Paroki Macanan Gandeng Bakesbangpol Sleman dan Bantul Gelar Sarasehan Kebangsaan

beritabernas.com – Paroki Tyas Dalem Gusti Yesus Macanan melalui Tim Pelayanan Bidang Kemasyarakatan menggelar sarasehan kebangsaan pada Minggu 30 Agustus 2026 di Gereja Paroki Macanan, Dusun Potrojayan, Madurejo, Kapanewon Prambanan, Sleman.

Kegiatan yang diikuti sekitar 100 orang ini merupakan bagian dari program katekese kebangsaan dan peringatan HUT Kemerdekaan RI ke-81. Peserta berasal dari perwakilan umat lingkungan, anggota Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB), Tramtib/Jawatan Keamanan dari 4 Kapanewon/Kecamatan yakni Prambanan Sleman, Piyungan, Berbah dan Prambanan Klaten serta Orang Muda Katolik.

Mengusung tema Mengelola Potensi Konflik Sosial dan Mencegah Aksi Intoleransi Antar Umat Beragama, sarasehan menghadirkan dua narasumber yakni Yulius Suharta, Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Bakesbangpol) Kabupaten Bantul dan Bagus Jalu Anggoro, Kepala Bidang Penanganan Konflik dan Wawasan Kebangsaan Bakesbangpol Kabupaten Sleman.

Peserta sarasehan. Foto: Clementine Roesiani

Dalam sambutannya, Ketua Bidang Kemasyarakatan Paroki Macanan, AKP Ignatius Dwi Daryanto, menyebut tema ini diangkat karena DIY memiliki keberagaman sosial yang tinggi.

“Dengan keberagaman inilah di satu sisi kita syukuri, namun di sisi lain ada potensi-potensi dikarenakan ada perbedaan-perbedaan itu tidak menutup kemungkinan menjadi konflik sosial. Kita masih ingat kerusuhan di Babarsari,” ujarnya.

Ia mencatat, berdasarkan data tahun 2022-2026 terdapat 10 kejadian aksi intoleransi, khususnya permasalahan antar umat beragama, di Yogyakarta. “Kalau ada sedikit pemantik saja berkaitan dengan kejadian intoleransi itu beritanya viral secara nasional,” tambahnya.

Ia juga menyinggung kasus penolakan terhadap Yulius Suharta sebagai Panewu di Kecamatan Pajangan Bantul.

Baca juga:

Senada, Yulius Suharta menegaskan negara dibangun di atas keberagaman. “Kita ada di Yogyakarta yang keberagaman dan toleransinya tolok ukur toleransi di Indonesia sebagai kota budaya, kota pelajar. Kalau terjadi sesuatu di Yogyakarta maka akan menjadi cepat viral,” katanya.

Narasumber Bagus Jalu Anggoro mengapresiasi inisiatif Paroki Macanan. Ia menyoroti dua PR besar di Sleman yakni kejahatan jalanan “klitih” dan ancaman IRET- Intoleransi, Radikalisme, Ekstremisme yang ujungnya Terorisme.

“Kejahatan jalanan kalau kita sikapi secara komprehensif punya potensi menimbulkan bencana sosial. Kita menjadi takut di jalan sendirian malam hari,” jelasnya. Ia menyebut Pemkab Sleman telah menyiapkan strategi The Cheat Code dengan fokus Spawn-kill Prevention dan memutus Supply Chain anak muda ke jalanan pada jam rawan 22.00 – 04.00 WIB.

Lebih lanjut ia mengingatkan pola rekrutmen kelompok radikal kini menyasar Gen Z melalui game online seperti Roblox. “Gereja punya peran penting untuk menyelipkan pesan anti kekerasan, moderasi beragama, dan literasi digital secara konsisten dalam homili, khotbah, dan ceramah rutin,” tegasnya.

Kepala Jawatan Keamanan Kapanewon Prambanan, Mohamad Robani saat memberi sambutan sarasehan. Foto: Clementine Roesiani

“Tidak ada satupun agama yang secara eksklusif menghalalkan atau mengajarkan tindakan kekerasan,” lanjutnya. Ia menutup dengan pesan, “Kemerdekaan diraih dengan darah, keringat, dan air mata. Tugas kita sekarang bukan lagi memanggul senjata, melainkan menenun kembali kerukunan yang mungkin pernah koyak oleh intoleransi.”

Kepala Jawatan Keamanan Kapanewon Prambanan, Mohamad Robani, mengajak masyarakat bijak menyikapi informasi. “Apabila ada informasi apapun yang belum jelas kebenarannya saya mohon untuk disampaikan kepada yang kita tuakan di masyarakat, baik itu RT, RW, FKUB, Tramtib,” ucapnya. Ia juga mengingatkan agar tidak membakar sampah sembarangan karena ada unsur hukumnya.

Sarasehan ini turut dihadiri Romo Paroki Agustinus Tejo Kusumantono Pr dan Romo Agustinus Nunung Wuryantoko Pr. (Clementine Roesiani)


There is no ads to display, Please add some

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *