beritabernas.com – UII menandatangani nota kesepahaman atau Memorandum of Understanding (MoU) dengan Cheng Shiu University (CSU) Taiwan dan MUTU Internasional di Ruang Rapat Lantai 2 Gedung Kuliah Umum (GKU) Prof Dr Sardjito Kampus Terpadu UII, Kamis 17 September 2026.
Penandatangan MoU tersebut dilakukan oleh Prof Eko Siswoyo, Wakil Rektor Bidang Riset, Inovasi dan Kewirausahaan UII, Prof Yen-Yi Li (Wakil Presiden Cheng Shiu University Taiwan) dan Arifin Lambaga selaku Direktur MUTU Internasional, disaksidkan oleh Dr Kallilla dan tim (perwakilan dari Kantor Urusan Internasional), Dekan, kepala laboratorium dan para dosen dari Fakultas Teknologi Desain dan Inovasi (FTDI) UII, mitra industri PT MUTU Internasional dan para kolega, peneliti dan tamu undangan lainnya.
Menurut Prof Eko Siswoyo, penandatanganan MoU antara UII dan CSU Taiwan merupakan bentuk komitmen bersama yang kuat untuk pertukaran pengetahuan, inovasi teknologi dan keberlanjutan lingkungan.
Poin utama dari pertemuan hari ini, menurut Prof Eko, adalah dukungan dan kontribusi yang luar biasa dari CSU Taiwan, sebagaimana yang disampaikan Dr Fajri dari Teknik Lingkungan UII, bahwa secara resmi CSU menyerahkan instrumen dan peralatan pengujian canggih untuk analisis dioksin kepada UII.
Menurut Prof Eko, Dioksin merupakan polutan lingkungan yang menimbulkan risiko signifikan bagi kesehatan manusia dan ekosistem di seluruh dunia. Pemantauan dan pengendalian polutan ini membutuhkan teknologi mutakhir dengan presisi tinggi, anggaran yang besar dan kompetensi ahli.
“Kami merasa sangat terhormat bahwa Cheng Shiu University telah mempercayakan peralatan canggih ini kepada UII melalui Laboratorium Kualitas Lingkungan UII. Kepercayaan ini dibangun di atas fondasi yang kokoh: Laboratorium Kualitas Lingkungan kami telah terakreditasi penuh oleh Komite Akreditasi Nasional Indonesia (KAN) di bawah standar internasional ISO/IEC 17025,” kata Prof Eko.

Prof Eko mengatakan bahwa akreditasi ini mencerminkan komitmen UII yang teguh untuk menjaga standar tertinggi kompetensi analitis, akurasi pengujian dan manajemen mutu. Dengan tambahan peralatan uji dioksin yang canggih ini, laboratorium UII akan secara signifikan meningkatkan kapasitas untuk melayani penelitian, kebijakan publik dan pemantauan lingkungan di Indonesia dan sekitarnya.
Dikatakan, untuk mengatasi tantangan lingkungan yang kompleks tidak dapat dicapai oleh universitas saja, tapi membutuhkan sinergi yang kuat antara akademisi, institusi internasional, pemerintah dan industri. Karena itu, UII sangat senang memiliki mitra yang berharga, yakni PT MUTU Internasional, yang juga hadir dalam acara penandatanganan MoU.
“Kehadiran PT MUTU menggarisbawahi pentingnya menghubungkan penelitian akademis dengan aplikasi industri praktis. Kolaborasi tiga pihak ini-UII, CSU dan PT. MUTU-menciptakan ekosistem yang kuat di mana penelitian akademis secara langsung menjawab kebutuhan industri dan standar lingkungan,” kata Prof Eko Siswoyo.
Prof Eko mengatakan, MoU antara UII dan CSU menjadi landasan peluncuran untuk kerja sama yang lebih dalam, lebih luas dan lebih berdampak. Hubungan antara UII dan CSU akan berkembang jauh melampaui transfer peralatan ini dengan kemitraan dinamis yang mencakup 3 hal. Pertama, Pogram Pnelitian Bersama dengan melakukan penelitian kolaboratif berdampak tinggi tentang manajemen lingkungan, pengendalian polusi, dan teknologi berkelanjutan.
Kedua, Pertukaran Akademik dan Mahasiswa yakni memfasilitasi mobilitas bagi dosen, peneliti, dan mahasiswa untuk belajar dari keahlian dan budaya masing-masing; dan ketiga, Peningkatan Kapasitas dan Berbagi Pengetahuan dengan menyelenggarakan seminar bersama, program pelatihan dan lokakarya di bidang-bidang lingkungan khusus.
