Arsitek Perlu Beradaptasi dengan Transformasi Teknologi Eksponensial

beritabernas.com – Arsitek perlu beradaptasi dengan transformasi teknologi eksponensial seperti Artificial Intelligence (AI), Building Information Modeling (BIM), desain berbasis riset dan ekonomi berbasis platform. Sebab, perubahan teknologi membawa tantangan internal dan eksternal sekaligus peluang.

“Arsitek dituntut memiliki perspektif luas, tidak hanya sebagai perancang, tetapi juga inovator, pebisnis/ entrepreneur dan peneliti yang mampu memberi nilai tambah bagi masyarakat dan lingkungan” kata Ketua Panitia Seminar Karya dan Pameran Arsitektur Indonesia (SAKAPARI) Seri 18 di Auditorium Lantai 3 Gedung Mohammad Natsir FTDI (Fakultas Teknik Desain Inovasi) Kampus Terpadu UII, Jumat 18 September 2026.

Dalam SAKAPARI Seri ke-18 dengan tema The Challenge of Future Architecture Business (Tantangan Bisnis Arsitektur Masa Depan) ini, sebanyak 66 paper yang diterima dari total 102 paper yang diajukan dan sebanyak 6 presentation poster yang diterima dari 11 yang diajukan dan 23 pameran yang diterima.

Ir Hanif Budiman MT PhD IRME, Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan, Keislaman, Kealumnian FTDI UII, mengatakan, arsitektur akhirnya harus membicarakan tentang bisnis karena Rasulullah SAW adalah seorang wirausahawan. Dari tradisi Beliau, kita mendapatkan banyak nilai bahwa berwirausaha, berbisnis akan menghasilkan suatu kepercayaan, suatu network, suatu kolaborasi dan sebagainya.

Ir Hanif Budiman MT PhD IRME, Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan, Keislaman, Kealumnian FTDI UII, saat membuka acara SAKAPARI Seri 18, Jumat 18 September 2026. Foto: Philipus Jehamun/beritabernas.com

Selain itu, ​hakikat arsitektur adalah profesi yang multidisiplin, sehingga dia juga harus mengembangkan cara-cara berpikir yang lebih luas. Dan profesi arsitek otomatis juga mengikuti perkembangan arsitektur itu.

​Mengenai perubahan nama Fakultas Teknik Sipil Perencanaan menjadi Fakultas Teknik Desain Inovasi, Hanif mengatakan bahwa hal itu merupakan suatu keniscayaan yang harus dikembangkan menghadapi masa depan agar cukup relevan ketika kita bicara bisnis. Apa bisnis yang perlu dikembangkan oleh seorang arsitek? Apakah hanya gambar yang estetis?

Menurut Hanif, yang perlu dikembangkan adalah desain-desain yang memberi manfaat jauh lebih luas bagi para seluruh stakeholder. Desain bagi mahasiswa tentu memberikan gambaran kemampuan skill yang lebih luas ke depan. Teamwork, siap menghadapi future technology dan sebagainya. Dan bagi para profesi arsitek, tentu saja desain adalah hal-hal yang jauh lebih luas dari sekadar produk, gambar atau desain itu sendiri sebagai dokumen, tapi juga memberi manfaat dan nilai.

Baca juga:

​Bagaimana menilai suatu desain yang dulu hanya berbasis pada hourly billing system atau manpower billing system, sudah tidak relevan lagi karena kecepatan, kemampuan itu sudah digantikan. Oleh karena itu, nilai-nilai baru, value-based approach, menjadi satu tawaran yang harus dikembangkan dalam kemampuan-kemampuan desain itu sendiri.

Sementara Ar Agus Setiawan ST M.Arch IAI, GP Program Studi Arsitektur FTDI UII mengatakan, SAKAPARI merupakan rangkaian seminar dan pameran yang secara konsisten diselenggarakan untuk membahas berbagai isu aktual dan perkembangan dalam dunia arsitektur, perkotaan, kawasan dan lingkungan.

Pada kesempatan ini, seminar menghadirkan Rafael David, Co-owner dan Principal Aboday Architect; Ismail Yakub, Principal Ismail Yakub & Associates; dan Agus Setiawan, arsitek dan dosen Arsitektur UII sebagai pembicara dengan moderator Aryo Akbar Aldiansyah, Dosen Arsitektur UII.

Menurut Agus Setiwan, tema The Challenge of Future Architecture Business mengangkat persoalan mengenai perubahan dan tantangan yang dihadapi profesi arsitek di tengah perkembangan teknologi, perubahan struktur ekonomi, tuntutan keberlanjutan dan perubahan kebutuhan dan ekspektasi masyarakat.

Rafael David, Co-owner dan Principal Aboday Architect, saat menyampaikan materi dalam SAKAPARI Seri 18, Jumat 18 September 2026. Foto: Philipus Jehamun/ beritabernas.com

Kehadiran teknologi seperti Artificial Intelligence (AI), Building Information Modeling (BIM), fabrikasi digital, desain berbasis data dan perkembangan ekonomi berbasis platform telah membawa perubahan terhadap cara arsitektur dirancang, diproduksi dan disampaikan kepada masyarakat.

“Praktik Arsitek dimasa depan tidak lagi hanya dituntut untuk menghasilkan karya desain yang baik, tetapi juga perlu memiliki kemampuan untuk memahami perkembangan teknologi, membaca perubahan pasar, mengembangkan layanan dan membangun kolaborasi dengan berbagai disiplin dan sektor,” kata Agus Setiawan.

Dalam konteks tersebut, praktik arsitek memiliki peluang untuk berkembang melampaui batas-batas layanan desain konvensional. Arsitek dapat mengambil peran sebagai inovator, wirausahawan, pemikir strategis, maupun fasilitator yang mampu menghubungkan berbagai kepentingan dalam proses pengembangan lingkungan binaan. Hal ini menjadi penting untuk memastikan bahwa profesi arsitek tetap memiliki posisi yang relevan dan mampu memberikan kontribusi bagi kebutuhan masyarakat yang terus berubah. (phj)


There is no ads to display, Please add some

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *