Pameran Lukisan Rohani, Ruang Perjumpaan Antara Seni dan Spiritualitas

beritabernas.com – Lukisan rohani bukan sekadar goresan kuas di atas kanvas. Bukan pula sekadar kombinasi warna warnai agar tampak indah secara visual. Namun, lebih dari itu. Ia merupakan bentuk ekspresi iman dan pengalaman spiritual dari sang pelukis.

Lewat lukisan, sang pelukis mengungkapkan pengalaman rohani, penghayatan iman yang mendalam yang kemudian bisa dinikmati oleh mereka yang melihat karya seni tersebut. Dengan demikian, seperti kata Romo Martinus Joko Lelono Pr, iman tidak hanya diungkapkan melalui kata-kata dan doa, tetapi juga dapat hadir melalui keindahan, salah satunya adalah keindahan lukisan.

Melalui goresan kuas, permainan warna dan ekspresi artistik, pengalaman iman si pelukis diterjemahkan menjadi karya yang mengajak manusia berhenti sejenak, merenung dan menemukan kedalaman makna kehidupan yang warna-warni, seperti warna-warni lukisan rohani.

Semangat itulah yang dihadirkan dalam 177 lukisan rohani yang dipamerkan di Aula Gereja Katolik St Petrus dan Paulus Babadan, Wedomartani, Ngemplak, Sleman selama satu minggu mulai 2 Agustus hingga 9 Agustus 2026.

Pengunjung mengabadikan lukisan rohani yang dipamerkan, Minggu 2 Agustus 2026. Foto: Philipus Jehamun/beritabernas.com

Pameran lukisan rohani yang pertama kali diadakan di lingkungan Keuskupan Agung Semarang yang diselenggarakan oleh Paroki St Petrus dan Paulus Babadan, Sleman ini sebagai bagian dari rangkaian kegiatan Tumbuk Agung 64 Tahun Pemberkatan Gereja St Petrus dan Paulus Babadan tahun 2026.

Pameran lukisan rohani ini, menurut Romo Joko Lelono Pr, menjadi ruang perjumpaan antara seni dan spiritualitas. Melalui karya-karya yang ditampilkan, para seniman mengajak pengunjung untuk melihat kembali pengalaman iman, kisah Kitab Suci, pergulatan manusia dan kehadiran Tuhan dalam kehidupan sehari-hari. Karya seni yang ditampilkan menjadi perjumpaan antara iman dan keindahan.

Pameran lukisan rohani ini juga sebagai momen untuk mengungkapkan iman dan spiritualitas si pelukis lewat karya seni lukis. Para pelukis, baik yang amatir maupun profesional, mewujudkan talenta seni lewat karya lukisan yang indah.

Petrus Agus Herdjaka selaku kurator pameran yang lebih suka disebut komentator pameran lukisan rohani ini memaknai lukisan rohani secara umum dan khusus. Secara umum, lukisan rohani menggambarkan tokoh atau figur dari penggalan kitab suci atau cerita-cerita suci yang dihadirkan dengan kekuatan religiusitas. Artinya, lukisan yang bersifat religius, seperti lukisan Wisnu, lukisan Brahma dan Siwa, lukisan Bunda Maria, Tuhan Yesus dan lukisan-lukisan tokoh-tokoh rohani lainnya.

Baca juga:

Sementara secara khusus, lukisan rohani ada hubungan dengan pelukisnya. Artinya, lukisan rohani sebagai ekspresi dari kehidupan iman yang berhubungan dengan religiusitas maupun spiritualitas pelukis. Dalam hal ini, pelukis memunculkan kehidupan rohaninya dalam bentuk lukisan dengan kekuatan spiritualitasnya. Artinya, yang lebih menonjol adalah kekuatan spiritualitas si pelukis, bukan sifat religiusitasnya.

Menurut Herdjaka, karya lukis bersifat umum tanpa menonjolkan garis denominasi si pelukis sehingga bisa dipamerkan di manapun. Dengan demikian, lukisan rohani tidak harus gambar orang-orang kudus seperti Bunda Maria, Tuhan Yesus, tapi bisa diwujudkan apa saja dengan tema-tema Kristiani dengan latar spiritual pelukis.

Mengutip ​Bapak Seni Rupa Sudjojono yang mendirikan PERSAGI tahun 1937, Herdjaka mengatakan bahwa lukisan memperlihatkan “jiwa ketok”, menjadi jiwa yang ketok atau jiwa yang kelihatan. Jadi, lukisan rohani bermakna memperlihatkan jiwa/rohani sanga pelukis, jiwa yang diperlihatkan lewat karya-karya lukisan. “Maka ketika menerjemahkan lukisan rohani, kita memperlihatkan jiwa kita, roh kita,” kata Herdjaka.

Dengan demikian, lukisan rohani tidak harus gambar Bunda Maria, Tuhan Yesus dan tokoh-tokoh suci lainnya, tapi bisa muncul dengan inspirasi, dengan ekspresi, dengan penghayatan iman yang dijiwai oleh Roh Kudus itu sendiri.

177 lukisan rohani dipamerkan di Aula Gereja Katolik Babadan. Foto: Philipus Jehamun/beritabernas.com

Dalam pameran lukisan rohani kali ini, sejumlah seniman baik yang amatir maupun profesional, baik imam mapun awam, ikut ambil bagian. Dari kalangan imam hadir Rm Antonius Padua Danang Bramasti SJ dari Muntilan, Rm Ignatius Andita Triayanto MSF dari Parakan, Rm Antonius Saptana Hadi Pr dari Babadan, Rm Heribertus Budi Purwantoro dari Ungaran dan Rm Yustinus Slamet Witokaryono Pr dari Sukoharjo.

Sementara dari kalangan umat dan seniman awam, menghadirkan karya IMM Nanik Sri Gunarni dari Solo, Arwan Akik dari Solo, pasangan Ratih dan Susyanto dari Kumetiran serta Alertoes Papiek dari Gunung Sempu/Pugeran. Selain itu, para peserta kegiatan Babadan Melukis 1, 2 dan 3 juga turut mempersembahkan karya mereka.

Dalam penyelenggaraan pameran ini, aspek artistik mendapatkan perhatian khusus dari Antonius Subianto dari Bonum Art, Granting, Jogonalan, Klaten dan Hermanu (Master of Lawasan) pengelola senior Bentara Budaya Yogyakarta yang berperan sebagai konsultan seni sekaligus penata artistik. Mereka membantu menghadirkan konsep visual dan tata ruang pameran agar karya-karya yang ditampilkan dapat dinikmati secara lebih mendalam.

Sementara proses kurasi karya dipercayakan kepada Petrus Agus Herdjaka sebagai kurator pameran. Melalui proses kurasi, setiap karya dipilih dan ditata agar mampu membangun sebuah narasi artistik yang menghubungkan pengalaman seni dengan refleksi iman. Tidak hanya menjadi ruang untuk melihat karya seni, pameran ini juga mengajak pengunjung untuk terlibat secara langsung dalam proses kreatif. (Philipus Jehamun)


There is no ads to display, Please add some

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *