beritabernas.com – Aksi unjuk rasa mahasiswa untuk memperingati Hari Sumpah Pemuda di Bundaran HI Jakarta, pada Rabu 28 Oktober 2026, dikejutkan dengan aksi Pengurus Pusat PMKRI yang mengusung sebuah salib merah berukuran besar.
Aksi PP PMKRI yang mengusung salib merah di tengah kerumunan massa aksi demonstrasi ini menjadi viral. Selain karena baru pertama terjadi, aksi mengusung salib ini menjadi simbol keprihatinan PP PMKRI atas kondisi bangsa saat ini.
Yohanes Tola, Ketua Presidium PP PMKRI periode 2026-2028 mengaku aksi mengusung salib ini merupakan gerakan spiritual dan sosial sebagai bentuk keprihatinan mendalam atas kondisi bangsa yang sedang diuji oleh krisis multidimensi. Krisis ini memicu keresahan mendalam di kalangan masyarakat bawah, terutama akibat himpitan ekonomi yang kian berat, daya beli masyarakat terus merosot tajam, defisit lapangan kerja layak, kemorosotan hukum, korupsi dan oleh berbagi persoalan kemanusiaan dan lingkungan.
Baca juga:
- Terkait Karhutla di Kalimantan, PMKRI Cabang Yogyakarta Sampaikan Pernyataan Sikap Tegas
- PP PMKRI Desak Polri Segera Menyelidiki Temuan Fasilitas Mewah di Lapas Cibinong
- PP PMKRI 2026–2028 Berkomitmen Mengawal Keadilan Sosial dan Menjaga Independensi
Dalam aksi tersebut, para pengurus dan kader PMKRI memikul sebatang kayu salib besar berwarna merah darah. Salib merah dipanggul secara bergantian sebagai simbol perlawanan non-kekerasan (non-violent resistance) sekaligus perlambang pengorbanan, penderitaan dan jeritan air mata rakyat miskin serta kaum tertindas dari pelosok negeri.
Ketua Presidium Pengurus Pusat PMKRI Periode 2026–2028 Yohanes Tola menegaskan bahwa aksi Salib Merah PMKRI ini bukan sekadar teatrikal jalanan, melainkan manifestasi iman dan tanggung jawab moral-intelektual kader Katolik di tengah situasi krisis bangsa.
“Kayu salib ini berat, namun beratnya kayu salib tidak seberapa dibanding beban hidup rakyat kecil hari ini. Ketika hukum bertukar rupa menjadi komoditas dan etika bernegara dilucuti, PMKRI memilih jalan perlawanan non-kekerasan, sebagaimana keteladanan Kristus yang berani memikul penderitaan demi meruntuhkan tembok ketidakadilan,” ujar Yohanes Tola.
Yohanes menambahkan bahwa nilai ajaran sosial Gereja Katolik (Gaudium et Spes) mengamanatkan bahwa duka dan kecemasan masyarakat miskin adalah duka dan kecemasan murid-murid Kristus. Oleh karena itu, PMKRI menolak untuk tinggal diam melihat martabat manusia diinjak-injak atas nama pembangunan yang tidak berkeadilan.

Sementara Presidium Gerakan Kemasyarakatan PP PMKRI Natael Bremana menyoroti keterdesakan moral yang melatarbelakangi aksi Salib Merah ini. Ia juga mengajak seluruh cabang PMKRI di berbagai seantero Nusantara untuk bersama-sama menggemakan nuansa Salip Merah. Menurutnya, simbol Salip Merah PMKRI ini bukan sekadar lambang, melainkan bentuk pengorbanan, cinta kasih, dan ketulusan untuk hadir bagi sesama yang sedang terluka dan membutuhkan uluran tangan.
“Salib Merah ini murni lahir dari ketulusan dan kepedulian sosial. Ini bukanlah gerakan politik partisan, ini adalah bahasa nurani kami sebagai kader PMKRI untuk berjuang dan terlibat pada yang tertindas oleh kebijakan negara,” ungkap Natanael.
Melalui nuansa Salip Merah, PP PMKRI berharap setiap DPC PMKRI di daerah dapat merangkul masyarakat setempat dengan kelembutan dan kesederhanaan. Gerakan ini menjadi pengingat bahwa di atas segalanya, persaudaraan dan kemanusiaan adalah hal terindah yang harus terus dijaga bersama. (phj)
There is no ads to display, Please add some