Baca juga:
- Dorong Kolaborasi Global Ilmu Hayati dan Teknologi Maju, UII Gelar ICOLISAT 2026
- Rektor UII Prof Hari Purnomo: Perguruan Tinggi Hebat Bukan Sekadar Memiliki Akreditasi Tinggi
- UII Menerima 5.326 Mahasiswa Baru Tahun Akademik 2026/2027
“Tujuan bersama utama kita jelas yakni untuk berkontribusi secara berarti bagi keberlanjutan lingkungan, baik di Indonesia maupun secara global. Karena aktivitas manusia terus memberikan tekanan pada lingkungan alam kita, universitas harus memimpin dalam menyediakan solusi berbasis sains, teknologi inovatif, dan wawasan yang dapat ditindaklanjuti untuk melindungi planet kita bagi generasi mendatang,” kata Prof Eko Siswoyo.
Sementara Prof Yen-Yi Li, Wakil Presiden CSU Taiwan, mengatakan, kerja sama ini sudah dirintis sejak akhir tahun 2022, dengan mendirikan JL Center. Melalui lembaga ini, pihaknya berkomitmen untuk mengubah pengetahuan dan keahlian menjadi solusi nyata bagi keberlanjutan lingkungan.
“Jadi hari ini, kita membawa kerja sama ini selangkah lebih maju. Dengan bergabungnya UII, JL Center menjadi sebuah platform yang lebih kuat untuk menghubungkan riset akademik, keahlian teknis dan pengalaman industri,” kata Prof Yen-Yi Li.
Ia pun senang karena penandatangan MoU dapat memperkuat hubungan antara CSU dan UII. “Kami menantikan lebih banyak peluang untuk melakukan riset bersama dan pertukaran dosen atau mahasiswa, atau beberapa pelatihan teknis atau pengembangan laboratorium,” kata Prof Yen-Yi Li.
Prof Yen-Yi Li mengatakan bahwatantangan lingkungan tidak akan berhenti di perbatasan negara, begitu pula kerja sama ilmiah seharusnya tidak berhenti. Bagi CSU, kerja sama internasional yang bermakna bukan sekadar tentang penandatanganan perjanjian. Sebuah perjanjian bukan hanya akhir, namun yang benar-benar penting adalah apa yang dilakukan setelah penandatanganan, seperti yang dikatakan Prof Eko Siswoyo.
“Jadi, saya rangkum kerja sama hari ini dalam tiga kata, yakni kontinuitas, perluasan dan implementasi,” kata Prof Yen-Yi Li seraya menambahkan bahwa bahwa kita melanjutkan kemitraan yang dimulai dua tahun lalu, kemudian memperluasnya hari ini dengan UII dan mulai hari ini hingga ke depan, mencapai tahap implementasi. Kami sangat berharap bahwa perjanjian hari ini akan segera menjadi riset bersama, proyek teknis atau program pelatihan dan implementasi,” kata Prof Yen-Yi Li.

Sementara Arifin Lambaga, Direktur MUTU Internasional, mengapresiasi kerja sama UII dengan CSU Taiwan melalui JL Center. Menurut Arifin, salah satu inisiatif yang sedang berjalan dalam kolaborasi ini adalah kerja sama di bidang layanan pengujian bio-pestisida dan bio-pupuk. Inisiatif ini menjadi fondasi penting untuk semakin memperkuat kapabilitas dan memperluas cakupan layanan pengujian MUT di masa mendatang.
Ia mengatakan, penandatanganan adendum ini menandai tonggak penting dalam memperluas kerangka Joint Center menjadi kolaborasi tripartit antara Center, MUTU dan UII. Melalui kemitraan ini bisa memperkuat kapabilitas analisis dan pengujian laboratorium, termasuk metode analisis, operasional laboratorium, riset bersama dan peningkatan kapasitas teknis melalui pelatihan, transfer pengetahuan, dan dukungan peralatan.
Dengan menggabungkan keahlian teknis tingkat lanjut dari Center, kapabilitas akademik dan laboratorium UII serta pengalaman MUTU dalam bidang sertifikasi, inspeksi, pengujian, kepatuhan regulasi, dan keterlibatan industri, Arifin berharap dapat membangun fondasi yang lebih kuat untuk mengembangkan layanan analisis dan pengujian yang menjawab kebutuhan industri.
“Kami melihat kolaborasi ini sebagai peluang untuk memperluas portofolio layanan kami, mengembangkan peluang bisnis baru di bidang pengujian dan layanan terkait, serta meningkatkan kemampuan kami dalam menyediakan solusi yang lebih komprehensif bagi klien kami, khususnya di Indonesia,” kata Arifin seraya berharap kemitraan ini akan mengubah kekuatan gabungan menjadi proyek-proyek yang konkret, layanan yang berkelanjutan dan manfaat jangka panjang bagi ketiga institusi dan bagi Indonesia. (phj)
There is no ads to display, Please add some