Oleh: Yustinus Ade Stirman, Penyuluh Lingkungan Pusat Pengendalian Lingkungan Hidup (PUSDAL) Jawa
beritabernas.com – Catatan: Tulisan ini merupakan pandangan pribadi penulis dan tidak mewakili kebijakan atau pandangan resmi Pusat Pengendalian Lingkungan Hidup Jawa.
Awan mulai menebal. Aroma tanah basah perlahan muncul dari halaman dan tepian jalan. Musim hujan segera datang. Bagi sebagian orang, hujan adalah kabar yang ditunggu setelah hari-hari panas. Namun bagi warga yang tinggal di kawasan rawan banjir, suara hujan sering membawa kecemasan: apakah sungai kembali meluap, apakah air masuk rumah, dan apakah jalan di depan rumah kembali berubah menjadi genangan?
Setiap kali banjir datang, respons kita hampir selalu serupa. Pompa dinyalakan, saluran dibersihkan, sungai dikeruk, tanggul diperkuat, dan warga dievakuasi. Semua langkah tersebut penting untuk melindungi masyarakat. Namun setelah air surut, perhatian sering bergeser pada persoalan lain, sementara akar masalah banjir belum selalu tertangani secara menyeluruh.
Pertanyaannya sederhana tetapi mendasar: mengapa kita terus sibuk menangani banjir, tetapi banjir tetap berulang?
Banjir sesungguhnya bukan hanya persoalan air yang terlalu banyak. Ia dapat menjadi pesan ekologis tentang perubahan hubungan manusia dengan ruang hidupnya. Ketika daerah resapan berkurang, tutupan lahan berubah, ruang sungai menyempit, lahan basah menghilang, dan limpasan permukaan meningkat, alam sedang menunjukkan konsekuensi dari perubahan tersebut.
Tantangannya, respons terhadap gejala sering kali lebih cepat daripada upaya membaca pesan ekologis di baliknya.
Dari jebakan teknis ke diagnosis ekologis
Bayangkan sebuah kota sebagai pasien. Ketika banjir terjadi, genangan adalah gejalanya. Seorang dokter tidak cukup melihat gejala lalu langsung memberikan obat. Ia memeriksa kondisi pasien, membaca hasil pemeriksaan, mendengarkan keluhan, kemudian mencari penyebab sebelum menentukan terapi.
Begitu pula dengan banjir. Kita membutuhkan “dokter lingkungan” yang mampu membaca gejala sekaligus mendiagnosis penyebabnya: perubahan tutupan lahan, hilangnya daerah resapan, kondisi daerah aliran sungai, perubahan tata ruang, hingga pengaruh perubahan iklim dan penurunan muka tanah.
Baca juga:
- Dari Ozon ke Iklim: Pelajaran dari Keberhasilan Protokol Montreal
- El Niño Tidak Membawa Korek Api
- Ketersediaan Air di Tengah Anomali Iklim: Menakar Daya Tahan Sosial-Ekologis Jawa Barat
Dari diagnosis itulah tindakan ditentukan. Pompa, drainase, tanggul, kolam retensi, sumur resapan, dan infrastruktur pengendali banjir tetap diperlukan. Tetapi teknologi semestinya menjadi bagian dari terapi, bukan satu-satunya cara berpikir. Jika akar persoalannya adalah hilangnya ruang air, pemulihan ruang tersebut harus menjadi bagian dari solusi. Jika sungai kehilangan ruang ekologis, fungsi tersebut perlu dipulihkan.
Karena itu, pengelolaan banjir perlu bergerak dari sekadar memetakan lokasi genangan menuju pemetaan sumber dan penyebabnya. Dari mana limpasan berasal? Kawasan resapan mana yang berubah? Bagaimana tutupan lahan memengaruhi aliran air? Mengapa lokasi tertentu berulang kali tergenang?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut membawa kita pada satu kenyataan: banjir adalah persoalan bentang alam, bukan sekadar persoalan satu wilayah administratif.
Air tidak mengenal batas kabupaten, kota, atau provinsi. Apa yang terjadi di hulu dapat menentukan kondisi di hilir. Karena itu, solusi membutuhkan keterhubungan antara pemerintah pusat dan daerah, wilayah hulu dan hilir, serta berbagai aktor yang memengaruhi ruang.
Pemerintah perlu menyatukan data, menyelaraskan tata ruang, dan membangun intervensi dari hulu hingga hilir. Dunia usaha perlu memperhitungkan dampak ekologis aktivitas dan pengembangan lahannya. Akademisi dan ahli menyediakan kajian serta inovasi berbasis bukti. Masyarakat dan komunitas memiliki pengetahuan lokal sekaligus peran dalam menjaga ruang air.
Yang dibutuhkan bukan sekadar pembagian tugas, melainkan kesepakatan atas tujuan ekologis bersama: menjaga daerah resapan, memulihkan fungsi sungai dan lahan basah, mengurangi limpasan, serta menurunkan risiko dan dampak banjir.
Dari Shallow Work ke Deep Work
Konsep shallow work dan deep work yang diperkenalkan Cal Newport menarik dipinjam sebagai metafora. Shallow work menggambarkan pekerjaan rutin dan responsif, sedangkan deep work membutuhkan konsentrasi untuk memahami persoalan secara lebih mendalam.
Dalam situasi banjir, sebagian respons memang berada pada wilayah shallow work: air datang, pompa dinyalakan; sungai meluap, dikeruk; tanggul terancam, diperkuat. Semua itu penting, terutama dalam keadaan darurat. Tetapi deep work mengharuskan kita bertanya: mengapa kota ini terus mengalami banjir?
Pertanyaan itu membutuhkan data, penelitian, pengamatan lanskap, pengalaman masyarakat, dan koordinasi lintas wilayah. Bahkan ukuran keberhasilannya perlu diperluas. Bukan hanya seberapa cepat air surut, tetapi apakah daerah resapan bertambah, limpasan berkurang, ruang ekologis sungai terjaga, dan kejadian banjir berulang dapat ditekan.
Di sinilah komunikasi lingkungan menjadi strategis. Data ekologis tidak boleh berhenti sebagai angka, peta, atau dokumen teknis. Ia harus diterjemahkan menjadi pengetahuan yang dapat dipahami dan ditindaklanjuti: apa yang terjadi, mengapa terjadi, siapa yang terdampak, apa yang harus dilakukan, dan bagaimana setiap aktor dapat mengambil bagian.
Komunikasi lingkungan bukan sekadar menyampaikan pesan tentang lingkungan kepada manusia. Ia juga merupakan upaya membaca komunikasi alam kepada manusia.
Banjir, kekeringan, longsor, pencemaran, hilangnya mata air, meningkatnya suhu, dan perubahan ekosistem adalah bahasa alam. Tugas kita bukan hanya menjelaskannya, tetapi membaca, menerjemahkan, lalu mengubah pesan tersebut menjadi pengetahuan, kebijakan, dan tindakan bersama.
Kita membutuhkan teknologi untuk menghadapi banjir, tetapi juga kemampuan membaca sebelum bertindak. Kita perlu bekerja cepat ketika air datang, sekaligus bekerja mendalam agar penyebabnya tidak terus berulang.
Sebab, mungkin banjir bukan sekadar air yang datang terlalu banyak. Ia adalah pesan bahwa hubungan manusia dengan alam sedang tidak seimbang. Bukan karena alam tidak memiliki bahasa, melainkan karena kita terlalu lama lupa cara mendengarnya. (*)
There is no ads to display, Please add some