beritabernas.com – Tragedi gempa bumi Kumamoto berkekuatan Magnitudo 7,1 di Jepang baru-baru ini menjadi cerminan telak bahwa upaya mitigasi konvensional tidak lagi memadai dalam menghadapi ancaman tektonik di jaman modern.
Menanggapi ancaman nyata di depan mata ini, Prof Ir H Sarwidi MSCE PhD IP-U ASEAN Eng APEC Eng, Guru Besar dalam Bidang Konstruksi dan Rekayasa Kegempaan UII yang juga Pengarah BNPB RI 2009- 2025 dan Inovator BARRATAGA & SIMUTAGA. Konseptor ACeBS & Pembina MUGESA, menegaskan, bahwa Indonesia harus segera keluar dari jebakan birokrasi linier.
Keselamatan rakyat, menurut Prof Sarwidi, hanya bisa dicapai melalui Strategi Asimetris dan Lompatan Kuantum Pengurangan Risiko Bencana (PRB) yang berakar langsung pada kekuatan masyarakat. Gagasan ini diwujudkan melalui sebuah pendekatan bernama “Model Hilirisasi Cerdas”.
“Hilirisasi cerdas adalah upaya komprehensif untuk mentransfer teknologi struktur tahan gempa dari laboratorium kampus, langsung ke tangan masyarakat di tingkat akar rumput melalui strategi asimetris,” tegas Prof Sarwidi.
Baca juga:
- Prof Sarwidi: Gempa Venezuela dan Jepang jadi Laboratorium Alam yang Menguji Komitmen Mitigasi
- Prof Sarwidi: Gempa Besar Filipina Menjadi Pengingat Penting bagi Kesiapsiagaan Indonesia
- Prof Sarwidi: Gempa Sulawesi Utara jadi Momentum Penguatan Sistem Peringatan Dini dan Mitigasi Nasional
Pendekatan ini ditopang kuat oleh Ekosistem ACeBS (Asesmen Cepat Bangunan Sederhana) yang memungkinkan warga dapat melakukan evaluasi mandiri terhadap kerentanan rumah mereka. Lebih jauh, model ini dilengkapi dengan Pelatihan Mandor Rumah Tahan Gempa untuk memastikan standar konstruksi kerakyatan, seperti BARRATAGA (Bangunan Rumah Rakyat Tahan Gempa) dan model-model bangunan tahan gempa lainnya, dieksekusi oleh para tukang lokal yang terlatih.
“Mengingat korban jiwa terbesar saat gempa diakibatkan oleh runtuhnya bangunan non-engineer di pemukiman padat, melatih mandor lokal adalah langkah krusial untuk memotong rantai birokrasi dan mengunci kualitas struktur di garis terdepan,” kata Prof Sarwidi.
Dikatakan, lompatan kuantum PRB ini juga diperkuat oleh institusionalisasi pengetahuan melalui berbagai macam wahana terjangkau, misalnya Museum Gempa Prof Dr Sarwidi (MUGESA). Museum ini berfungsi sebagai pusat pembelajaran hidup dan laboratorium memori kolektif yang mendidik publik secara visual dan eksperensial mengenai rekayasa kegempaan.
Sinergi edukasi ini kemudian disempurnakan secara masif menggunakan peralatan dan alat-alat peraga sederhana terjangkau, misalnya SIMUTAGA (Simulasi Ketahanan Gempa), inovasi teknologi tepat guna yang telah dikembangkan dan digunakan konsisten selama lebih dari 25 tahun.
Simutaga terbukti telah mendemokratisasi pemahaman struktural secara cepat dan jelas. Melalui kampanye edukatif di media sosial yang masif, Simutaga sukses menjangkau hampir 7,5 juta pemirsa di ruang digital. Masyarakat dari berbagai lapisan kini dapat menyaksikan perbandingan visual yang tajam: bagaimana model bangunan konvensional mudah hancur berbanding terbalik dengan ketangguhan struktur BARRATAGA dan model-model bangunan tahan gempa lainnya di atas meja simulasi SIMUTAGA.
Dengan mengintegrasikan edukasi kultural MUGESA, daya jangkau digital SIMUTAGA, ketangguhan struktur mandor lokal, hingga asesmen mandiri ACeBS, kita dapat memotong rantai kerentanan dari hulu ke hilir. Model hilirisasi cerdas ini adalah wujud nyata ketahanan nasional; mengubah masyarakat dari sekadar objek bantuan yang rapuh menjadi ekosistem mandiri yang tangguh bencana. Gempa tidak datang tidak menunggu kita siap, saatnya membumikan inovasi kerakyatan demi keselamatan pertiwi. (*/phj)
There is no ads to display, Please add some