beritabernas.com – Paroki Tyas Dalem Gusti Yesus Macanan mengadakan kegiatan Misa dan Sapa Lansia pada Minggu, 26 Juli 2026 pukul 08.00 WIB. Kegiatan ini dipimpin oleh Romo Yustinus Joko Wahyu Yuniarto dan diikuti oleh ratusan umat lansia usia 65 tahun ke atas.
Acara ini merupakan hasil kolaborasi PIUL, PIOM, Seksi Liturgi, Tim Pamja, Tim Rumah Tangga, Para Ketua Wilayah, dan Para Ketua Lingkungan.
Dalam homilinya, Romo Yustinus mengajak umat untuk hidup bijaksana dengan tidak melupakan asal-usul. “Kita diajak untuk menjadi orang yang bijaksana. Tuhan Yesus pernah bersabda: ‘Kerajaan Surga itu seperti seorang bapak yang mengeluarkan harta dari rumahnya, ada yang lama dan ada yang baru.’ Bijaksana itu artinya satu: jangan sampai kita lupa dari mana asal kita,” ujar Romo Yustinus.

Ia juga menekankan pentingnya menghormati kakek dan nenek. “Karena itu, kita semua harus tetap ingat kepada kakek dan nenek kita. Anak-anak muda bisa hidup hari ini karena ada roh dari para leluhur yang diwariskan kepada mereka. Kalau seorang cucu melupakan kakek-neneknya, itu sama saja seperti orang hidup tapi jiwanya sudah mati. Tuhan saja tidak pernah melupakan ciptaan-Nya,” lanjutnya.
Sementara Yoseph Cahyono selaku Wakil Ketua Awam menyampaikan rasa syukur karena para lansia masih diberi kesehatan. “Kadang kita tidak sadar sudah masuk lansia. Pendengaran berkurang, rambut memutih, kekuatan tidak seperti dulu lagi. Itu tanda kita masuk usia lanjut. Tapi ini adalah bagian perjalanan hidup dan kita bersyukur masih bisa menikmati masa ini. Rambut boleh memutih, tetapi semangat kita untuk mencintai Tuhan harus semakin dalam,” katanya.
Saat diwawancarai beritabernas.com, Romo Yustinus menyampaikan dua tantangan terbesar dalam mendampingi lansia saat ibadah. “Pertama, kita sering memaksa lansia mengikuti tata gerak yang sama dengan kaum muda. Padahal lansia sudah sulit duduk lama, berdiri, atau berlutut. Kalau lansia mau selonjor ya silakan, kalau sambil berbaring ya dimungkinkan. Jadi bukan kita kesulitan melayani lansia, tetapi kita yang terlalu ingin menyeragamkan,” jelasnya.
Baca juga:
- Paroki Macanan Rayakan HUT ke-6 dengan Aksi Donor Darah, Cek Kesehatan dan Bazar UMKM
- Paroki Macanan Rayakan HUT ke-6 dengan Nuansa Jawa
- Walking Open Laboratory Angkat Praktik Berjalan sebagai Metode Penelitian Seni
“Kedua, sulitnya memastikan lansia bisa hadir. Maka yang harus digerakkan justru kaum muda. Masih lincah, supaya bisa menjemput orang tua. Kalau lansia harus berangkat sendiri, pasti sudah merasa tidak nyaman karena tidak ada yang mengantar,” tambahnya.
Romo Yustinus juga berpesan khusus kepada para lansia. “Jangan memaksa diri kalau tidak mampu berdiri saat sembahyang. Nyamanlah dengan diri sendiri. Jangan malu mengatakan ‘saya tidak bisa berdiri, bantulah saya’.
Selain itu, jangan hanya membanggakan pengalaman masa lalu, tetapi juga mau tahu pengalaman anak muda sekarang. Dulu ada momentum emas, sekarang juga ada. Kalau itu bisa dilakukan, hidup akan lebih nyaman.

Ia juga berpesan agar lansia menjadi teladan bagi anak cucu. “Jadikan diri sebagai alat peraga, sebagai laboratorium bagi anak dan cucu untuk belajar merawat lansia. Supaya kelak mereka tahu apa yang harus dilakukan saat mereka sendiri sudah tua,” ujarnya.
Sie Acara dan Pendampingan Iman Usia Lanjut (PIUL), Margareta Rina Anjarwati mengatakan, kegiatan Sapa Lansia ini menjadi kesempatan untuk saling menyapa, berbagi sukacita, dan mempererat kebersamaan.
“Perayaan ini juga bertepatan dengan Hari Kakek Nenek dan Lansia Sedunia. Ini momen istimewa bagi Gereja untuk memberikan penghormatan, perhatian, dan kasih kepada para lansia yang telah menjadi teladan iman dalam keluarga dan lingkungan,” ungkapnya. (Clementine Roesiani)
There is no ads to display, Please add some