan data, arsitektur informasi berbasis keputusan, tata kelola kebijakan yang dapat ditelusuri, visualisasi yang bermakna bagi pengguna, hingga mekanisme evaluasi dan pembelajaran berkelanjutan.

Prinsip-prinsip ini memberikan kontribusi teoretis berupa pengetahuan desain yang bersifat preskriptif, kontribusi metodologis berupa penerapan ADR secara menyeluruh pada konteks admisi perguruan tinggi, serta kontribusi praktis berupa panduan konkret bagi perguruan tinggi lain untuk membangun sistem IB yang mendukung keputusan admisi secara lebih cepat, akurat, dan akuntabel.

Kholid Haryono mengungkapkan beberapaa kebaruan dari penelitian ini yakni pada titik temu tiga ranah kontribusi sekaligus, yang belum pernah digabungkan dalam satu penelitian pada domain admisi perguruan tinggi. Pertama, kebaruan teoretis. Penelitian ini merumuskan dua belas prinsip desain Inteligen Bisnis yang secara khusus dibangun untuk domain admisi perguruan tinggi-bukan sekadar artefak sistem, melainkan pengetahuan desain preskriptif yang menjelaskan bagaimana, mengapa, dan dalam kondisi apa IB admisi seharusnya dirancang, sehingga dapat digunakan kembali oleh institusi lain dengan kelas masalah serupa.

Kedua, kebaruan metodologis. Penelitian ini menjadi salah satu penerapan pertama Penelitian Desain Tindakan (Action Design Research) secara menyeluruh-empat tahap dan tujuh prinsip ADR-untuk mengembangkan Inteligen Bisnis pada domain admisi institusi pendidikan tinggi, menggabungkan kekuatan Design Science Research (rigor dalam membangun artefak) dengan Action Research (relevansi terhadap konteks organisasi nyata), dua pendekatan yang sebelumnya jarang dipadukan secara utuh pada domain ini.

Baca juga:

Ketiga, kebaruan empiris dan praktis. Penelitian ini menghasilkan pemetaan sistematis dua puluh jenis keputusan admisi beserta empat model pengambilan keputusan dominan berdasarkan tingkat keterbatasan informasi dan kognitif pengambil keputusan, sekaligus artefak IB nyata yang telah diimplementasikan, diintervensikan, dan diuji langsung pada organisasi selama empat iterasi pengembangan-bukan sekadar purwarupa (prototype) yang berhenti di laboratorium.

Kholid Haryono pun menyimpulkan hasil penelitian ini. Pertama, tantangan utama pengambilan keputusan admisi teridentifikasi secara empiris, yaitu keterbatasan akses informasi yang tersebar lintas sistem, keterbatasan kapasitas kognitif pengguna dalam memahami banyak indikator sekaligus, serta tekanan waktu yang melekat pada sifat siklikal proses penerimaan mahasiswa baru.

Kedua, 20 jenis keputusan admisi berhasil dipetakan dan dikelompokkan ke dalam tujuh kelompok keputusan dengan empat model pengambilan keputusan dominan, yaitu heuristik, kolaboratif, analitis, dan intuitif, tergantung pada tingkat keterbatasan informasi dan kognitif yang dihadapi setiap pengambil keputusan.

Kholid Haryono saat memaparkan hasil penelitiannya dalam jumpa pers secara daring, Jumat 31 Juli 2026. Foto: Jerri Irgo

Ketiga, pendekatan Penelitian Desain Tindakan (ADR) berhasil diterapkan secara menyeluruh melalui empat iterasi pengembangan artefak (Alpha, Beta, Gamma, Delta), menghasilkan dasbor Inteligen Bisnis yang telah teruji secara fungsional, dinilai berguna dan mudah digunakan oleh pengguna, serta mencapai tingkat kebergunaan sistem yang sangat baik pada versi akhir.

Keempat, 12 prinsip desain (DP-1 hingga DP-12) berhasil diformalkan secara lengkap, mencakup pernyataan prinsip, rasional, mekanisme implementasi, kondisi batas, evidensi empiris, keterkaitan dengan artefak, dan potensi generalisasi ke konteks lain, sehingga dapat diadopsi secara bertahap oleh perguruan tinggi lain sesuai tingkat kematangan data dan organisasinya.

Kelima, penelitian ini menegaskan bahwa investasi pada Inteligen Bisnis admisi bukan sekadar investasi teknologi, melainkan investasi pada kualitas proses pengambilan keputusan institusi-mendorong pergeseran dari keputusan yang mengandalkan intuisi menuju keputusan yang didukung data yang tepercaya, relevan, dan mudah ditafsirkan.

“Karena penelitian dilakukan pada satu institusi, generalisasi prinsip desain ini bersifat analitis dan bersyarat, bukan generalisasi statistik universal. Karena itu, disarankan agar penelitian lanjutan perlu memvalidasi prinsip-prinsip ini secara lintas institusi, mengembangkan kemampuan prediktif (predictive IB) dan melakukan evaluasi jangka panjang (longitudinal) terhadap dampak penggunaan artefak,” kata Kholid Haryono. (*/phj)


There is no ads to display, Please add some

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *