beritabernas.com – Penyimpangan sosial dipengaruhi oleh tiga faktor utama. Ketiga faktor tersebut semakin diperperah oleh lingkungan yang tidak mendukung, seperti konflik rumah tangga dan pengaruh negatif lingkaran pertemanan.
Menurut Dr Raden Ajeng Retno Kumolohadi S.Psi MSi, Dosen Jurusan Psikologi UII, dalam Studium Generale Series #1 bertajuk Tren Perilaku Menyimpang dalam Perspektif Neurosains: Memahami Anomali Publik dan Dampaknya terhadap Kehidupan Bermasyarakat di Gedung Kuliah Umum Prof Dr Sardjito Kampus Terpadu UII, Selasa 11 Agustus 2026, ketiga faktor penyebab pb penyimpangan sosial adalah interaksi neurobiologis, gangguan psikologis dan kondisi lingkungan patologis.

Kerusakan sirkuit saraf neuromoral pada korteks prefrontal dan amigdala, ketidakseimbangan neurokimia otak hingga riwayat gangguan kepribadian sejak dini menjadi pendorong utama tindakan antisosial. Faktor ini kian diperparah oleh lingkungan yang tidak mendukung, seperti konflik rumah tangga dan pengaruh negatif lingkaran pertemanan.
Selain aspek biologis dan psikologis, kata Raden Ajeng Retno Kumolohadi, kurangnya kontrol sosial masyarakat turut memperbesar peluang berulangnya tindakan melanggar norma.
Baca juga:
- Telehealth Terbukti Efektif dalam Meningkatkan Pengetahuan Peserta Bantuan Hidup Dasar
- Demi Kesehatan Mental, Harus Berani Berkata “Tidak”
“Beberapa pelaku deviance tidak merasa bersalah dan menganggap perilakunya normal, sehingga tanpa kecaman publik, pelaku akan terus melanjutkan tindakan tersebut ke jalur yang tidak etis” kata Raden Ajeng Retno Kumolohadi.
Karena itu, penanganan penyimpangan sosial memerlukan pendekatan multidisiplin yang mengintegrasikan intervensi medis, psikologis, dan sosiologis secara berkelanjutan.
Sementara narasumber lainnya, Dr dr Taufiq Frederik Pasiak M.Kes M.Pd.I, Dekan Fakultas Kedokteran UPN “Veteran” Jakarta, mengatakan, perilaku manusia merupakan hasil kombinasi antara faktor internal dan eksternal.

“Konfigurasi tertentu antara individu, keadaan otak, pengalaman, reward, lingkungan dan pengulangan dapat meningkatkan atau menurunkan probabilitas munculnya suatu perilaku,” ujar Taufiq dalam Studium General yang digelar sebagai respon akademik atas maraknya aksi kekerasan, perundungan siber (cyberbullying), hingga penyalahgunaan wewenang di tengah masyarakat.
Taufiq menambahkan bahwa integritas pada dasarnya adalah kapasitas neurobehavioral, kemampuan otak untuk tetap memilih hal yang benar di tengah tekanan, sehingga pembentukan karakter memerlukan pembiasaan pola positif dan perbaikan sistem reward-punishment secara konsisten. (phj)
There is no ads to display, Please add some